Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SUTRADARA Anggy Umbara memilih cara unik untuk mengenalkan film terbarunya, Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel, yang mulai tayang pada 4 Desember 2025 di bioskop. Bersama sejumlah relawan, ia menghadirkan sebuah atraksi di kawasan Car Free Day (CFD) Sudirman, Jakarta, dengan membawa replika kendaraan menyerupai Rubicon sekaligus memamerkan poster film tersebut. Aksi ini menjadi bagian dari rangkaian kampanye Umbara Brothers Film bertajuk Bullycon menjelang perilisan film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel.
Dalam kegiatan tersebut, Anggy dan tim menampilkan “Rubicon” yang bukan kendaraan sungguhan, melainkan struktur ringan yang digotong ramai-ramai oleh para relawan. Mereka berjalan di antara kerumunan sambil meneriakkan seruan “Stop Bullying!”. Ketika masyarakat mendekat, barulah tulisan besar pada badan kendaraan itu tampak jelas bertuliskan “Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel.”
Pengunjung CFD bebas melihat dari dekat simbol yang dulu pernah menjadi pusat perhatian masyarakat terkait isu penyalahgunaan wewenang dan ketimpangan hukum dalam kasus Mario Dandy. Aktivasi ini dirancang sebagai ajakan untuk refleksi bahwa perilaku intimidatif dan penyalahgunaan kuasa tidak hanya muncul di lingkungan pergaulan atau sekolah, tetapi dapat tumbuh dari struktur kekuasaan yang tidak diawasi.
Melalui Bullycon, Anggy menegaskan peristiwa yang pernah memicu kemarahan publik bukan sekadar viral sesaat. Ia menilai kejadian tersebut mencerminkan bagaimana kekuasaan bisa berjalan tanpa kendali dan bagaimana masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan.
Bullying Hadir dalam Banyak Bentuk
Kasus Mario Dandy yang telah dijatuhi hukuman atas kasus penganiayaan, sempat ramai dibicarakan karena aksinya menggunakan mobil Rubicon yang ternyata merupakan milik ayahnya, Rafael Alun. Setelah Rafael ditangkap KPK terkait dugaan korupsi, kendaraan itu kemudian disita negara.
"Kalau dulu mobil ini bisa bebas bergerak tanpa konsekuensi, sekarang biar publik yang melihatnya langsung. Ada hal-hal yang tidak boleh kita lupakan begitu saja," ujar Anggy Umbara, sutradara film Ozora: Penganiyaan Brutal Penguasa Jaksel, seperti dilansir dari siaran pers yang diterima Media Indonesia, Senin (1/12).
Menurut Anggy, apa yang ia lakukan adalah bentuk keberlanjutan sikap untuk tidak tinggal diam saat ketidakadilan terus berulang. Ia berharap film Ozora: Penganiyaan Brutal Penguasa Jaksel dapat mengingatkan bahwa tindakan perundungan bukan hanya muncul dalam bentuk kekerasan verbal atau fisik antarindividu, tetapi juga dapat tercipta dari ketimpangan sistem dan pihak yang memegang kuasa.
"Bullying bukan sekadar tindakan, tetapi struktur dan ketika kekuasaan ikut terlibat, dampaknya meluas, menimbulkan trauma yang panjang dan ketidakpercayaan pada keadilan. Aktivasi ini mengajak publik melihat bahwa bullying dapat hadir dalam banyak bentuk, termasuk dalam keputusan-keputusan yang memihak dan perlakuan hukum yang tidak setara," ungkap Anggy.
Sinopsis
Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel berkisah tentang David Ozora, seorang remaja yang menjadi korban penganiayaan hingga koma. Ayahnya, Jonathan, berjuang menempuh jalur hukum untuk menuntut keadilan atas apa yang menimpa anaknya. Deretan pemain yang terlibat antara lain Chicco Jerikho, Muzakki Ramdhan sebagai David Ozora, Erdin Werdrayana, Tika Bravani, Donny Damara, Annisa Kaila, dan Mathias Muchus.(M-2)
Anggy Umbara mengatakan pengalaman mimpinya itu seru, sehingga dari situ dirinya terpikir bahwa nanti akan membuat film tentang sosok itu namun dengan interpretasi dari dirinya.
Sutradara Anggy Umbara dan Produser Dheeraj Kalwani dari film Vina Sebelum 7 Hari memenuhi panggilan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Barat
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved