Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
KEKURANGAN gizi kronis (stunting) tidak hanya akibat rendahnya kemampuan ekonomi masyarakat. Kondisi ini terjadi juga akibat minimnya pengetahuan warga khususnya orangtua akan pola hidup yang baik dalam mengasuh anak.
Menurut Wakil Rektor Universitas Padjajaran Bidang Riset, Pengabdian Masyarakat, Kerja Sama, dan Inovasi, Keri Lestari, munculnya stunting terjadi akibat ketidaktahuan masyarakat akan pola asuh anak yang baik.
"Kata siapa stunting terjadi pada masyarakat yang ekonominya kurang? Ekonomi bagus juga bisa. Yang ekonominya bagus, tapi belum tentu ngerti," katanya di Bandung, Rabu (4/4).
Keri menjelaskan, Unpad memiliki SDG's Center yang di dalamnya mengkaji fenomen stunting di masyarakat khususnya Jawa Barat. Berdasarkan hasil kajiannya itu, kasus gizi buruk kronis terjadi juga akibat ketidaktahuan orangtua dalam mengasuh anak khususnya menyangkut pemberian makanan dan minuman.
Secara tidak disadari, banyak orangtua yang kemampuan ekonominya baik telah memberi makanan dan minuman yang salah sehingga mengancam kesehatan anaknya. "Banyak jajanan-jajanan yang di dalamnya dipakai pemanis buatan, yang enggak boleh (dikonsumsi) buat anak di bawah 5 tahun. Tapi karena orangtuanya enggak ngerti, dikasih saja," katanya.
Padahal, lanjut dia, untuk membeli makanan yang tidak cocok tersebut, orangtua harus merogoh kocek yang tidak sedikit. "Coba kalau dia ngerti, uangnya itu digunakan untuk bikin makanan sendiri di rumah. Selesai, anaknya enggak akan kena (stunting)," katanya seraya menyebut banyak orang tua tidak sadar akan pola pemberian gizi yang baik meski berbagai informasi mudah diterima.
Oleh karena itu, menurutnya, perlu pendampingan kepada masyarakat agar mampu memberi asupan gizi yang baik untuk anak-anak. "Jadi problemnya, berdasarkan yang kita lihat, yang pertama itu soal pendampingan," katanya.
Dia mengkritisi cara sebagian besar pemerintah dalam menangani kasus gizi buruk. "Selama ini yang kami lihat, penanganan gizi buruk masih pemberian makanan tambahan di posyandu, tapi bukan pendampingan. Jadi hanya di situ saja," paparnya.
Sehingga, menurutnya perlu cara kreatif agar mampu mengubah pola pikir dan kultur masyarakat dalam memberi asupan gizi. "Jadi pemerintah bukan memberi gizi ke balita. Tapi dampingi masyarakat agar mengubah pola pikir dan kultur, agar mau memberi makanan bergizi," katanya.
Lebih lanjut dia katakan, Unpad melalui SDG's Center telah melakukan itu meski jangkauannya masih terbatas. "Masih di Jawa Barat, Maluku, dan terakhir Lampung," katanya.
Pola kuliah kerja nyata (KKN) yang dijalani mahasiswa Unpad harus mengimplementasikan pencapaian target SDG's yang di dalamnya terdapat soal perbaikan gizi masyarakat. "Bahkan kita juga memberi mata kuliahnya (SDG's) dalam tahun pertama kuliah, MKDU," katanya.
Dengan begitu, dia berharap mahasiswa yang merupakan calon-calon pemimpin di masa depan mampu mengimplementasikan SDG's dalam pola pikir dan kehidupan sehari-harinya.
"Juga dalam pola riset dan pola pengabdian ke masyarakat. Sehingga tidak hanya keilmuan bersifat teoritis, tapi kita berusaha untuk menghilirisasi ke dalam riset," katanya. (X-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved