Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam rangka International Women's Day, film dokumenter Invisible Hopes (2021) tetap menjadi salah satu karya sinematik paling berpengaruh di Indonesia yang mengangkat isu kemanusiaan di balik jeruji besi. Disutradarai dan diproduseri oleh Lamtiar Simorangkir melalui Lam Horas Film, dokumenter ini menyoroti kehidupan anak-anak yang lahir dari ibu narapidana dan terpaksa menjalani masa awal kehidupan mereka di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas).
Invisible Hopes menggambarkan kondisi nyata di Rutan dan Lapas Pondok Bambu Jakarta, serta beberapa rutan lainnya di Indonesia. Film ini memperlihatkan bagaimana bayi-bayi yang baru lahir harus tinggal berdesakan di sel sempit bersama ibu mereka dan narapidana lainnya. Tanpa adanya perlakuan khusus atau fasilitas kesehatan yang memadai, anak-anak ini menjadi "korban tak kasat mata" dari sistem hukum yang belum sepenuhnya mengakomodasi kepentingan terbaik anak.
Narasi film ini dibangun dari pengalaman pribadi Lamtiar saat melakukan riset di penjara pada tahun 2017. Ia menemukan fakta bahwa banyak anak yang bahkan sudah menganggap bel penjara sebagai instruksi untuk masuk ke sel, sebuah indikasi kuat bahwa mereka telah memposisikan diri sebagai narapidana sejak usia dini.
Sejak perilisannya, film ini telah meraih berbagai apresiasi bergengsi dan memicu diskusi nasional mengenai reformasi hukum:
Salah satu temuan paling mengejutkan dalam film ini adalah nihilnya alokasi anggaran negara khusus untuk kebutuhan dasar ibu hamil dan bayi di dalam rutan. Hal ini memaksa para ibu narapidana untuk bekerja ekstra keras di dalam penjara demi mencukupi asupan gizi mereka sendiri dan anak-anaknya.
Hingga tahun 2026, Invisible Hopes terus digunakan sebagai alat advokasi. Pada peringatan International Women's Day 2026, film ini kembali diputar untuk mendesak pemerintah dan Polri agar mengupayakan pendekatan restoratif, seperti penangguhan penahanan bagi ibu hamil, demi menjamin hak tumbuh kembang anak.
Lembaga HAM seperti KPAI, Komnas Perempuan, dan Komnas HAM terus mengawal rekomendasi yang lahir dari film ini agar negara hadir memberikan solusi konkret bagi anak-anak yang tidak seharusnya menanggung beban hukuman orang tua mereka.
Film ini sering diputar dalam acara pemutaran komunitas (roadshow), festival film dokumenter, dan beberapa platform streaming khusus film indie/dokumenter seperti MUBI atau Bioskop Online (tergantung ketersediaan lisensi terbaru).
Sutradara sekaligus produser film ini adalah Lamtiar Simorangkir, seorang aktivis dan pembuat film yang fokus pada isu-isu sosial dan hak asasi manusia.
Menurut regulasi di Indonesia, anak diperbolehkan tinggal bersama ibunya di dalam lapas hingga usia 2 tahun. Namun, fasilitas yang ada sering kali dianggap tidak layak untuk tumbuh kembang anak yang optimal.
| Elemen | Detail Deskripsi |
|---|---|
| Isu Utama | Hak anak dan ibu hamil di dalam penjara yang terabaikan. |
| Lokasi Syuting | Lapas/Rutan Pondok Bambu, Sukamiskin, dan beberapa rutan di Indonesia. |
| Tujuan Film | Advokasi kebijakan perlindungan anak dan edukasi masyarakat. |
| Tahun Rilis | 2021 (Gala Premiere April 2021). |
Artikel ini bersifat evergreen dan akan terus diperbarui sesuai dengan perkembangan kebijakan hukum terkait perlindungan anak di Indonesia.
International Women's Day 2026 mengusung tema Rights, Justice, Action. Simak sejarah 115 tahun gerakan perempuan dan tantangan keadilan gender di Indonesia.
EIGER Women rayakan International Women’s Day 2025 dengan aksi sosial charity walk dan iftar gathering di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
PEREMPUAN Mimika diharapkan dapat menjadi penggerak dalam menciptakan, membentuk, mengembangkan serta merawat budaya dan ekosistem antikorupsi.
Halimah juga menyoroti pentingnya edukasi dan kesadaran masyarakat mengenai kekerasan berbasis gender.
International Women’s Day diperingati tiap 8 Maret sejak ditetapkan PBB, 50 tahun lalu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved