Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Kampanyekan Batik ke Generasi Milenial

Syarief Oebaidillah
03/10/2017 08:06
Kampanyekan Batik ke Generasi Milenial
(ANTARA/ALOYSIUS JAROT NUGROHO)

HARI Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober merupakan langkah strategis pemerintah Indonesia dalam mengampanyekan batik sebagai warisan budaya tak benda yang diakui dunia oleh Badan PBB Unesco. Peringatan itu tertuang dalam Keppres No 33 Tahun 2009.

Agar lebih kekinian, batik terus dipromosikan ke kalangan generasi muda milenial.

”Kita patut bersyukur (dengan) adanya Hari Batik Nasional. Batik telah menjadi primadona atau ikon bangsa kita. Maka kita akan kompe­tisikan melalui desainer batik sehingga tidak terkesan hanya dikenakan orangtua dan orang terdahulu,” kata Direktur Warisan dan Diplomasi Bu­daya Ditjen Kebudayaan Ke­mendikbud, Nadjamuddin Ramly, saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

‘’Bagaimana generasi milenial sekarang ini dapat mengagumi batik yang dikenalkan profesional dengan desain dan kreasi motif batik.”

Nadjamuddin menyatakan Ditjen Kebudayaan melalui Direktorat Warisan dan Diplomasi terus menyosialisasikan batik ke berbagai negara di du­nia. “Setiap delegasi kita ke luar negeri, kita sosialisasikan batik melalui pameran fesyen internasional. Kita kampanye dan promosikan batik Indonesia yang telah menjadi warisan budaya tak benda dunia oleh Unesco,” tegasnya.

Di lain hal, berbagai kegiat-an dilaksanakan di berbagai daerah. Kegiatan itu antara lain fashion show batik, demo membatik, serta mewajibkan memakai batik.

Di atas catwalk di Pasar Kle­wer, Kota Surakarta, Jateng, empat perempuan berlenggak-lenggok membawakan kreasi batik. Gaya mereka tidak kalah dengan model profesional. Me­reka ialah pedagang batik di Pasar Klewer. Ternyata mereka tak hanya piawai menjual, tapi juga memperagakan.

Di Klaten, Jateng, kelompok pelaku usaha batik Desa Kebon, Kecamatan Bayat, menggelar demo membatik di kain sepanjang 208 meter. Aksi itu diikuti ratusan perajin batik, masyarakat, dan pelajar.

Gubernur Jateng Ganjar Pra­nowo menyatakan provinsi nya merupakan gudang berba­gai desain batik. Oleh karena itu, Pemprov Jateng terus mendorong daerah melakukan inovasi sesuai karakter dan budaya daerah setempat.

Di Kota Sukabumi, Wakil Wali Achmad Fahmi terkesan dengan kreativitas masyarakat di wilayahnya yang bisa me­melihara budaya dengan membuat berbagai motif batik khas kota itu. “Semua motif batik yang ada di Lokatmala itu berciri khas Kota Sukabumi,” kata Fahmi.

Kota Batik
Dewan Kerajinan Dunia (World Craft Council/WCC) telah menetapkan Yogyakarya sebagai kota batik pada 2014. Gubernur Daerah Istimewa Yog­­yakarta (DIY) Sri Sultan Ha­­mengku Buwono (HB) X pun mengajak warga DIY untuk menjaga dan melestarikan batik.

“Kita menjaga aktivitas. (Artinya) bukan peringatannya, tetapi masyarakatnya aktif men­­jaga batik,” kata Sri Sultan HB X di Desa Segoroyoso, Ke­­camatan Pleret, Bantul, ke­marin.

Menurut Sultan, aktivitas mem­batik berlangsung dengan baik dari SD sampai SMA melalui kegiatan prakarya di sekolah. Kegiatan membatik di desa-desa pun lebih ber­kem­bang. “Sekarang bagaimana kita masyarakat Yogya itu menghargai batik,” kata Sul­tan.

Dengan demikian, status sebagai Kota Batik dari WCC dapat terus dipertahankan. (BB/DG/LD/JS/FR/AT/AU/AD/H-1)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya