Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
DI saat musik semakin diproduksi untuk dikejar, dihitung, dan dihabiskan dengan cepat, Cassette Tape justru bergerak ke arah yang lebih sunyi. Album debut mereka Records 2 Relate 2 hadir tanpa ambisi menjadi paling keras atau paling rapi. Ia datang pelan, nyaris menahan diri, dan justru di situ kekuatannya terasa.
Album ini bekerja seperti jeda. Lagu-lagunya tidak disusun untuk menyenangkan algoritma, melainkan untuk menemani fase fase hidup yang sering kali tidak punya bahasa sendiri. Records 2 Relate 2 terasa sebagai satu ruang dengar utuh, bukan kumpulan trek yang berdiri sendiri. Ia ingin didengarkan dari awal sampai akhir tanpa terburu buru.
Founder Ruang Lagu, Fiter Bagus Cahyono, melihat album ini sebagai contoh bagaimana sebuah band bisa tetap relevan tanpa harus tunduk pada logika instan industri. Menurutnya, Cassette Tape tidak terdengar seperti band yang sedang mengejar validasi, melainkan band yang tahu kapan harus menahan diri.
Pendekatan ini mengingatkan pada sejumlah musisi internasional yang juga memilih jalur serupa. Ada kedekatan rasa dengan The xx yang membangun emosi lewat ruang dan keheningan. Juga Mac DeMarco yang menjadikan kesederhanaan dan ketidaksempurnaan sebagai identitas. Hingga Cigarettes After Sex yang merawat intimasi dan repetisi sebagai bahasa utama. Bukan dalam arti meniru, tetapi dalam kesamaan sikap bahwa musik bisa menjadi tempat berlindung, bukan panggung pembuktian.
Salah satu lagu yang paling menarik dibaca dalam konteks ini adalah Go Getter. Dengan judul yang terdengar ambisius, lagu ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Go Getter tidak merayakan kecepatan atau dorongan untuk selalu maju, melainkan memperlihatkan jarak antara keinginan dan kelelahan. Temponya tenang dan nyaris datar, seolah menahan diri dari klimaks. Vokal disampaikan reflektif, bukan penuh semangat, sehingga judul lagu terasa ironis. Alih alih menjadi anthem pencapaian, Go Getter terdengar seperti pengakuan jujur tentang ambisi yang mulai dipertanyakan. Lagu ini tidak memotivasi, ia mengajak berhenti sejenak dan bertanya apakah semua dorongan itu masih perlu.
Sebagai trio, Cassette Tape menampilkan keseimbangan peran yang terasa matang. Vokal Sarah Azka hadir dekat dan personal, seperti percakapan yang tidak ditujukan untuk keramaian. Gitar Joe Pramudio bergerak repetitif dan atmosferik, menjaga suasana tanpa perlu menutup semua ruang. Sementara bass Farrel Cahyono bekerja tenang di bawah, memberi fondasi yang stabil tanpa keinginan untuk menonjol.
Pendekatan ini membuat Records 2 Relate 2 terasa manusiawi. Ada ketidaksempurnaan kecil yang tidak ditutup tutupi. Ada jeda yang dibiarkan hidup. Di tengah era ketika musik bisa dibuat sangat cepat dan terdengar sangat selesai, album ini memilih menyisakan ruang bagi ragu dan diam, sesuatu yang semakin jarang dirawat.
Dalam pandangan Ruang Lagu, kekuatan album ini tidak terletak pada upaya tampil berbeda secara ekstrem, melainkan pada konsistensi sikap. Cassette Tape tidak mencoba menyesuaikan diri dengan selera pasar yang terus berubah. Mereka membangun dunianya sendiri, kecil, intim, dan cukup jujur untuk membuat pendengar merasa ditemani, bukan diarahkan.
Sebagai album debut, Records 2 Relate 2 tidak terdengar seperti perkenalan yang penuh ambisi. Ia terdengar seperti pengakuan. Tentang relasi yang tidak selalu selesai, tentang perasaan yang tidak selalu ingin dirapikan, dan tentang musik yang masih ingin diperlakukan sebagai pengalaman, bukan sekadar konten.
Di tengah industri yang sibuk menghitung angka, Cassette Tape memilih rasa. Dan dalam konteks kultur indie, baik lokal maupun global, pilihan itu bukan sekadar estetika. Ia adalah sikap. (H-2)
Gerakan musik lintas genre Rise Up Unity 2025 siap mengguncang Jakarta pada 8 November 2025 di Cibis Park, TB Simatupang.
DUO grup musik pendatang baru asal Banjarmasin, Deorama, resmi merilis single debut berjudul Momen Terakhir Kita. Lagu ini berkisah tentang momen menerima perpisahan dengan tegar.
Hari ketiga Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2025 menghadirkan dialog strategis lintas sektor yang menyoroti pentingnya membangun ekosistem hiburan berkelanjutan di Indonesia.
MUSIK disebut sebagai salah satu penopang industri kreatif nasional. Indonesia memiliki potensi yang besar di industri musiknya, khususnya untuk bersaing di wilayah Asia Tenggara.
Industri musik Indonesia saat ini perlu memetakan indikator yang jelas dalam ekosistem musik
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved