Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Kebohongan Akademik tidak Bisa Diterima

Syarief Oebaidillah
10/10/2017 08:36
Kebohongan Akademik tidak Bisa Diterima
(DOK PPIDELF.NET)

DIRJEN Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek-Dikti) Ali Ghufron Mukti menyayangkan tindakan Dwi Hartanto yang melakukan kebohongan akademik, apalagi hal itu dilakukan kepada publik.

“Kebohongan akademik tidak bisa diterima, apalagi kebohongan akademik di publik,” kata Ghufron terkait dengan kasus mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Technische Universiteit Delft Belanda, Dwi Hartanto, kemarin.

Ia menyatakan kasus tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi Kemenristek-Dikti dalam menyelenggarakan program serupa Visiting World Class Professor di kemudian hari.

“Kasus ini menjadi pembelajaran bagi kami agar ke depan program serupa dapat berjalan dengan lebih baik. Kami terus melakukan evaluasi berkelanjutan, dan tidak hanya pada program ini, tetapi kepada seluruh program dan kebijakan,” tegasnya.

Dwi Hartanto merupakan salah satu peserta Visiting World Class Professor 2016, yakni salah satu program yang digagas Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti Kemristek-Dikti dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, yakni dengan menggandeng para diaspora Indonesia.

Ghufron juga menegaskan peristiwa itu patut dijadikan pelajaran berharga bagi Dwi untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik. Dwi, tambahnya, juga perlu diingatkan bahwa dalam bertindak harus mengingat konsekuensi dan tanggung jawab.

Oleh karena itu, ia berharap Dwi segera memperbaiki diri dan kembali mengembangkan potensi yang ada pada dirinya, serta memperbaiki dan menjaga integritasnya.

Dukung riset
Terlepas dari kesalahan yang dilakukan Dwi, kegiatan Visiting World Class Professor 2016, kata Ghufron, berlangsung dengan baik dan bermanfaat bagi ilmuwan diaspora serta akademisi dalam negeri. Pesertanya ialah mereka yang memiliki dedikasi dan integritas baik dalam dunia ilmu pengetahuan.

Gufron menilai Dwi sebenarnya memiliki potensi untuk berkembang dan kariernya masih panjang. Ia mengimbau para ilmuwan Indonesia di luar negeri agar membantu Dwi dengan memberi kesempatan kepadanya untuk memperbaiki diri.

“Mari kita tegur, kita ingatkan dan kita bantu (Dwi) ke arah yang baik,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM itu.

Mantan wakil menteri kesehatan itu mengakui beberapa bulan belakangan di kalangan perguruan tinggi terjadi praktik yang tidak mengindahkan integritas.

Menurutnya, hal itu merupakan persoalan besar karena di satu sisi Indonesia ingin mencapai pendidikan tinggi yang memiliki kualitas dunia, tapi kita masih sibuk dengan tindak-tanduk akademisi yang masih jauh dari integritas.

Ia kembali menegaskan Ke­menristek-Dikti selalu ber­komitmen mendukung penuh dunia riset akademik dan ino­vasi Indonesia. ­Ghufron ber­harap program Visiting World Class Professor dapat berkontribusi untuk mewujudkan komitmen tersebut.

Menurutnya, program Visi­ting World Class Professor se­lain bertujuan menguatkan riset inovasi dan pengembang­an keilmuan, juga menjadi ­upaya pemerintah membangun jembatan kolaborasi antara ilmuan Indonesia di luar negeri dan ilmuwan Indonesia di dalam negeri. (H-2)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya