Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
FILM Jepang dikenal berani mengangkat tema ekstrem dan tabu. Namun, beberapa karya dianggap terlalu sadis, vulgar, atau mengganggu, hingga dilarang tayang di Jepang maupun negara lain. Berikut tujuh film kontroversial asal Jepang yang memicu sensor, kecaman, bahkan larangan total.
Film pertama dari seri “Guinea Pig” ini terkenal karena menampilkan adegan penyiksaan wanita secara brutal. Dengan gaya menyerupai film “snuff”, adegan kekerasan dan penyiksaan ekstrem membuat banyak penonton percaya ini adalah rekaman nyata. Pemerintah Jepang sempat menyelidiki keaslian film ini karena efeknya yang begitu realistis.
Seri kedua ini lebih sadis dari pendahulunya. Mengisahkan seorang pria berpakaian samurai yang menculik dan memutilasi seorang wanita, lalu menyimpan potongan tubuhnya sebagai koleksi. Film ini sempat disangka film pembunuhan nyata hingga menjadi bahan penyelidikan. Karena kekerasan ekstremnya, film ini ditarik dari peredaran di beberapa negara.
Disutradarai Nagisa Ōshima, film ini mengisahkan hubungan obsesif antara seorang wanita dan kekasihnya yang berakhir dengan kematian tragis. Adegan seks eksplisit dan sadomasokisme membuatnya dilarang tayang versi utuh di Jepang. Film ini juga sempat dikecam di Amerika dan Eropa karena dianggap pornografi.
Mengisahkan seorang wanita muda yang bekerja sebagai pekerja seks di dunia elit Tokyo, film ini menampilkan kehidupan BDSM, eksploitasi, dan kekerasan seksual secara gamblang. “Tokyo Decadence” dilarang di beberapa negara seperti Korea Selatan dan Australia karena muatan seksual dan psikologisnya yang berat.
Salah satu film tersadis Jepang modern. Ceritanya sederhana: sepasang kekasih diculik lalu disiksa dengan cara ekstrem. Karena konten penyiksaan yang terus-menerus tanpa konteks moral, lembaga sensor Inggris menolak memberi rating bahkan versi 18+. “Grotesque” dilarang tayang di Inggris dan beberapa negara Eropa.
Disutradarai oleh Kinji Fukasaku, film ini menggambarkan siswa SMA yang dipaksa saling membunuh hingga tersisa satu orang. Karena melibatkan kekerasan terhadap remaja dan kritik sosial tajam, film ini sempat dilarang tayang di beberapa wilayah Jepang serta menuai kontroversi global. Kini dianggap sebagai film kultus yang menginspirasi “The Hunger Games”.
Film karya Takashi Miike ini memulai kisahnya dengan tenang lalu berubah menjadi mimpi buruk penuh kekerasan. Adegan penyiksaan psikologis dan fisik di bagian akhir membuat banyak penonton keluar dari bioskop. Meskipun tidak resmi dilarang, “Audition” tetap dianggap salah satu film Jepang paling disturbing yang pernah dibuat.
Film-film di atas bukan hanya hiburan, tapi cerminan dari sisi ekstrem perfilman Jepang, yang berani menembus batas tabu. Namun, karena kekerasan dan unsur vulgar yang melampaui batas, banyak di antaranya dilarang tayang di negaranya sendiri maupun di luar negeri.
Rilis film Jepang Cells at Work! dan Crayon Shin-chan: Super Hot! ditunda di Tiongkok imbas ketegangan diplomatik setelah pernyataan PM Sanae Takaichi soal Taiwan.
Film terbaru Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba The Movie Infinity Castle telah mencetak rekor baru box office di Jepang.
Mau nonton film Jepang online legal? Temukan platform streaming terbaik, tips memilih film menarik, dan cara menikmati film Jepang tanpa ribet di sini. klik sekarang!
The Japan Foundation (JF) meluncurkan JFF Theater, situs web streaming yang menawarkan film Jepang dan konten video dengan subtitel multibahasa.
Film-film yang tayang akan dilengkapi dengan 15 subtitel termasuk bahasa Indonesia yang dapat disaksikan dengan melakukan registrasi di situs JFF ONLINE.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved