Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Hampir 60 tahun sudah Ultraman hidup 'berdampingan' bersama manusia. Sejak pertama kali muncul, diciptakan oleh Eiji Tsuburaya, pada 1966, pahlawan super raksasa itu sukses bertahan, menjadi idola tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga orang dewasa, di seluruh belahan dunia.
Menjaga sebuah karya waralaba melewati golden anniversary tentu bukan hal yang mudah. Beragam strategi harus diterapkan agar Ultraman bisa terus bergerak seiring perubahan zaman, mengikuti jalannya peradaban, memenuhi keinginan para penikmat sehingga bisa terus relevan.
Media Indonesia menjadi media di Indonesia pertama yang berkesempatan mewawancarai Rudy Ng, Vice President Tsuburaya Production, perusahaan yang memproduksi waralaba Ultraman, untuk mengetahui bagaimana strategi lintas generasi dijalankan. Berikut hasil wawancaranya:
Bagaimana Tsuburaya melihat peran Ultraman dalam lanskap industri kreatif global?
Sebagai sebuah franchise yang sudah berusia 60 tahun, Ultraman lebih terasa seperti sebuah warisan budaya lintas generasi. Ini adalah sebuah IP yang menghubungkan antara masa-masa orang tua saya dan masa-masa saya. Ketika saya punya anak nanti, saya juga tentu bisa menurunkan pengalaman itu kepada mereka.
Bagian yang indah dari Ultraman adalah, meskipun sekarang ada cara-cara baru dan inovatif untuk memperkenalkan semesta Ultraman, kami tetap bisa memanfaatkan rasa dan imajinasi yang sama seperti sejak 60 tahun yang lalu.
Bagaimana cara Tsuburaya merangkul semua generasi, yaitu yang telah mengikuti sejak puluhan tahun lalu, dan generasi yang baru menikmati sekarang?
Banyak karakter kami didesain dengan cerita yang saling terhubung satu sama lain. Kalau kita mengikuti, ada Ultraman Seven dari era Showa yang merupakan ayah bagi Ultraman Zero yang berasal dari era Heisei. Kemudian, Ultraman Zero menjadi mentor bagi Ultraman Z yang datang dari era terbaru yaitu Reiwa.
Adanya jaringan koneksi yang rumit antarkarakter ini bisa membantu memperpanjang siklus hidup tiap-tiap karakter. Ini membuat beberapa generasi bisa bertemu di tengah.
Ultraman yang saya tonton waktu kecil jelas berbeda dengan Ultraman yang ada di generasi sekarang. Namun, selalu ada cara bagi kami semua, orang-orang yang berbeda generasi, untuk saling terhubung karena adanya hubungan antarkarakter tadi.
Selain itu, hadirnya media baru dan cara-cara baru untuk berbagi pengalaman bersama juga ikut membantu menjaga basis penggemar karakter ini, dan IP Ultraman secara keseluruhan.
Tahun lalu, Tsuburaya merilis trading card game (TCG) Ultraman, apa itu menjadi salah satu strategi untuk bisa menarik lebih banyak penggemar?
Ya, tentu saja. Menurut saya, kita semua menikmati Ultraman dengan cara yang berbeda-beda. Generasi baru juga mulai bergerak ke arah hal-hal yang agak berbeda dibandingkan dengan yang kita alami dulu. Ada hal-hal yang buat kami terasa nostalgia, tapi justru terasa benar-benar baru bagi mereka. Trading card game adalah salah satu contohnya. Kita bisa melihat bagaimana TCG diterima dalam enam hingga tujuh tahun terakhir, yang membuatnya semakin masuk ke area mainstream.
Jadi, dengan Ultraman masuk ke ranah trading card, dan punya Ultraman Card Game sendiri, itu menjadi cara baru untuk menikmati semesta Ultraman yang bisa menarik generasi muda. Di saat yang sama, TCG juga sudah cukup lama ada, sehingga generasi yang lebih tua seperti saya juga bisa terhubung. Kami bisa membagikan pengalaman Ultraman dari masa lalu lewat medium yang sekarang mereka kenal dan sukai.
(E-3)
Ultraman TCG membawa kembali dunia epik Ultraman ke dalam format permainan kartu yang mudah diakses.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved