Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
DI era perkembangan teknologi gadget yang semakin deras dengan kualitas dan modifikasi gambar yang baik membuat selfie atau swafoto menjadi populer dan mendunia. Apalagi, timbul keinginan untuk eksis bersama kerabat dan teman di berbagai media sosial. Fenomena swafoto harus disikapi dengan bijaksana dan profesional.
Menurut praktisi kesehatan klinis dan Ketua Indonesian Society of Digestive Endoscopy Ari F Syam, mengambil foto diri secara mandiri dan membagikan melalui media sosial sudah merupakan budaya masyarakat zaman now. Tujuannya beragam dan dianggap sebagai upaya pengembangan psikososial.
"Kegiatan selfie sudah mendunia dalam lima tahun terakhir dan semakin meningkat drastis dalam dua tahun terakhir. Semakin banyak pelakunya semakin banyak laporan kecelakaan yang berhubungan dengan pengambilan selfie," ucap Ari Syam dalam keterangan tertulisnya, kemarin.
Berdasarkan riset Nottingham Trent University, ada enam motivasi seseorang melakukan swafoto, yaitu meningkatkan kepercayaan diri dan menjadi berbahagia, mencari perhatian, meningkatkan mood, berhubungan dengan lingkungan sekitar, meningkatkan adaptasi mereka dengan kelompok sosial di sekitar mereka, serta berkompetisi secara sosial.
Untuk itu, ujar dia, di satu sisi swafoto membawa dampak positif untuk mental seseorang. Namun, jika swafoto dilakukan secara berlebihan sehingga menjadi obsesif dapat dikelompokkan pada gangguan kesehatan yang disebut selfitis.
Swafoto jika tidak dilakukan secara hati-hati bisa membuat celaka bagi pelakunya. Berbagai penelitian dan laporan menyampaikan bahwa terjadi kecelakaan yang membuat pelaku mengalami luka-luka, bahkan sampai menyebabkan kematian.
Misalnya, ada yang jatuh pada satu ketinggian, diserang hewan liar, sengatan listrik, trauma pada kegiatan olahraga karena kurang konsentrasi kondisi sekitar, dan kecelakaan lalu lintas baik saat sebagai pengendara maupun saat sebagai pejalan kaki.
Bicara tentang penyakit selfitis, berdasarkan sejumlah kajian, dapat dibagi menjadi tiga, yaitu boderline (mengambil gambar swafoto sebanyak tiga kali dalam sehari tetapi tidak diunggah ke sosial media), akut (mengambil foto selfie sebanyak tiga kali dalam sehari dan mengunggahnya seluruh fotonya ke sosial media), serta kronis (jika keinginan membuat foto selfie tidak terkendali dan mengunggah ke sosial media lebih dari enam kali per hari). (Ant/S-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved