Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
REKRUTMEN guru honor di Kota Depok, khususnya di SDN Tugu 10 Kelurahan Tugu Kecamaan Cimanggis dinilai tidak profesional. Pasalnya, guru lulusan jurusan humaniora bisa dipekerjakan mengajar Bahasa Inggris. Demikian diutarakan Devid Oktanto, kuasa hukum dari 13 Murid SDN Tugu 10, korban sodomi guru Bahasa Inggris tersebut WR, 24.
“WR itu kan lulusan humaniora tapi mengapa mengajar bahasa Inggris. Kenapa juga diangkat wali kelas sedangkan dia tenaga honorer. Ini tidak fair. Penerimaan guru honorer di SDN Tugu 10, proses pekrutannya tidak fair dan sarat kepentingan pribadi, karena sepenuhnya menjadi kewenangan kepala sekolah dan Dinas Pendidikan, “ kata Devid saat ditemui di Mapolres Kota Depok di Jalan Margonda, Kelurahan Depok, Pancoran Mas, Senin (11/6).
Devid dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) datang ke Polres Kota Depok untuk mengunjungi tersangka WR yang saat ini telah meringkuk di balik jeruji besi Polres Kota Depok. “ Kedatangan kami untuk bertemu tersangka pelaku pedofil, “ ujarnya.
Setelah menemui pelaku pedofil di tahanan Polres, tim kuasa hukum dan KPAI akan mendatangi sekolah korban di Kompleks Taman Duta, Kelurahan Tugu, karena masih ada sejumlah informasi yang masih perlu dikumpulkan dan ditelisik lebih lanjut.
"Tindak lanjutnya lebih ke sekolahannya, karena informasi awal yang kami terima bahwa guru ini bukan guru kompeten karena, dia bukan lulusan Bahasa Inggris tapi kenapa ngajar bahasa inggris. Lalu informasi awal juga dia ini wali kelas, sedangkan statusnya guru honorer," paparnya.
Devid menegaskan hingga saat ini pihaknya masih mengumpulkan bahan keterangan (pulbaket) , pasalnya proses pelengkapan berkas BAP kepolisian masih dilakukan. "Barang bukti masih kita kumpulkan, biarkan nanti, ini masih pelengkapan BAP dari orang tua korban, sampai saat ini masih empat orang dari 13 korban yang melapor," tutur Devid.
Di tempat yang sama, Ketua KPAI Susanto mengatakan langkah jangka pendek dan panjang telah dikoordinasikannya dengan pihak kepolisian, stakeholder Pemerintah Kota Depok "Untuk jangka pendek sesegera mungkin memastikan rehabilitasi korban, disepakati ada beberapa psikolog dari P2TP2A Koya Depok dan Fakultas psikolog UI dalam bentuk pengabdian masyarakat," ungkap Susanto di Mapolres Kota Depok, Senin (11/6)
Susanto menuturkan, pihaknya juga memastikan akan mengidentifikasi terkait adanya korban lainnya. "Kalau tidak khawatir tidak teridentifikasi dan tak terehab dan akhirnya berdampak buruk di kemudian hari. Baik dampak personal maupun yang lainnya," tuturnya.
Selanjutnya, untuk jangka panjang KPAI akan segera membahas dengan Walikota Depok mengenai rekruitmen pengajar.
"Sesegera mungkin kita bahas dengan wali kota follow up jangka panjang terutama soal rekruitment guru, harus ketat baik honorer dan PNS ini penting karena kalau misalkan ada ruang celah proses rekruitment bisa menjadi masalah baru dikemudian hari kami harapkan ini kasus pertama dan terakhir jangan ada kasus lain," tandasnya.
Terkait kurangnya pendeteksian dini dari Dinas Pendidikan Kota Depok dan Kepala sekolah hingga akhirnya terjadi kasus pencabulan tersebut, Susanto menegaskan Kepala sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Depok seharusnya sudah mengetahui kasus tersebut sejak awal.
"Deteksi dini ini harus benar-benar ada dan dipastikan oleh manajemen sekolah kepala sekolah harus memiliki pendeteksian diri ini," ungkapnya. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved