Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Kemasan Styrofoam Ternyata Aman

19/12/2017 12:45
Kemasan Styrofoam Ternyata Aman
(MI/PANCA SYURKANI)

KEMASAN makanan dari polistirena atau dikenal sebagai styrofoam secara sainstifik ternyata aman, murah, dan ramah lingkungan.

Wadah-makanan organik tersebut dibentuk dari karbon, oksigen, dan hidrogen.

Komposisi plastik di dalamnya hanya 5-10 %, selebihnya adalah udara.

"Selama ini dipersepsi secara salah oleh masyarakat, karena styrofoam mengandung monomer styrene. Namun, menurut Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) batas maksimum penggunaan styrene 5.000 ppm. Sementara hasil observasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menunjukkan, maksimum styrene yang terkandung dalam kemasan makanan di styrofoam hanya 43 ppm. Jadi sangat aman sebagai wadah makanan," ujar Ir Akhmad Zainal Abidin PhD dari Lembaga Afiliasi Perguruan Tinggi dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI-ITB), saat dihubungi kemarin.

Pendapat dosen ITB tersebut terkait dengan roadshow mengenai Pengenalan polistirena untuk mahasiswa di kampus Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, akhir November lalu.

Dalam kuliah umumnya tersebut, Zainal mengatakan ada persepsi yang salah tentang styrofoam.

Dan itu membuat banyak kalangan menginginkan kemasan tersebut diganti dengan kandungan kertas atau jagung.

Padahal,lanjutnya, pembuatan produk dari polistirena busa mengonsumsi energi 50% lebih hemat jika dibanding-kan kemasan berbahan kertas yang dilapisi lilin dan 30% lebih hemat energi jika dibandingkan pembungkus makanan dari PLA (berbahan mentah jagung).

Lebih lanjut, Zainal mengatakan, sampah styrofoam juga bisa didaur ulang.

Ia mengubah sampah tersebut menjadi produk kimia (senyawa PI) yang sangat berguna untuk menghilangkan sulfur dari BBM, seperti solar.

"Saya juga mengubah senyawa monomer styrene dalam styrofoam menjadi bahan baku styrofoam sendiri. Atau menjadi panel beton ringan yg berguna untuk pembuatan rumah dan bangunan bertingkat," ujarnya.

Intinya, lanjut Zainal, styrofoam dapat didaur ulang secara maksimal dengan konsep 5R.

Yakni reduced, reused, recycled, recovery dan research. Di situlah letak sustainability dari polistirena.

"Namun masalahnya, di Indonesia belum ada teknologi dan usaha yang terintegritas untuk mendaur ulang sampah polistirena," pungkasnya.

Batas maksimum penggunaan styrene ialah 5.000 ppm.

Sementara hasil observasi Badan POM menunjukkan, maksimum styrene yang terkandung dalam kemasan makanan di styrofoam hanya 43 ppm. (Ros/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya