Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Menggapai Asa dari Manfaat Program Kesejahteraan Pekerja

Soelistijono
24/11/2017 12:56
Menggapai Asa dari Manfaat Program Kesejahteraan Pekerja
(ANTARA)

PANGGIL saja Budi, 56, seorang karyawan swasta pada perusahaan yang bergerak di bidang pemberitaan. Baru dua minggu lalu, bapak dua anak ini menjalani masa-masa pensiun setelah 21 tahun bekerja di perusahaannya yang berlokasi di Kedoya, Jakarta Barat.

Jangan bayangkan dia memeroleh pesangon seperti ada di perusahaan minyak. Namun sebagai karyawan biasa Budi tetap bersyukur dengan sejumlah pesangon yang dia terima dari perusahaannya itu. "Saya mensyukurinya. Alhamdulillah," ujarnya singkat.

Yang membuat Budi lebih sumringah, dia mengisahkan, pada saat dipanggil pihak SDM perusahaannya, dua minggu sebelum efektif masa pensiunnya berlaku.

Di situ dia menyadari betapa dua program kesejahteraan yang diinisiasi oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan yang dia ikuti melalui perusahaan tempat dia bekerja akan sangat bermanfaat. Program yang dimaksud ialah program wajib dan program pensiun.

Budi pun mengisahkan pengalamannya yang merasakan dua kali manfaat mengikuti program Jamsostek (BPJS Ketenagakerjaan). Pertama saat dia bekerja di penerbitan Yudisthira dan saat ini di PT Citra Media Nusa Purnama.

"Saat keluar dari perusahaan lama saya mencairkan klaim. Alhamdulillah dari manfaat klaim (BPJS Ketenagakerjaan) bisa membantu saya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang mendesak waktu itu," ujar Budi.

Nah, manfaat klaim berikutnya pada saat Budi sudah tidak mungkin lagi atau kecil kemungkinannya bekerja di perusahaan lagi. Berterus terang Budi mengatakan ada lebih Rp70 juta yang akan dia terima dari program BPJS Ketenagakerjaan. Uang itu, dia pastikan alokasinya untuk membuka usaha setelah tidak lagi menjadi karyawan.

"Sesuai rencana, memasuki masa pensiun saya akan buka usaha kuliner. Anak saya yang kuliah di jurusan Tata Boga sudah siap mengawali menjalankan usaha kuliner ini," ujar Budi.

Dia juga berangan-angan, anaknya yang kedua dapat melanjutkan ke pendidikan tinggi dari hasil usaha kulinernya ini.

Budi pun berharap klaim uang manfaat dari BPJS Ketegakerjaan yang sebentar lagi akan dia urus itu prosesnya tidak berbelit. "Mudah-mudahan prosesnya cepat. Seperti saat saya urus klaim waktu keluar dari Yudhistira," imbuhnya.

Budi yang ingin menikmati masa pensiunnya lebih banyak bersama keluarga itu mengaku tidak risau dan ringan beban dengan adanya program BPJS. "Ini benar mas...sebaiknya semua perusahaan mengikutkan atau mendekatkan karyawannya pada program-program BPJS Ketenagakerjaan. Bahkan menurut saya seluruh program yang ada di BPJS, karena manfaatnya membantu 'banget' kesejahteraan karyawan. Ini saya rasakan mas," ungkapnya.

Manfaat program kesejahteraan pekerja yang dirasakan Budi mungkin juga menjadi harapan semua pekerja di Indonesia agar perusahaan di Tanah Air tidak ragu mengikutkan karyawannya pada program-program yang ada di BPJS Ketenagakerjaan.

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto dalam sebuah seminar di Jakarta belum lama ini menyebutkan pihaknya telah menargetkan jumlah kepesertaan aktif pada 2017 ini sebesar 25,2 juta orang. Dari target tersebut, saat ini peserta aktif yang tercatat telah mencapai 24,6 juta orang. "Jadi sebenarnya yang terdaftar 43 juta, tapi yang aktif masih 24,6 juta," ujarnya.

Agus menambahkan sebenarnya BPJS Ketenagakerjaan juga terus melakukan inovasi program, selain program kecelakaan, kematian, ada program pensiun, juga ada jaminan kepemilikan perumahan yang masuk dalam program jaminan hari tua.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya