Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMANFAATAN sumber daya pesisir sebagai karbon biru (blue carbon) untuk menyerap karbon utama sangat mungkin dilakukan di Indonesia. Namun, dibutuhkan kerja keras untuk merestorasi dan melestarikan vegetasi pesisir yang telah rusak di banyak tempat.
Sayangnya, dukungan dari berbagai kalangan untuk menyukseskan konsep tersebut dinilai masih minim. Padahal, menurut Marine Program Director Conservation International (CI) Indonesia Victor Nikijuluw, ekosistem mangrove lndonesia yang rusak lebih dari setengahnya.
“Harus ada upaya konservasi untuk bisa menyukseskan program karbon biru atau upaya mengurangi emisi dengan pemberdayan ekosistem dan masyarakat pesisir,” katanya dalam diskusi Inisiatif Blue Carbon di Papua Barat yang berlangsung di Jakarta, kemarin.
Victor mengatakan mang-rove yang rusak berada di wilayah Indonesia barat dan tengah akibat berlangsungnya deforestasi. “Jangan sampai ini terus berlangsung dan menjalar hingga ke bagian Indonesia Timur,” ujarnya.
Pembahasan mengenai karbon biru, menurut Staf Ahli Menteri Bidang Sosio-antropologi Kemenko Maritim Rameyo Adi telah dilakukan dengan berbagai kalangan. Namun, masih diperlukan waktu lebih lama agar semua pihak terkait dapat saling bertemu. “Karena ini harus dilakukan sejalan antara upaya konservasi lingkungan juga pemberdayaan masyarakat pesisir,” katanya.
Karbon biru merupakan upaya untuk mengurangi emisi karbondioksida di bumi dengan cara menjaga keberadaan hutan bakau, padang lamun, rumput laut, dan ekosistem pesisir di kawasan payau. Vegetasi pesisir diyakini dapat menyimpan karbon 100 kali lebih banyak bila dibandingkan dengan hutan daratan. (Pro/H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved