Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
Federasi Serikat Musisi Indonesia (FESMI) kembali menggelar Diskusi Industri Musik dan Musisi (DIKSI) episode ke-7. Di episode terakhir tahun 2021 ini mengambil tema Membangun Penghasilan Musisi Menjadi Lebih Terdiferensiasi” atau dengan kata lain menjadi lebih berbeda.
Pencipta lagu hits, musisi Yovie Widianto dengan penyanyi Andien Aisyah menjadi narasumber utama dengan moderator Dimas Danang. Diskusi yang digelar secara virtual ini dibuka oleh Ketua Umum FESMI Chandra Darusman dan diikuti oleh banyak penyanyi serta masyarakat dari berbagai wilayah.
Di masa pendemi covid-19 ini, banyak musisi yang semakin kreatif dan inovatif dalam mengekspresikan dirinya melalui berbagai macam ide dan gagasannya. Termasuk Yovie Widianto dan Andien. Dimana saat ini jadwal manggung yang hampir kosong selama pandemi, kreativitas musisi dituntut agar mampu menghadirkan sesuatu yang baru dan beda sehingga mampu terus bertahan bahkan semakin maju di masa pandemi yang serba menyulitkan.
“Pandemi ini menantang semua kreativitas. Dimana ada sulit disitu ada kreatifitas dan peluang. Setiap orang tentu memiliki lingkungan, situasi dan kesempatan yang berbeda. Namun kita harus yakin, pasti ada pintu-pintu peluang depan kita dan bagaimana kita menyikapinya. Tidak boleh kekeuh atau keras kepala, bahwa kita musisi yang harus selalu manggung,” kata Andien menjawab pertanyaan Danang tentang perlu tidaknya musisi mencari penghasilan yang berbeda di masa pandemi ini?, via Zoom, Jumat (19/11).
“Poinnya tidak hanya pandemi, dalam keseharian kita sebagai musisi dan manusia justru penting menciptakan sesuatu dan mampu beradaptasi dengan keadaan. Kita harus fleksibel memainkan topi-topi itu Aku yakinnya kita punya satu aku selalu bilang mine artpaper kita. Tapi kitakan punya banyak topi (keterampilan) yang kita mainkan sebagai bagian dari masyarakat. Kita bisa kembangkan musik menjadi hal lain. Karena musik kita juga bisa kembangkan potensi lain. Keterbukaan diri kita perlu banget dimiliki,” sambung Andien.
Yovie Widianto mengungkapkan, setiap musisi pasti memiliki potensi lain yang berbeda. Hal itulah yang harus terus digali, terutama dalam menghadapi situasi yang sulit.
“Kita harus bisa melihat dimanakah hal-hal yang baik selain kita bermusik menghadapi pandemi ini. Ini penting untuk membantu kehidupan kita. Dalam situasi yang sulit ini, tentu kita harus lebih cerdas menghadapinya,’ kata pencipta lagu Cantik ini.
“Karena potensi tajam sisi lainnya musisi bisa hasilkan secara ekonomi disaat kehilangan panggung-panggung. Mungkin medianya yang berbeda. Tentu ada hambatan-hambatan lainnya, karena biasa dipanggung saat ke digital ada culture shock. Tapi saya yakin selalu ada acara untuk bisa survive dengan kemampuan yang kita miliki,” lanjut Yovie.
Terkait persoalan royalti di Indonesia, menurut Yovie, bahwa hal tersbeut menjadi harapan banyak musisi. Hal ini terus dibahas bertahun-tahun sampai akhirnya hitungan-hitungan berbagai macam banyak tawaran yang datang.
“Yang jelas (Royalti), kita tidak memungkiri generasi sekarang makin maju. Kalau masih pakai cara tradisional harus pakai yang baru lagi, agar royalty ini bisa sampai proposional dan berkeadilan kepada para musisi. Termasuk transparansi. Era digital ini mestinya hal itu bisa dilakukan,” jelas Yovie.
“Saya mempelajari betul berbagai platform untuk bagaimana mengkalkulasi royalti. Kita tidak bisa menutup mata, semakin canggih tekhnologinya sekarang. Dan tentunya semakin mudah akuntabilitasnya menjadi harapan semua orang,” tandasnya.
Yovie dan Andien sepakat, persoalan royakti mestinya bisa dituntaskan segera dengan transparansi yang ada. Meski demikian, dirinya tetap mengapresiasi pemerintah yang saat ini terus konsern membenahi sistem royalti musisi untuk lebih baik lagi kedepannya.
“Kita bisa lebih hebat dari Korea. Karena sumber daya kita tinggi. Ini harta karun (potensi penonton YouTube) yang luar biasa. Harus kita jaga dan kembangkan. Dan ini tentu berimbas soal royaltinya, yang harusnya juga menjadi lebih baik untuk musisi dan juga bidang seni lainnya,” tutup Yovie. (OL-12)
Seluruh inisiatif lembaga sepanjang satu tahun terakhir telah diselaraskan dengan 17 Program Prioritas Nasional.
Sebanyak 3.500 penonton tumplek di empat titik penyelenggaraan Soundrenaline “Sana Sini di Makassar”
Orangtua perlu memiliki informasi yang cukup dan memadai ketika ingin membagikan edukasi pada anak untuk menyikapi atau merespons kondisi-kondisi sosial politik yang sedang terjadi.
Dompet Dhuafa akan menggelar Sarasehan Tokoh Bangsa bertema “Merajut Kebersamaan, Mewujudkan Merdeka dari Kemiskinan”.
MK menolak lima gugatan yang diajukan sejumlah pemohon berkaitan dengan pengujian formil dan materiil UU TNI
selama ini lebih dari 50% lembaga di Indonesia sudah memberikan layanan menggunakan UU TPKS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved