Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Keberagaman di Ijen Summer Jazz

09/10/2017 09:26
Keberagaman di Ijen Summer Jazz
(MI/USMAN KANSONG)

KOTA Banyuwangi, Jawa Timur, malam itu cerah. Namun, tidak di kaki Gunung Ijen. Hujan turun lumayan deras. Padahal, Sabtu (7/10) malam itu ialah hari terakhir pertunjukan Ijen Summer Jazz Banyuwangi yang berlangsung di luar ruang alias outdoor, di kaki Gunung Ijen.

Pertunjukan pun diungsikan ke dalam ruang. Kiranya bisa dibayangkan betapa pontang-pantingnya panitia memindahkan perlengkapan musik dan sound system. “Begitu hujan turun, kami putuskan pertunjukan dipindah ke dalam,” kata Sigit Pramono.

Sigit Pramono dikenal sebagai bankir, tetapi beberapa pertunjukan jazz di Tanah Air, semisal Jazz Gunung di Bromo, tak bisa dilepaskan dari ide dan dukungannya. Hotel milik Sigit, Jiwa Jawa Resort, ketempatan boyongan pertunjukan Ijen Summer Jazz itu.

Pindah lokasi tak mengurangi kualitas pertunjukan. Itulah sebabnya Djaduk Ferianto yang membawakan acara bersama Butet Kertaredjasa berulang kali memuji para sound engineer.

Ijen Summer Jazz diawali dengan penampilan SMAN 1 Bangorejo Banyuwangi, pemenang Banyuwangi Student Jazz Festival. Grup jazz yang terdiri dari 3 vokalis perempuan, yang 1 di antaranya berjilbab, 1 vokalis laki-laki, dan 5 pemain musik ini membawakan lagu-lagu jazz yang relatif dikenal publik.

Penampil kedua ialah Tropical Transit. Penampilan mereka sangat atraktif, memadukan gaya Latin dan Timur Tengah. Mereka antara lain menyanyikan lagu Sade, The Sweettest Taboo. Yang menarik, dalam satu lagu yang mereka bawakan terbetik syair bernuansakan agama-agama. Dalam lagu itu ada syair yang menyebut Allah, shalom, Yesus Kristus, Buddha, dan Om shanti shanti shanti.

Penampilaan tari yang salah satu geraknya mirip tarian sufi Jalaluddin Rumi menambah nuansa keberagaman dalam penampilan Tropical Transit.

Penampil ketiga, grup Bintang Indrianto Festival, tak kalah atraktif. Grup itu dilengkapi alat musik tradisional seperti seruling bambu, kendang sunda, dan gendang dangdut, selain alat musik modern seperti drum, terompet, gitar, dan bass. Tak pelak mereka membentuk keberagaman tradisional-modern. Karena kehadiran seruling bambu, kendang sunda, dan gendang dangdut itu, Djaduk menyebutnya jazz pantura.

Grup jazz yang digawangi Bintang Idrianto, salah satu basis terbaik Indonesia, itu hanya memainkan instrumen tanpa lagu. “Alhamdulillah, musik kami orisinal,” kata Bintang.

Permainan instrumen mereka, baik bersama-sama maupun individual, sangat memukau. Sampai-sampai penonton yang berjumlah 300-an orang ikut menyerukan kata ‘woi’ di tengah-tengah permainan musik terakhir mereka yang memang diberi judul Woi.

Hadirkan harmoni
Penampilan pamungkas datang dari Vina Panduwinata. “Lagu-lagu saya jazz, bukan, ya?” tanya ‘si Burung Camar’. “Jazzy,” jawab Sigit Pramono.

Vina pun menyanyikan sejumlah lagu, antara lain Burung Camar, Di Dadaku, dan Logika. Lagu-lagunya memang dibawakan lebih nge-jazz berkat iringan musik Dian HP. Penonton sesekali menyanyikan lagu-lagu yang memang akrab di telinga itu.

Ternyata itu bukan penampilan terakhir Vina malam itu. Ia mengajak dua musikus muda, yakni penabuh drum Ikmal Tobing dan DJ Goeslann, berkolaborasi. “Saya tampil bersama mereka karena saya ingin menghargai anak-anak kita. Kita orang tua, kalau ingin dihormati anak muda, kita hargai dulu mereka,” ucap Vina.

Ikmal ialah putra Jelly Tobing, penabuh drum legendaris Indonesia yang biasa mengiringi dan menyanyikan lagu rock. Jadilah penampilan pamungkas di Ijen Summer Jazz itu sebagai kolaborasi jazz dan rock. Vina menyanyikan lagu Surat Cinta dan Burung Camar diiringi gebukan drum Ikmal dan permainan cakram elektrik DJ Goeslann. Penonton pun ada yang berjingkrak-jingkrak. “Jazz milenial ini,” komentar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Minggu (7/10) dini hari Ijen Summer Festival yang berlangsung untuk kedua kalinya ini, serta menjadi satu dari 72 event di Festival Banyuwangi 2017, rampung sudah. Penonton pulang dengan rasa puas. Toh, pada akhirnya musik lebih untuk dinikmati, bukan dimengerti. Apakah jazz klasik, jazz-rock, jazz Latin, jazz Timur Tengah, atau jazz pantura, ketika mereka asyik dinikmati, habis perkara.

Musik bisa dinikmati ketika keberagaman, baik itu keberagaman syair bernuansa agama, tradisional-modern, tua-muda, atau keberagaman genre musik, menghadirkan harmoni. Ijen Summer Jazz sukses menghadirkan keberagaman dalam harmoni. (Usman Kansong/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya