Selasa 31 Maret 2015, 00:00 WIB

Film Nasional Butuh Dukungan

Puput Mutiara | Humaniora
Film Nasional Butuh Dukungan

ANTARA/Andika Wahyu

 
DALAM rangka memperingati Hari Film Nasional Ke-65, kemarin, Dewan Kreatif Rakyat (DKR) mengeluarkan petisi nasional yang bertajuk Jadikan Film Indonesia Tuan Rumah di Negeri Sendiri.

Petisi itu ditujukan kepada Presiden Joko Widodo.

Permohonan resmi kepada pemerintah tersebut penting dikeluarkan, apalagi film Indonesia semakin kehilangan tempat di bioskop Tanah Air.

Tanggal 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Film Nasional berdasarkan syuting pertama film Darah dan Doa yang disutradarai Usmar Ismail pada 1950.

Menurut Penasihat DKR, Lily Wahid, dewasa ini film Indonesia belum bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Oleh karena itu, pemerintah mempunyai kewajiban terhadap perkembangan dunia perfilman dalam negeri.

"Pemerintah sampai hari ini belum memberikan insentif kepada film Indonesia. Film kita dikenai pajak 10%, tapi untuk film impor hanya dikenai Rp2 juta per kopi," ujarnya dalam peringatan Hari Film Nasional di Jakarta, kemarin.

Lily menambahkan, hampir 70 tahun pemerintah tidak memelihara pertumbuhan film Indonesia hingga mengakibatkan perfilman nasional tidak bisa berkembang dengan baik.

"Seharusnya ada peraturan pemerintah untuk melindungi film nasional. Itu penting agar nasib perfilman Indonesia tidak semakin buruk," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, sutradara Demian Dematra mengatakan film Indonesia kerap dijegal dan dijagal di negara sendiri.

Padahal, kata dia, film bukan sekadar menghasilkan uang bagi negara, melainkan juga bisa menentukan nasib bangsa ke depan.

Janji presiden
Sementara itu, dalam peringatan Hari Film Nasional di Istana Negara, tadi malam, Presiden Jokowi berjanji memberikan insentif untuk perfilman Indonesia agar bisa bangkit dan bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri.

"Saya tidak tahu insentif yang diberikan, bisa berupa insentif pajak atau insentif lainnya," jelas Presiden yang mengaku menyenangi film bergenre komedi.

Dalam kesempatan itu, Presiden juga mengajak masyarakat Indonesia untuk menonton film Indonesia sebelum menonton film dari luar negeri.

Berdasarkan data yang diperoleh, dalam lima tahun terakhir jumlah produksi film nasional memang terus meningkat.

Namun, hal itu berbanding terbalik dengan jumlah penonton.

Pada 2010, misalnya, jumlah film yang diproduksi mencapai 74 buah, dengan jumlah penonton sekitar 17 juta orang.

Akan tetapi, ironisnya ketika jumlah film meningkat hampir dua kali lipat pada 2014, yakni 113 film, jumlah penonton malah turun yakni sekitar 15 juta orang.

Momen Hari Film Nasional seharusnya menjadi kesempatan bagi para pemangku kepentingan di bidang sinema untuk memikirkannya. (Wib/M-6)

Baca Juga

Antara

Laju Vaksinasi Covid-19 di Luar Jawa dan Bali Tergolong Rendah

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Minggu 03 Juli 2022, 23:13 WIB
Pasalnya, ada 11 provinsi di luar Jawa dan Bali yang capaiannya di bawah 50...
ourworldindata.org

Indonesia Catat Tambahan 1.614 Kasus Baru

👤Faustinus Nua 🕔Minggu 03 Juli 2022, 22:30 WIB
KASUS Covid-19 di Indonesia kembali meningkat dalam beberapa hari...
DOK Perbanas Institute

Perbanas Institute Sediakan Rp2,5 Miliar Beasiswa Untuk Mahasiswa Baru

👤Widhoroso 🕔Minggu 03 Juli 2022, 20:15 WIB
PERBANAS Institute Jakarta menyediakan beasiswa senilai Rp2,5 miliar untuk calon mahasiswa baru tahun...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya