Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Falcon Pictures Hadirkan Teror Sekaligus Pesan Sosial Lewat Film Shutter

Rifaldi Putra Irianto
25/10/2025 14:16
Falcon Pictures Hadirkan Teror Sekaligus Pesan Sosial Lewat Film Shutter
Cast Film Shutter(Dok: Falcon Pictures)

FALCON Pictures kembali memperluas semesta horor Indonesia lewat film terbaru berjudul Shutter. Film ini bukan sekadar kisah seram yang menegangkan, tapi juga menghadirkan pesan sosial yang relevan dan menyentuh realitas masa kini.

Disutradarai oleh Herwin Novianto, Shutter merupakan remake dari film legendaris Thailand karya Banjong Pisanthanakun, yang dikenal sebagai salah satu film horor Asia terbaik sepanjang masa. Versi Indonesia ini menggabungkan teror psikologis, unsur supranatural, dan isu sosial, menjadikannya lebih dari sekadar film horor tetapi juga medium refleksi tentang keadilan dan trauma.

"Di permukaannya ini adalah film horor mencekam. Tapi di balik itu, Shutter menyimpan pesan tentang keadilan dan keberanian untuk bersuara. Kami ingin penonton bukan hanya takut, tapi juga tersentuh dan berpikir," kata Produser Falcon Pictures, Frederica, dalam keterangan pers yang diterima, Sabtu (25/10).

Kisah Shutter berpusat pada Darwin, seorang fotografer muda yang hidupnya berubah setelah kecelakaan tragis bersama kekasihnya Pia. Malam itu, di jalan yang sepi, mereka menabrak seorang wanita misterius, peristiwa yang kemudian menjadi awal dari mimpi buruk tanpa akhir. Tak lama setelah kejadian itu, Darwin mulai melihat bayangan ganjil di setiap hasil fotonya. Sosok perempuan yang sama terus muncul, menatap dari balik kegelapan. Seiring waktu, Pia menemukan fakta bahwa sosok tersebut bukan sekadar roh penasaran, melainkan korban dari sebuah kejahatan masa lalu yang melibatkan penyalahgunaan kekuasaan di lingkungan kampus.

Penelusuran Pia membuka rahasia kelam yang selama ini disembunyikan Darwin, kisah tentang pelecehan seksual di kampus, ketidaksetaraan gender, dan lemahnya mekanisme pelaporan yang membuat banyak korban bungkam. Teror yang mereka alami bukan hanya datang dari dunia gaib, tapi juga dari rasa bersalah dan ketidakadilan yang belum ditegakkan.

"Saya ingin membuat horor yang punya jiwa. Rasa takut dalam Shutter bukan hanya datang dari hantu, tapi dari kenyataan pahit yang sering diabaikan. Bayangan dalam film ini adalah metafora bagi trauma dan kebenaran yang ditekan," ujar Sutradara Herwin Novianto.

Shutter tidak hanya menghadirkan kengerian visual dan emosional, tapi juga membawa pesan penting agar kampus menjadi tempat yang aman bagi seluruh civitas akademika. Melalui kampanye #SafespaceForAll, film ini ingin mengingatkan publik bahwa pelecehan seksual bukan sekadar isu personal, tetapi masalah sistemik yang perlu dihadapi bersama.

Film yang dibintangi oleh Vino G Bastian, Anya Geraldine, Niken Anjani, Rangga Nattra, Dewi Gita, Michelle Tahalea, Angie Ang, dan Nugie ini, akan menebar terror keseluruh bioskop Indonesia mulai tanggal 30 Oktober 2025. (M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya