Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
DI awal tahun 2026, dunia musik indie Indonesia dikejutkan dengan sebuah karya kolaborasi yang sangat personal. Enau (Putra Permana) menggandeng kakak kandungnya, Ari Lesmana (vokalis Fourtwnty), dalam lagu bertajuk "Sesi Potret".
Berbeda dengan lagu-lagu Enau sebelumnya yang kerap menyentil isu sosial dengan nada satire, Sesi Potret adalah sebuah pengakuan jujur yang menyayat hati. Lagu ini berbicara tentang penyesalan seorang anak rantau yang terlambat pulang, tentang "rumah baru" yang ternyata adalah pusara, dan tentang sesi foto keluarga yang kini terasa kosong karena hilangnya satu sosok tercinta.
Berikut adalah lirik lengkap lagu Sesi Potret yang sarat akan makna kehilangan mendalam.
Tahun lalu berjuta alasanku
Maaf tak bisa pulang penghasilanku pas-pasan
Kali ini sudah lumayan
Berkat doamu diijabah Sang Maha Kaya
Dan tahun ini, kubisa pulang
Oleh-oleh sudah di tangan
Tapi anehnya, bukan kau yang menyambutku
Ohh ternyata, kau yang lebih dulu pulang...
[Reff]
Ku bertamu ke rumah barumu
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu
Mana ocehan, wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh
Kalau rindu aku tak mampu
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Gengsi menyelimutiku, manusia ini kehilanganmu
Sesi potret yang selalu kubenci
Aneh rasanya kau tak di sini
Susunan barisannya tak sama lagi
Ooh... Satu... dua... tiga...
Ini nyata, kau telah pergi...
[Reff]
Ku bertamu ke rumah barumu
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu
Mana ocehan, wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh
Kalau rindu aku tak mampu
Sesal hatiku tak sempat temani kamu
Harusnya kubisikkan kata ajaib ke telingamu
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Masih sangat amatir
Gengsi menyelimutiku
Manusia ini kehilanganmu
Kehilanganmu...
Lagu ini bukan sekadar alunan akustik biasa, melainkan sebuah storytelling yang kuat. Ada beberapa metafora dan pesan mendalam yang diselipkan Enau dalam liriknya:
| Penggalan Lirik | Makna Tersirat |
|---|---|
| "Kau yang lebih dulu pulang" | Kata "pulang" di sini memiliki makna ganda. Sang anak pulang ke kampung halaman, namun sang orang tua telah "pulang" ke Rahmatullah (meninggal dunia). |
| "Rumah barumu... Hanya papan dan namamu" | "Rumah baru" adalah metafora halus untuk kuburan atau makam. Papan nisan menjadi satu-satunya penanda keberadaan sosok tersebut. |
| "Sesi potret yang selalu kubenci" | Momen foto keluarga yang dulu mungkin dianggap merepotkan atau klise, kini menjadi momen yang paling menyakitkan karena formasi keluarga sudah tidak lengkap. |
Inti dari lagu ini adalah penyesalan akan waktu yang terbuang karena alasan ekonomi ("penghasilanku pas-pasan") dan ego ("gengsi menyelimutiku"). Enau dan Ari Lesmana berhasil memotret realitas banyak perantau di tahun 2026 ini, yang sering kali menunda kepulangan demi kesuksesan materi, namun lupa bahwa waktu orang tua kita tidaklah abadi.
Kalimat "Soal ikhlas ternyata aku masih amatir" menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang mendengarnya, mengingatkan bahwa sekuat apa pun kita bersiap, kehilangan orang tercinta akan selalu menjadi pelajaran terberat dalam hidup.
Sesi Potret bukan sekadar lagu, melainkan pengingat (reminder) bagi generasi muda. Jangan biarkan kesibukan atau gengsi menghalangimu untuk "pulang" dan memeluk orang tersayang selagi mereka masih ada. Karena ketika "sesi potret" itu tiba dan barisannya tak lagi sama, tak ada harta yang bisa menebus rasa kehilangan tersebut. (Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved