Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Bukan Sekadar Gaya! Begini Cara Jennie Blackpink Mengangkat Budaya Korea

 Gana Buana
23/12/2025 20:33
Bukan Sekadar Gaya! Begini Cara Jennie Blackpink Mengangkat Budaya Korea
Kostum Jenny Blackpink di MMA 2025, jubah penuh aksara hangeul.(Dok. The Korea Times)

Seiring namanya kian bersinar di panggung internasional, Jennie Blackpink semakin konsisten menghadirkan bahasa dan warisan budaya Korea dalam karya solonya. Namun, alih-alih menjadikannya sekadar hiasan visual, Jennie menempatkan identitas Korea sebagai fondasi utama dari estetika artistiknya yang modern dan personal.

Visi tersebut tampil utuh dalam penampilannya di Melon Music Awards (MMA) 2025 yang digelar di Gocheok Sky Dome, Seoul. Jennie tidak hanya membawa pulang tiga penghargaan, termasuk Record of the Year, tetapi juga mencuri perhatian lewat penampilan solo yang sarat simbol budaya Korea.

Pada malam penghargaan itu, Jennie membawakan versi aransemen ulang dari lagu Seoul City, ZEN, dan like JENNIE yang semuanya berasal dari album penuh perdananya, Ruby, dirilis pada Maret lalu. Tata busana dan desain panggung menjadi elemen penting yang menyatukan keseluruhan narasi pertunjukan.

Penampilan dibuka dengan Seoul City. Jennie muncul di bawah veil sepanjang 15 meter yang dipenuhi aksara Hangeul, alfabet Korea, dengan latar visual bernuansa biru tua yang terinspirasi dari warna bendera nasional Korea Selatan. Untuk mewujudkan konsep ini, ia kembali berkolaborasi dengan label mode Korea, LEJE, yang sebelumnya juga merancang busana untuk video musik ZEN.

Usai acara, LEJE mengungkap bahwa kostum Jennie di MMA mencerminkan ketertarikan jangka panjang Jennie terhadap bahasa dan budaya Korea. Veil yang dikenakannya dihiasi kutipan dari Cheonggu Yeongeon, antologi lagu abad ke-18 yang dikenal sebagai kumpulan lirik lagu tertua di Korea. Sementara itu, gaun jubah sutra yang ia kenakan terinspirasi dari siluet patung Bodhisattva Maitreya yang ikonik, dengan garis bahu tegas dan ornamen simpul tradisional.

Pada segmen berikutnya, ZEN,, suasana pertunjukan berubah menjadi lebih kontemplatif, menonjolkan keseimbangan dan ketenangan batin. Untuk bagian ini, LEJE memadukan sutra transparan khas busana tradisional Korea dengan struktur korset bergaya Barat. Sementara di penampilan penutup like JENNIE, Jennie tampil dengan jaket khusus yang diukir lebih dari 2.000 kali namanya, sebuah karya yang memerlukan lebih dari 200 jam pengerjaan.

Salah satu referensi utama dalam busana panggung tersebut adalah Pagoda Seokgatap dari era Silla, yang diterjemahkan ke dalam detail potongan geometris hasil draping tangan. LEJE menjelaskan bahwa seluruh desain bertujuan “menafsirkan ulang estetika tradisional Korea melalui bahasa visual kontemporer”, lahir dari proses kreatif yang intens antara sang artis dan perancang.

“Bagi Jennie, Hangeul bukan sekadar simbol atau ornamen. Ia adalah kekuatan personal yang membawanya ke dunia, sebuah catatan tentang waktu dan pendefinisian diri,” tulis LEJE, dilansir dari The Korea Times, Selasa (23/12).

Agensi Jennie, Odd Atelier, turut menegaskan bahwa penampilan ini mencerminkan upaya berkelanjutan Jennie dalam menempatkan identitas Korea sebagai bagian dari kerangka artistik yang lebih luas.

Pendekatan tersebut tidak berhenti di atas panggung. Jennie juga membawa semangat serupa ke berbagai kolaborasi merek dan proyek independen. Pada September lalu, ia bekerja sama dengan Stanley merilis tumbler edisi khusus dengan desain terinspirasi dari teknik kerajinan nacre atau ibu mutiara khas Korea.

Sebulan kemudian, bertepatan dengan Hari Hangeul, Jennie merilis jenis huruf Korea bertajuk ZEN SERIF hasil kolaborasi dengan Meta Platforms. Typeface ini menggabungkan Hangeul dengan elemen tipografi Blackletter Barat dan dirilis secara gratis untuk publik.

Dari kesuksesan album Ruby di berbagai tangga lagu hingga penampilannya di Met Gala dan Coachella, Jennie terus memperluas pengaruhnya. Ia tak hanya tampil sebagai ikon musik dan mode global, tetapi juga sebagai seniman yang secara sadar dan konsisten mengangkat budaya Korea melalui bahasa visual yang halus, modern, dan penuh makna. (The Korea Times/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya