Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Reaktor Biomassa Dibangun Di Lampung

Putri Rosmalia Octaviyani
14/12/2017 13:38
Reaktor Biomassa Dibangun Di Lampung
(Ilustrasi)

PILOT Project Fasilitas Penyediaan Energi Biomassa untuk Masyarakat, dalam bentuk Reaktor Biomassa, secara resmi dirilis untuk digunakan di Kampung Jatidatar Mataram, Kecamatan Bandar Mataram, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung. Reaktor biomassa dibangun untuk menunjang program ketahanan energi nasional melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Direktur Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3, Sinta Saptarina Soemiarno, menyampaikan, selain untuk mengurangi timbulan sampah, hal itu diperlukan untuk memberi nilai tambah bagi masyarakat sebagai sumber energi. Reaktor Biomassa tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat yang optimal. Baik bagi lingkungan, produksi pangan dan energi, serta segi finansial.

Dari sisi lingkungan, teknologi reaktor tersebut dapat mengurangi limbah padat, dan membentuk methane capture. Sehingga gas yang terbentuk saat proses tidak terdispersi langsung ke udara dan tidak menyebabkan pemanasan global.

“Dua reaktor biomassa yang diresmikan merupakan hasil kerja sama dengan Universitas Lampung dan berbagai pihak, berkapasitas masing-masing 10 ton/batch. Energi yang dihasilkan dari dua reaktor tersebut yaitu sekitar 154 m3/hari, atau setara dengan 61,6 kg gas elpiji, dan dapat digunakan oleh 20 kepala keluarga," ujar Sinta.

Indonesia menargetkan pengembangan EBT sebesar 23% pada Bauran Energi Nasional tahun 2025. Biomassa adalah jenis energi terbarukan yang mengacu pada bahan biologis, yang berasal dari organisme yang hidup atau belum lama mati. Potensi biomassa sangat besar di Indonesia, diperkirakan sebanyak 49.810 MW, yang berasal dari tanaman dan limbah. Salah satunya adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) yang merupakan limbah padat terbesar industri kelapa sawit yaitu sekitar 27,6% hingga 32,5% selama proses.

Salah satu pemanfaatan TKKS adalah dengan menjadikannya sebagai media jamur konsumsi, namun limbah TKKS sisa media jamur sulit didegradasi. Teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi limbah tersebut adalah dengan proses pengomposan anaerobic. Pengomposan anaerobik akan menghasilkan gas metan (CH4), karbondioksida (CO2) dan asam organik. Gas metan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif (biogas).

Tahun 2018, sebanyak 6 (enam) fasilitas serupa akan dikembangkan di Indonesia. Keenamnya akan ditempatkan di wilayah Sumatra Utara, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Barat.

Sementara itu, Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK mengatakan, berdasarkan informasi yang dirilis British Petroleum diketahui, konsumsi energi tumbuh sebesar 5,7% pada tahun 2015 dan 5,9% pada tahun 2016. Dalam kajiannya, British Petroleum juga menyebutkan data konsumsi energi Indonesia tahun 2016, adalah sebesar 41% untuk minyak bumi, batubara 36%, gas 19%, dan sisanya sebesar 4% merupakan kosumsi energi dari tenaga air dan energi terbarukan.

“Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi energi utama di Indonesia masih didominasi oleh sumber daya alam dan hasil ekstraktifnya, sedangkan kita ketahui bersama jumlah cadangan sumber daya alam di Indonesia terus mengalami penurunan," ujar Vivien. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya