Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Dalihan Na Tolu di Era Modern: Menjaga Kearifan di Tengah Arus Perubahan

Saria Yola Faulina, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila
10/12/2025 12:05
Dalihan Na Tolu di Era Modern: Menjaga Kearifan di Tengah Arus Perubahan
Saria Yola Faulina(DOK PRIBADI)

SUKU Batak Toba memiliki sistem kekerabatan yang unik dan kompleks bernama Dalihan Na Tolu, yang secara harfiah berarti 'tungku berkaki tiga'. Filosofi ini membagi masyarakat Batak ke dalam tiga unsur penting: hulahula (pemberi istri), dongan tubu (saudara semarga), dan boru (penerima istri). Ketiga unsur ini dipercaya sebagai fondasi harmoni sosial yang telah bertahan selama berabad-abad. Namun, di tengah derasnya arus modernisasi dan urbanisasi, relevansi Dalihan Na Tolu mulai dipertanyakan oleh generasi muda Batak yang hidup di perkotaan.

Ketika Tradisi Bertemu Modernitas

Fenomena yang menarik muncul dalam komunitas Batak Toba saat ini. Di satu sisi, tradisi seperti acara pernikahan, pemakaman, dan syukuran masih dirayakan dengan semarak sesuai dengan protokol Dalihan Na Tolu. Kehadiran hulahula masih dihargai dengan memberikan tempat yang terhormat, memberikan ulos, dan menyampaikan jambar hata (nasihat adat). Di sisi lain, dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda yang tinggal di Jakarta, Surabaya, atau kota-kota besar lainnya, pelaksanaan tradisi ini mulai berkurang.

Banyak anak muda Batak yang bahkan tidak hafal silsilah marga mereka sendiri, apalagi memahami posisi mereka dalam struktur Dalihan Na Tolu. Pertanyaan kritis pun muncul: apakah sistem yang lahir dari konteks agraris dan komunal di tepian Danau Toba masih relevan untuk diterapkan dalam masyarakat urban yang individual dan dinamis?

Dilema Generasi Milenial dan Gen Z Batak

Generasi muda Batak sedang berhadapan dengan situasi yang cukup rumit. Mereka dibesarkan di antara dua dunia: satu yang berlandaskan tradisi dengan penekanan pada kolektivitas dan struktur hierarkis, dan satu lagi yang modern yang mengutamakan individualitas serta kesetaraan. Dalam hal pernikahan, contohnya, banyak pasangan muda yang lebih memilih untuk menikah dengan sesama Batak dari marga yang dianggap 'tepat' menurut adat, bukan karena pemahaman yang mendalam mengenai filosofi tersebut, melainkan semata-mata untuk menghindari konflik dengan orangtua.

Tekanan sosial dari keluarga besar untuk mematuhi aturan Dalihan Na Tolu masih sangat kuat. Kasus pernikahan semarga (marsisarian) misalnya, meskipun secara genetika modern tidak lagi bermasalah pada generasi kelima atau keenam, tetap menjadi tabu besar yang bisa menyebabkan pengucilan sosial. Pertanyaannya kemudian, sampai kapan larangan ini harus ditaati tanpa pemahaman yang mendalam tentang alasan filosofis dan konteks historisnya?

Mencari Jalan Tengah

Meski demikian, Dalihan Na Tolu sesungguhnya bukan sekadar aturan kaku yang membatasi kebebasan. Di balik struktur yang tampak hierarkis, terdapat nilai-nilai luhur tentang keseimbangan, saling menghormati, dan tanggung jawab sosial yang sangat relevan di era apapun. Konsep marsisarian (persaudaraan), marsimatua-matua (saling menghormati yang lebih tua), dan elek marsitanda-tandaon (gotong royong) adalah nilai-nilai universal yang dibutuhkan bahkan dalam masyarakat modern.

Yang perlu dilakukan bukan menghapus tradisi, melainkan mereinterpretasi dan mengkontekstualisasikannya. Generasi muda Batak perlu diberi ruang untuk memahami Dalihan Na Tolu bukan sebagai beban, melainkansebagai identitas budaya yang dinamis. Edukasi budaya yang tidak dogmatis, dialog antargenerasi yang terbuka, dan fleksibilitas dalam implementasi adalah kunci agar tradisi tetap hidup tanpa membelenggu.

Dalihan Na Tolu adalah warisan budaya yang berharga, tetapi keberadaannya di zaman sekarang tergantung pada sejauh mana komunitas Batak bersedia untuk berkembang. Tradisi yang tetap ada bukanlah yang statis, melainkan yang mampu menyesuaikan diri sambil tetap mempertahankan inti nilai-nilainya. Generasi muda Batak berhak untuk mempertanyakan, menilai, bahkan mengubah tradisi, bukan untuk merusaknya, melainkan justru untuk menyelamatkannya dari kepunahan. Karena pada akhirnya, tradisi yang tetap hidup adalah yang memiliki relevansi dengan kehidupan orang-orang yang menghayatinya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya