Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Warga Kecewa Aplikasi Telegram Ditutup

Yanurisa Ananta
15/7/2017 19:57
Warga Kecewa Aplikasi Telegram Ditutup
(Ilustrasi)

SEJUMLAH warga mengaku kecewa setelah aplikasi Telegram diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo). Beberapa warga mengatakan, aplikasi Telegram selama ini telah membantu memudahkan kehidupan berinteraksi mereka sehari-hari. Bukan hanya karena aplikasi komunikasi tersebut bersifat pribadi karena enkripsi yang tidak mudah diretas, tapi beragam fitur di dalamnya memudahkan komunikasi sehari-hari.

Jeje, 29, seorang pekerja di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, mengaku kecewa dengan keputusan penutupan aplikasi Telegram. Pasalnya, aplikasi Telegram sudah memiliki sistem clouding data (penyimpanan data) yang canggih.

"Aku sedih. Padahal Telegram sudah keren banget pakai sistem clouding. Semua file yang dishare apalagi foto sama video, kualitasnya enggak berkurang," kata Jeje kepada Media Indonesia, Sabtu (15/7).

Penutupan aplikasi Telegram justru dinilai Jeje sebagai kemunduran. Lantaran, pemerintah pusat terkesan ketakutan akan ancaman terkesan ketakutan kemudian mengantisipasi dengan memblokir aplikasi Telegram.

Jika demikian, Jeje sanksi pemerintah pusat siap dengan teknologi lain yang lebih canggih yang akan hadir di kemudian hari. "Budaya teknologi sama inovasi di negara ini masih payah," kata Jeje.

Setali tiga uang, Fuad, 26, mengatakan penutupan Telegram tak ubahnya dengan pemberlakuan jam malam bagi masyarakat sebuah kota dengan alasan keamanan. Pada kasus itu, pemerintah seharusnya justru mendapatkan jaminan keamanan 24 jam untuk bisa merasa aman beraktivitas.

"Semacam shortcut atau jalan pintas yang (disebabkan rasa) malas, menurut saya sih," imbuh Fuad.

Namun berbeda dengan Aal, 30, menurutnya, penutupan aplikasi Telegram tidak bisa dipungkiri adalah sebuah strategi yang terkesan malas. Namun, ia mengaku langkah itu paling efektif.

"Meskipun tahu teroris itu sudah poised to strike, polisi secanggih apapun gak akan tau kapan dan di mana tepatnya serangan itu dilakukan. Jadi, ya mau gimana lagi," ujar Aal.

Restu, 19, memiliki alasan lain. Dirinya menggunakan Telegram karena aplikasi tersebut dinilainya lebih menarik ketimbang aplikasi lain. "Lucu sih stiker-stikernya menggemaskan," tandasnya.

Langkah pemerintah Indonesia menutup aplikasi Telegram terbilang terlambat. Pasalnya, di negara lain, aplikasi Telegram sudah lebih dulu ditutup karena alasan yang hampir sama, yakni pemerintah menganggap Telegram menjadi alat penyebaran propaganda yang berpotensi mengganggu keamanan negara.

Negara-negara yang telah memblokir Telegram antara lain Rusia, Iran, Arab Saudi, dan Tiongkok. Di Rusia, lembaga regulator media dan pengawasan telekomunikasi menyatakan bahwa Telegram telah melanggar aturan. Pemblokiran dilakukan jika tidak menyertakan informasi perusahaan yang mengoperasikan Telegram.

Di negara domisili pendiri Telegram, Pavel Durov pun tak jauh beda. Pemerintah Rusia menutup akses Telegram dalam versi web. Namun, langkah itu tidak bisa diterapkan pada versi mobile phone.

Sejak kemarin, netizen ramai membincangkan soal pemblokiran Telegram. Di sosial media Twitter, hashtag Telegram telah menjadi topik terpanas. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya