Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Kurangi Harga Kertas untuk Koran

Indriyani Astuti
18/10/2017 07:44
Kurangi Harga Kertas untuk Koran
(MI/M IRFAN)

TINGGINYA harga kertas memberatkan biaya produksi industri media cetak. Oleh karena itu, perlu afirmasi kebijakan berupa potongan harga atau pajak kertas bagi industri cetak.

Demikian dikatakan pengamat media dan komunikasi Agus Sudibyo dalam acara Focus Grup Discussion di Media Grup di Jakarta, kemarin. “Ketika membeli kertas untuk koran, harus ada potongan harga. Koran merupakan industri yang dekat dengan demokrasi serta ilmu pengetahuan, sehingga seha­rusnya mendapat perlakuan khusus dan tidak disamakan dengan industri yang lain,” katanya.

Kebijakan afirmasi tersebut, sambungnya, telah di­terapkan India sebagai bentuk keberpihakan pemerintah dalam melindungi industri media cetak agar tidak kalah bersaing dengan media massa lainnya. Sebab, media massa mempunyai fungsi yang tidak dapat digantikan media sosial, seperti fungsi sosial yang mewakili suara publik.

“Di samping itu media massa sebagai pilar demokrasi tidak mungkin dibiarkan mati. Kalau itu terjadi, pemerintah dan rakyat yang akan rugi,” tegas Agus.

Menurutnya kebijakan potongan harga dan pajak kertas sangat mungkin diterapkan di Indonesia. Sebab, saat ini industri media cetak sangat terbebani harga kertas yang tinggi. Bila harga kertas bisa dikurangi akan sangat membantu industri media cetak untuk bertahan. Adapun besarannya dapat diukur dari ongkos produksi.

“Kalau harga kertas dikurangi 25% saja, bisa mengurangi biaya produksi. Dana selebihnya dapat dipergunakan untuk menambah kesejahteraan wartawan atau pengembangan kualitas jurnalistik.” imbuh dia.

Agus menyayangkan harga kertas untuk industri media cetak masih disamakan dengan industri lainnya. Padahal, peran pers sangat besar.

Tidak adil
Sebelumnya Ketua Pengurus Harian Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat Ahmad Djauhar mengatakan kenaikan harga kertas untuk produksi koran memberatkan industri media cetak. Pasalnya, hal itu akan berkontribusi terhadap naiknya ongkos produksi.

Sementara itu, lanjutnya, kondisi perusahaan penerbit surat kabat saat ini juga tengah menurun akibat perilaku konsumsi media masyarakat yang beralih ke platform digital. “Ini makin membebani industri media cetak. Penderitaaan perusahaan surat kabar menjadi dobel. Tiras berkurang karena orang memilih media online dan media sosial. Ditambah ongkos produksi terus naik,” ucapnya saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Menurut Ahmad, kertas menyumbang porsi 30% dari komponen produksi surat kabat. Ia juga mengatakan, harga pulp dan kertas tidak pernah turun. Ia mencatat kenaikan terakhir terjadi lima bulan lalu yakni sebesar Rp300/kilogram (kg).

Ia menyayangkan harga yang ditetapkan produsen kertas selama ini tidak adil. Ke depan, ia memperkirakan harga kertas akan terus melonjak. “Harga pulp dan kertas tidak pernah turun. Kalau kurs rupiah melemah, mereka menaikkan harga. Kalau kurs menguat, harga tidak turun, tapi mereka beralasan pasokan bahan baku sedang sulit. Itu tidak fair,” tegasnya. (Dhk/H-2)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya