Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

15 Tahun Menjauh dari Horor, Reza Rahadian Kembali lewat Film Suzzanna

N Apuan Iskandar
26/1/2026 20:31
15 Tahun Menjauh dari Horor, Reza Rahadian Kembali lewat Film Suzzanna
Reza Rahadian saat Press Conference Official Trailer Launching film Suzana: Santet Dosa di Atas Dosa, Senin (26/1).(MI/Apuan Iskandar)

SETELAH 15 tahun menjauh dari genre horor, Reza Rahadian akhirnya kembali, bukan sekadar untuk menakut-nakuti penonton, tetapi untuk menawarkan kisah yang lebih dalam tentang manusia, luka batin, dan perlawanan terhadap kekuasaan. Comeback itu ia lakukan lewat film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa.

Dalam sesi tanya jawab bersama media, Reza mengungkapkan bahwa film ini menjadi proyek horor keduanya dalam kurun waktu satu setengah dekade terakhir. Jeda panjang tersebut, menurutnya, bukan tanpa alasan. Ia dikenal sangat selektif memilih peran, terutama di genre horor yang kerap terjebak pada pola dan formula berulang.

“Saya cukup lama vakum dari film horor. Dan ketika terlibat di Suzana ini, saya melihat ceritanya bukan horor yang biasa,” ujar Reza.

Yang membuat Reza tertarik, kata dia, adalah cara film ini memosisikan Suzzanna bukan semata sebagai sosok menyeramkan, melainkan sebagai manusia seutuhnya. Suzzanna digambarkan mengalami tekanan, ketidakadilan, dan luka batin yang mendalam, sebuah perjalanan psikologis yang kemudian melahirkan keputusan-keputusan besar dengan dampak luas.

“Ini cerita tentang manusia yang tertindas. Manusia yang terluka, lalu mengambil keputusan-keputusan yang luar biasa dampaknya,” kata Reza.

Tema perlawanan terhadap kekuasaan menjadi elemen yang paling menggugah minatnya. Konflik tersebut dinilai relevan dengan realitas sosial yang terjadi di berbagai belahan dunia, menjadikan film ini bukan hanya tontonan hiburan, tetapi juga ruang refleksi. Bagi Reza, horor di film ini hadir sebagai konsekuensi, bukan tujuan utama.

Ia bahkan mempertanyakan kembali batasan genre itu sendiri.

Is it a horror film? In a way, iya. Tapi di sisi lain, ini cerita tentang manusia,” ujarnya.

Ketika disinggung soal kemungkinan kembali bermain di film horor setelah Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Reza tak memberi kepastian. Baginya, genre bukan faktor utama, cerita dan nilai yang dibawa jauh lebih menentukan.

“Semua tergantung ceritanya. Kalau ada cerita yang menyentuh wilayah-wilayah tertentu yang menurut saya penting, mungkin saya akan ambil. Tapi tidak menentu,” ungkapnya.

Melalui film ini, Reza Rahadian bukan hanya menandai kepulangannya ke genre horor, tetapi juga ikut memperluas maknanya. Teror tak lagi sekadar alat untuk menakut-nakuti, melainkan medium untuk membicarakan manusia, tekanan, dan keberanian melawan ketidakadilan. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya