Sabtu 17 Maret 2018, 23:00 WIB

Peminta Iba di Paris dan Barcelona

FOTO DAN TEKS: MI/HARIYANTO | Foto
Peminta Iba di Paris dan Barcelona

MI/HARIYANTO

 

Sore itu suhu udara minus 4 derajat celsius menyelimuti kawasan Champs Elysees, Paris, Kamis (1/3). Angin berembus kencang. Orangorang lalu-lalang di sepanjang jalan. Di ujung jalan, seorang bocah asyik menikmati minuman dalam kemasan. Sekujur tubuhnya terbungkus kain tebal. Hanya wajah yang terlihat. Kedua orangtua yang menemani memandang ke arah saya. Raut muka mereka mengisyaratkan ketidaksenangan ketika menyadari arah smartphone Samsung Galaxy S9 yang ada dalam genggaman saya. Mereka duduk di trotoar, bersandar pada pagar gedung tua.

Sang ibu menadahkan gelas bekas, mengharap belas kasih. Namun, hampir 30 menit saya perhatikan dari kejauh an, tak ada orang yang memedulikan. Saujana pilu itu tercuplik dalam jarak cuma berpuluh langkah dari Arc de Triomphe, monumen penanda Kota Paris. Kota yang menjadi episentrum bagi turis dari berbagai belahan dunia. Kota nan modis, beraroma romantis, tetapi banyak copet, tunawisma, dan pengemis. Para peminta iba itu juga terlihat di beberapa emperan pertokoan mewah yang berderet di Champs Elysees. Mereka juga ada di beberapa sudut kota.

Di kawasan Museum Louvre salah satunya. Mereka seolah menyambut kedatangan para turis yang ingin menikmati senyum misteri Mona Lisa karya maestro Leonardo da Vinci atau sekadar berfoto ria dengan latar belakang pintu masuk museum yang berbentuk piramida kaca. Masalah tunawisma, termasuk pengemis, merupakan wajah bopeng Prancis. Fakta muram itu, Januari lalu telah diakui oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, 39, yang menyatakan gagal mewujudkan Paris sebagai kota bebas tunawisma seperti yang pernah ia janjikan sebelumnya. Dalam sensus pertengahan Februari lalu, tercatat lebih dari 3.000 tunawisma hidup di Paris.

Namun, Wakil Wali Kota Paris Bruno Julliard mengatakan jumlah tersebut masih jauh lebih sedikit dari yang sebenarnya. Ihwal pengemis sejatinya bukan hanya monopoli Paris. Hampir semua kota besar di Eropa ternoda oleh masalah serupa. Pun pula di Barcelona. Keindahan kota yang dilanda euforia ingin merdeka dari Spanyol itu ternoda oleh kaum tunawisma yang populasinya berbeda tipis dengan Paris. Keberadaan mereka dan copet kerap memicu masalah. Terutama di objek wisata pejalan kaki La Rambla hingga seputar alun-alun Plaza de Catalunya, jantungnya Kota Barcelona. Paris dan Barcelona ialah kota yang indah memesona, tetapi Paris dan Barcelona banyak pengemis dan tunawisma. (M-1)

 

Baca Juga

MI/Agus Mulyawan

Dalam Keikhlasan dan Kekhusyukan

👤Agus Mulyawan 🕔Minggu 22 Juli 2018, 00:00 WIB
SEPERTI tangan-tangan yang menggapai di pintu Kabah, begitulah perasaan jiwa ketika akhirnya bisa menatap Baitullah di akhir Juni lalu....
 MI/PANCA SYURKANI

Rusia yang Bersatu

👤FOTO DAN TEKS: MI/PANCA SYURKANI 🕔Minggu 13 Mei 2018, 01:05 WIB
JUTAAN warga mengular sepanjang 6 kilometer, melangkah perlahan menuju Lapangan Merah,...
MI/Tiyok

Dari Kos-kosan Menuju Pesantren

👤MI/Tiyok 🕔Sabtu 05 Mei 2018, 00:05 WIB
TERPIDANA kasus korupsi kartu tanda penduduk elektronik (KTP-E), Setya Novanto alias Setnov, mulai Jumat (4/5) menjalani hukumannya di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya