Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Novel Bumi Manusia Diangkat ke Layar Lebar

Ardi Teristi
25/5/2018 14:51
Novel Bumi Manusia Diangkat ke Layar Lebar
Sutradara Hanung Bramantyo Memperlihatkan lokasi pengambilan gambar film Bumi Manusia, di Dusun Gamplong, Sleman, DIY.(MI/ARDI)

PADA pertengahan 2018, Falcon Pictures akan memproduksi sebuah film dari sebuah novel yang sangat fenomenal, Bumi Manusia. Novel  tersebut merupakan bagian pertama dari tetralogi Pulau Buru karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, bagian lainnya adalah Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah.

Tetralogi Pulau Buru dalam khasanah sastra Indonesia sangat fenomenal karena telah sukses dicetak dalam 43 bahasa di seluruh dunia. Bahkan, beberapa kali nama Pramoedya Ananta Toer dikabarkan diusulkan sebagai peraih Nobel dalam bidang Kesusastraan karena karya-karyanya tersebut.

Novel Bumi Manusia sendiri ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ketika ia mendekam di tahanan pulau Buru. Ia menggunakan kertas bekas bungkusan semen untuk menulis kisah Bumi Manusia, sebelum dituliskan pada tahun 1975. Tahun 1980, novel Bumi Manusia sempat beredar bebas, hingga pada tanggal 29 Mei 1980 novel ini dilarang oleh Jaksa Agung.

Novel ini menceritakan kisah roman Minke, seorang pribumi di zaman kolonial Belanda, yang jatuh cinta kepada Annelies, anak blasteran seorang Belanda dengan seorang nyai bernama Nyai Ontosoroh. Ceritanya sendiri berlatar  belakang Kebangkitan Nasional sekitar tahun 1890-1918.

Produser Falcon Pictures, Frederica mengaku sangat tersanjung bisa mendapatkan kesempatan untuk memproduksi film yang diangkat dari novel karya legenda sastra Indonesia tersebut.

"Film Bumi Manusia adalah satu langkah ke depan yang penting buat Falcon  Pictures. Ini jadi tantangan buat kami bagaimana film Bumi Manusia akan bisa diterima, bukan hanya oleh pecinta novel ini, tapi juga bisa diterima oleh penikmat film pada umumnya dan generasi muda sekarang," kata dia saat konferensi pers di lokasi syuting di Dusun Gamplong, Kabupaten Sleman, DIY,  Kamis (24/5) petang.

Film ini pun diyakini dapat sukses mengikuti jejak film-film lain yang telah diproduserinya, seperti Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 dan 2 dan My Stupid Boss.

Untuk sutradara, Falcon menggandeng sosok Hanung Bramantyo. Dengan reputasi novel Bumi Manusia yang telah terbangun, Hanung seakan diserahkan beban yang berat untuk menyutradarai film Bumi Manusia.

"Saya harus bisa menyuguhkan film Bumi Manusia ini agar bisa diterima semua kalangan. Bagi saya ini tidak mudah," kata dia.

Di sisi lain, Hanung juga merasa bersyukur dan berterima kasih karena diberi kesempatan membuat film tersebut. Membuat film Bumi Manusia merupakan salah satu mimpinya yang bakal terwujud.

"Ini adalah mimpi yang jadi kenyataan bagi saya," kata Hanung.

Sementara itu, Putri ketiga Pramoedya Ananta Toer, Astuti Ananta Toer, yang mengungkapkan bagaimana dirinya berharap film ini dapat diserap dunia luar.

"Karya-karya Pram (Pramoedya Ananta Toer) dibuat berdasarkan catatan sejarah, statistik, dan riset mendalam. Saya berharap, mungkin juga Pram, setelah menonton film ini penonton akan diberikan kekuatan agar lebih berani, mencintai keadilan dan kebenaran, berpihak kepada yang benar, berpihak kepada yang adil, dan mencintai keindahan," paparnya.

Pemain yang akan terlibat dalam pembuatan film ini, antara lain Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, Mawar Eva De Jongh sebagai Annelies, Sha Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh, serta Donny Damara dan Ayu Laksmi sebagai orang tua Minke. Skenario film Bumi Manusia ditulis oleh Salman Aristo.

Film Bumi Manusia sendiri akan mulai syuting pada pertengahan bulan Juli 2018 ditargetkan bisa tayang perdana pada 2019. Produksi dan pengambilan gambar akan dilaksanakan di dua negara, yaitu Indonesia (Yogjakarta dan Semarang) dan Belanda. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya