Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Bir Pletok: Tradisi Betawi yang Tetap Relevan di Era Modern

Raiza Khan, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila
12/12/2025 11:05
Bir Pletok: Tradisi Betawi yang Tetap Relevan di Era Modern
Raiza Khan(DOK PRIBADI)

BIR pletok dibuat dari jahe, kayu manis, cengkeh, kapulaga, daun pandan, dan kayu secang yang memberi warna merah alami. Rasa hangat dan aroma rempahnya menghadirkan sensasi khas sekaligus menyehatkan. Di saat minuman herbal kembali diminati, bir pletok sebenarnya telah lebih dulu hadir sebagai pilihan alami yang mendukung gaya hidup sehat.

Di tengah dominasi kopi susu, boba, dan berbagai minuman modern, bir pletok menunjukkan bahwa tradisi dapat bertahan tanpa menolak perubahan. Minuman ini tidak memerlukan tampilan berlebihan untuk dikenal. Kekuatan utamanya terletak pada sejarah, cita rasa, dan makna budaya yang melekat pada setiap racikannya.
Meski demikian, bir pletok tetap dapat dikembangkan agar lebih dekat dengan generasi muda. Inovasi seperti kemasan siap minum, desain botol modern, atau kolaborasi dengan kedai minuman dapat memperluas jangkauan tanpa menghilangkan karakter rempahnya.

Bir pletok juga memiliki tempat khusus dalam berbagai acara. Pada pernikahan dan adat Betawi, minuman ini menjadi bentuk penghormatan bagi tamu. Dalam acara resmi bertema budaya lokal, bir pletok tampil elegan dan otentik. Sementara itu, pada festival kuliner dan kegiatan pariwisata, bir pletok dapat menjadi jembatan bagi wisatawan untuk mengenal budaya Betawi dengan lebih dekat.

Hasil observasi menunjukkan bahwa proses produksi bir pletok masih mempertahankan metode tradisional berbasis rempah. Maestro budaya Betawi, Indra Sutisna, menjelaskan bahwa bir pletok diracik dari beragam rempah pilihan. Ia menyebutkan, “Jahe sebagai bahan utama… kapulaga, pala, kayu manis, lada hitam, cabai Jawa, pandan, serai, gula, garam, serta kulit kayu secang tua yang memberikan warna merah alami.” Menurutnya, variasi bahan saat ini lebih banyak ketimbang pada masa lalu. “Sekarang bahannya itu sampai 14 macam, bahkan ada yang lebih. Mungkin dulu hanya 6 atau 7 macam.”

Secara budaya, bir pletok masih dipandang sebagai simbol identitas Betawi. Indra Sutisna menjelaskan bahwa minuman ini lahir sebagai respons kreatif terhadap pengaruh kolonial Belanda. Ia menuturkan, “Bir pletok dibuat sebagai tandingan dari bir Belanda yang memabukkan. Kalau Belanda minum bir keringetan dan mabuk, orang Betawi minum bir pletok juga keringetan, tapi sehat.”

Ia juga menegaskan bahwa bir pletok kini tidak hanya hadir dalam ritual adat, tetapi telah berkembang menjadi produk UMKM dan oleh-oleh khas Betawi. “Sekarang orang kalau hajatan mesen dua sampai empat galon bir pletok, bahkan ada yang buat goodie bag oleh-oleh botolan,” ujarnya.

Sebagai minuman tradisional yang sarat nilai budaya, bir pletok juga dapat berperan sebagai media edukasi. Pengenalan proses pembuatan, sejarah, dan filosofi rempahnya dapat mengajak generasi muda memahami dan menghargai kekayaan kuliner Nusantara. Dengan cara ini, bir pletok tidak hanya dinikmati sebagai minuman, tetapi juga dihargai sebagai warisan yang perlu dijaga bersama.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya