Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMBELI adalah sebagian kecil dari apresiasi terhadap karya seni ciptaan seniman. Pernyataan itu sekiranya terucap pasangan suami istri asal Jakarta, Enrico Iskandar dan Luly Joenes Iskandar. Keduanya tidak berasal dari keluarga seniman maupun latar belakang pendidikan seni. Enrico berkarier di bidang hukum, sementara Luly bergerak di dunia bisnis dan pemasaran. Namun sejak 2008, mereka mantap menapaki perjalanan sebagai kolektor seni lukis.
Tahun itu, karena keyakinan terhadap feng shui, mereka membeli sebuah lukisan berjudul Golden Harvest untuk mengisi dinding kantor. Seiring waktu, kegiatan mengoleksi yang awalnya sekadar mempercantik ruang berubah menjadi proses memahami politik, spiritualitas, hingga isu kemanusiaan.
“Buat kami, mengoleksi selain untuk kebutuhan display juga menjadi refleksi dan cerminan kehidupan,” ujar Enrico dalam sebuah gelar wicara di Galeri Yiri Arts Jakarta, Sabtu (29/11/2025).
Enrico menegaskan ia dan istrinya menikmati karya seni dengan memahami gagasan dan konteks di baliknya. Setiap keputusan membeli selalu didasari diskusi bersama, bukan sekadar jatuh cinta pada visual.
“Kita bahas mulai dari visual, ide, gagasan, sampai pemikiran senimannya. Kita banyak ngobrol dengan senimannya atau galeri. Kita coba mengerti makna karya itu sebelum kita memutuskan membeli,” jelas Enrico.
Pasangan ini menaruh perhatian khusus pada seni kontemporer, seni yang tumbuh sejak awal abad ke-20 dan merefleksikan isu-isu zaman. Rasa tanggung jawab untuk berkontribusi pada ekosistem seni mendorong Luly untuk terus mengoleksi. Baginya, kolektor memegang peran penting dalam keberlanjutan hidup suatu karya.
“Karya seni kan pasti hidup lebih panjang daripada manusia. Yang harus kita pikirkan adalah alternatif agar karya itu tetap bisa dinikmati dan diapresiasi,” ujarnya.
Luly mengusulkan salah satu cara mewariskan karya seniman adalah dengan mempersembahkan koleksi kepada institusi seni. Ide itu muncul setelah mereka berkunjung ke National Gallery of Milan, Italia, di mana setengah koleksi museum merupakan donasi pasangan suami istri Mario dan Angelia tahun 1900.
Kecintaan Luly terhadap seni semakin tumbuh dari pengalaman tersebut. Mereka menghabiskan satu setengah hari di museum itu hanya untuk mendengarkan penjelasan kurator mengenai sejarah setiap karya.
“Karena kita ingin memiliki aturan yang benar dalam mengoleksi, saya jadi merasa perlu memvalidasi keinginan untuk memiliki karya lewat dialog dan obrolan,” ungkap Luly.
Bagi Enrico dan Luly, mengoleksi seni menjadi menyenangkan karena menghadirkan petualangan tersendiri, sekaligus membuka jalan bertemu komunitas dengan antusiasme serupa. Mereka pun semakin terbuka untuk berbincang mengenai koleksi yang dimiliki.
Selama gelar wicara tersebut, Galeri Yiri Arts Jakarta yang disulap menjadi ruang dialog. Sebanyak 33 karya seni dipamerkan, mulai dari lukisan, instalasi, video seni, patung, ilustrasi, hingga layang-layang raksasa berbentuk gajah. (Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved