Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Defisit Perdagangan Perdana

MI/IRENE HARTY
16/12/2015 00:00
Defisit Perdagangan Perdana
(Sumber: BPS/Foto: ANTARA/Grafis: SENO)
BADAN Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan pada November 2015 defisit sebesar US$346,4 juta, dengan ekspor sebesar US$11,16 miliar dan impor US$11,51 miliar. Defisit tersebut baru pertama kali terjadi selama 2015.

Kepala BPS Suryamin menuturkan hal ini dipicu lonjakan impor sebesar 3,61% dibandingkan bulan sebelumnya. Sebaliknya, ekspor justru menurun sampai dengan 7,91%.

"Kenaikan (impor) ini terkait dengan investasi untuk perusahaan dan juga efek dari belanja pemerintah," ungkap Suryamin di kantor pusat BPS, Jakarta, kemarin.

Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, impor nonmigas dengan lonjakan terbesar antara lain perhiasan/permata dengan 607,36% menjadi US$297,8 juta. disusul impor serealia naik 58,95% menjadi US$346,2 juta.

Kemudian, impor barang dari besi dan baja naik 21,78% menjadi US$ 314,8 juta, impor besi dan baja naik 17,64% menjadi US$552,8 juta, dan terakhir impor mesin dan peralatan listrik naik 11,71% menjadi US$1,4 miliar.

Namun, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih menyatakan pemerintah tidak konsisten terhadap rencana pembangunan infrastruktur. Niatan yang digadang-gadang pemerintah tersebut tidak terlihat dalam kinerja ekspor-impor pada November 2015.

Menurut Lana, data BPS masih menunjukkan impor barang modal yang negatif, yakni sebesar minus 2,6% pada November 2015 secara month on month. "Justru barang modal yang saya harapkan naik malah enggak naik, minusnya malah 2,6%," ucap Lana kepada Media Indonesia, kemarin.

Pelaku usaha melihat tren defisit masih akan berlanjut hingga 2016 mendatang, seiring dimulainya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Tahun depan malah lebih berat sebenarnya perdagangan kita, apalagi MEA sudah dimulai. Berarti perdagangan barang dari luar bergerak lebih bebas, kemungkinan kita masih defisit," cetus Ketua Umum Asosiasi Mainan Indonesia Sutjiadi Lukas, saat dihubungi, kemarin.

Ekspor stagnan

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan neraca perdagangan mengalami defisit karena ekspor Indonesia belum pulih atau masih stagnan. "Yang perlu diwaspadai ialah memang ekspor kita belum pulih, jadi ini berpengaruh terhadap neraca perdagangan kita," kata Bambang di Jakarta, kemarin.

Namun, ia menganggap defisit November sebagai gejala yang baik selama masih menunjukkan peningkatan impor barang modal. Hal itu merupakan indikator yang baik bagi pertumbuhan ekonomi ke depan.

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan kinerja perdagangan Tanah Air sangat bergantung kepada situasi global. "Tergantung ekonominya dunia sedang bergerak apa enggak. Kalau dunia memang belum membaik, untuk meningkatkan ekspor belum mudah," ujar dia.

Meski pertama kali terjadi defisit neraca perdagangan di 2015, Wapres Jusuf Kalla tetap optimistis karena hal itu merupakan indikasi peningkatan industri Tanah Air. "Itu juga akibat industri kembali tumbuh, sehingga impor bahan bakunya naik." (Jes/Tes/Jay/Kim/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya