Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PERKEMBANGAN kecerdasan buatan kerap diposisikan sebagai solusi atas keterbatasan manusia: lebih cepat, lebih konsisten, dan minim kesalahan emosional.
Namun, ketika teknologi itu mulai diberi kewenangan menentukan hidup dan mati seseorang, muncul pertanyaan yang lebih mendasar tentang makna keadilan itu sendiri.
Pertanyaan tersebut menjadi landasan utama film fiksi ilmiah MERCY, yang memotret masa depan peradilan dalam bayang-bayang algoritma.
Berlatar tahun 2029, MERCY mengisahkan Detektif Los Angeles bernama Chris Raven yang terbangun dalam sebuah kursi persidangan berteknologi tinggi bernama Mercy Chair.
Ia dituduh membunuh istrinya dan menghadapi hukuman mati. Tidak ada hakim manusia, tidak ada juri, dan hampir tidak ada ruang pembelaan konvensional. eputusan sepenuhnya berada di tangan kecerdasan buatan bernama Judge Maddox, yang menganalisis data digital untuk menentukan rasa bersalah Raven.
Sistem pengadilan dalam film ini mengandalkan rekaman kamera pengawas, body cam polisi, riwayat ponsel, unggahan media sosial, hingga data pribadi yang tersimpan di cloud. Semua informasi tersebut diproses dalam waktu nyata untuk menghasilkan probabilitas bersalah atau tidak bersalah. Raven hanya diberi waktu 90 menit untuk membantah kesimpulan mesin sebelum eksekusi dijalankan.
Sutradara Timur Bekmambetov menjelaskan bahwa cerita MERCY berangkat dari kegelisahan personalnya terhadap kehidupan modern yang semakin dikelilingi layar dan data.
“MERCY adalah misteri yang sangat intens dan menegangkan, tetapi juga tentang bagaimana manusia saat ini hidup berdampingan dengan teknologi,” ujarnya.
Menurut Bekmambetov, film ini tidak mencoba memprediksi masa depan yang jauh, melainkan memperbesar realitas yang sudah mulai terlihat hari ini. Chris Pratt, yang memerankan Chris Raven, melihat konflik utama film ini terletak pada ketimpangan antara manusia dan sistem yang dianggap sempurna.
“Sistem keadilan dalam film ini dibuat untuk menggantikan proses manusia yang dinilai lambat dan tidak konsisten,” kata Pratt.
Namun, ia menambahkan bahwa kecepatan dan efisiensi tersebut justru menghilangkan ruang keraguan, empati, dan konteks personal yang selama ini menjadi bagian dari proses hukum.
Karakter Judge Maddox, yang diperankan Rebecca Ferguson, menjadi representasi dari otoritas baru dalam dunia MERCY. Ferguson menilai peran tersebut tidak dimaksudkan untuk menampilkan AI sebagai sosok antagonis, melainkan sebagai cerminan harapan berlebihan manusia terhadap teknologi.
“Masalahnya, kita semakin mengharapkan akurasi, dan semakin sering kita perlu mempertanyakan apa yang sebenarnya disampaikan dunia digital kepada kita,” ungkapnya.
Agar cerita tetap berpijak pada realitas, penulis skenario Marco van Belle melakukan riset mendalam tentang penggunaan AI di sektor hukum. Ia terinspirasi oleh pengembangan hakim berbasis kecerdasan buatan di Estonia yang dirancang untuk menangani perkara perdata bernilai kecil.
“Ketika saya membaca laporan-laporan tersebut, saya menyadari bahwa konsep hakim AI bukan lagi fiksi ilmiah. Teknologi ini benar-benar sedang dipersiapkan,” ujarnya.
Tim produksi juga melibatkan pakar etika kecerdasan buatan, salah satunya Benjamin Boudreaux, peneliti kebijakan di Rand School for Social Science. Boudreaux menjelaskan bahwa saat ini AI sudah digunakan untuk memprediksi risiko kejahatan, menentukan tingkat ancaman, dan membantu penegak hukum mengambil keputusan strategis.
Namun, ia mengingatkan bahwa algoritma tidak pernah sepenuhnya netral.
“AI hanya sebaik data yang kita berikan. Jika datanya bias atau tidak lengkap, maka keputusannya juga bermasalah,” katanya.
Film ini juga menyinggung persoalan privasi dan pengawasan digital. Dalam dunia MERCY, hampir setiap aspek kehidupan terekam dan tersimpan sebagai arsip permanen.
Menurut Boudreaux, kondisi tersebut mencerminkan kenyataan saat ini, ketika banyak orang menyerahkan data pribadi tanpa memahami bagaimana data tersebut dapat digunakan di masa depan.
Alih-alih menyajikan jawaban, MERCY justru meninggalkan penonton dengan pertanyaan terbuka tentang batas kepercayaan terhadap mesin. Di tengah meningkatnya ketergantungan pada kecerdasan buatan, film ini menjadi pengingat bahwa teknologi, seakurat apa pun, tetap membawa konsekuensi etis yang tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada algoritma.
Keluar dari zona nyaman, Chris Pratt berperan sebagai detektif yang diadili hakim AI dalam film 'Mercy'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved