Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
BERBAGAI gejolak dan hiruk pikuk festival kehidupan itu, jika dilihat dari perspektif waktu, sesungguhnya hanya sepotong kecil dari drama hidup manusia dalam rentangan sejarah.
Manusia hidup di dalam waktu karena waktu itu abstrak dan kita tak mampu mengukur panjangnya, kapan waktu bermula dan kapan berakhir, maka manusia menciptakan sekat-sekat, seakan waktu dipenggal-penggal menjadi potongan yang terukur.
Seperti kita membuat rumah dan bilik-bilik kecil dalam rentangan waktu agar merasa lebih nyaman. Bukankah kita senang membuat kamar-kamar ketika membangun rumah besar agar merasa lebih nyaman dan merasakan privasi?
Kita menciptakan batas dan perhitungan dari detik, menit, jam, dan hari. Selama satu hari atau 24 jam, kita susun agenda dan batas-batas untuk penanda perjalanan hidup yang tak kenal berhenti, agar kita tahu sampai di mana kita melangkah, dan apa saja yang kita jalani.
Akumulasi tujuh hari lalu disebut seminggu, dan sebanyak empat minggu kita namakan sebulan. Lalu kita namakan setahun ketika mencapai 12 bulan. Seakan waktu yang abstrak tadi menjelma bagaikan penggalan-penggalan bahan baku lalu kita bangun halte, tenda, atau rumah tempat bernaung dan beraktivitas di dalam lorong waktu.
Waktu mengurung kita semua, yang penuh misteri dan tak terjangkau asal-usul dan ujung-pangkalnya. Kita semua lahir, beraktivitas, dan mati dalam pelukan waktu. Kita sering heboh menciptakan festival tanda setiap penggalan waktu untuk menandai tahun baru.
Tonggak-tonggak penanda waktu yang mendorong manusia berkreasi untuk merayakan masa lalu dan menjemput masa depan agar lebih optimis. Agar peta dan arah perjalanan hidup lebih tergambar, diciptakan penggalan-penggalan agak panjang, seperti sewindu, satu dasawarsa, seabad.
Ada lagi batasan yang agak longgar seperti era, zaman, masa, yang semuanya mengundang imajinasi terkait dengan peristiwa-peristiwa natural dan kultural.
Ada nasihat klasik, yang paling penting itu hiduplah sekarang dan di sini, now and here. Buatlah penggalan waktumu ibarat sawah, lalu sebarkanlah biji tanaman sebanyak-banyaknya agar lingkunganmu menjadi rindang dan mendatangkan buah.
Manusia tidak menciptakan waktu, tetapi terlempar di dalam ruang dan waktu. Yang dituntut ialah bagaimana membuat penggalan waktu dan bilik ruangmu bermakna bagi dirimu dan lingkunganmu. Makanya, jangan hanyut dengan hiruk pikuk festival.
Festival itu bisa sarat dengan makna dan pesan kehidupan Ilahi yang bersifat transenden dan menghibur. Akan tetapi, festival juga bisa tak lebih sebagai gemuruh dalam sekat-sekat waktu tanpa visi dan makna.
Untuk memotong kejenuhan akibat rutinitas hidup lalu diganti dengan hiburan sesaat.
Pada setiap event dan pergantian tahun, tanyakan pada dirimu, investasi kebajikan apa yang aku tanamkan selama ini? Apa maknanya bagi anak-cucuku dan bagi rakyat serta bangsaku?
Pertanyaan ini sangat relevan direnungkan para politikus dan pejabat tinggi negara yang senang menciptakan momen-momen dan festival politik, terutama momen lima tahunan untuk memilih wakil rakyat dan presiden serta wakilnya.
Peringatan Alquran sangat tajam dan rasional tentang penggunaan waktu ini. Lafii khusrin, sungguh manusia selalu dibuntuti kerugian akan kehilangan modal waktu, yang sekali berlalu tak akan kembali lagi dan tidak bisa ditemukan lagi.
Maka segera isi ketika waktu datang menemuimu dengan iman dan amal kebajikan. Jika tidak, kamu akan bangkrut, merugi.
Namun, karena kita sering kali lupa dan memandang murah akan waktu, manusia diperintahkan untuk saling memperingatkan dan saling mengajak melakukan investasi kebenaran.
Lagi-lagi, betapa beratnya bersikap konsisten beramal saleh dan selalu menegakkan kebenaran, maka kita diingatkan untuk bersikap sabar, committed, dan konsisten. Jadi, memasuki Tahun Baru 2018, mari pasang niat serta tekad untuk meningkatkan kualitas diri, kualitas berbangsa, dan kualitas demokrasi kita.
Sudah cukup lama kita menyia-nyiakan kesempatan untuk memajukan negeri, ribut terus oleh hal-hal remeh-temeh yang merusak persaudaraan, memperlemah kehidupan bernegara, dan sebagian bahkan harus membayarnya masuk penjara.
Indonesia ini rumah kita bersama, tempat anak cucu lahir dan tumbuh guna meneruskan estafet cita-cita kemerdekaan, mencerdaskan dan menyejahterakan rakyat serta berpartisipasi membangun perdamaian dunia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved