BERDASARKAN survei Bank Indonesia (BI), tingkat keyakinan pasar akan normalisasi The Fed fund rate (FFR) mencapai 96%. FFR akan ditentukan dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal pada 15-16 Desember waktu AS. "Kalau itu naik, yang perlu kita waspadai setiap kuartal pada 2016 akan naik lagi sampai akhir 2017," ujar Gubernur BI Agus Martowardojo dalam Temu Akhir Tahun di Kantor Pusat BI, Jakarta, kemarin. Dalam perhitungan Agus, FFR akan mencapai 1,125% sampai pada akhir 2016 dan 2,625% sampai akhir 2017.
Tujuh tahun terakhir AS membekukan suku bunga acuan di level 0% demi perbaikan ekonomi. Menurut Agus, hal itu tentu akan memengaruhi nilai tukar rupiah karena adanya arus modal yang keluar dari dalam negeri. Namun, ia yakin pelemahan rupiah temporer. Sebagai penentu kebijakan moneter Agus mengaku masih belum berani menentukan langkah apa yang diambil saat ini. "Nanti pada 17 Desember kami akan ada RDG (rapat dewan gubernur)," paparnya. Namun, lanjut Agus, salah satu langkah menguatkan kurs rupiah ialah transaksi valuta asing harus dibatasi.
Sebab 70% dari US$8 miliar transaksi itu mesti dibayar dengan rupiah. Ia menambahkan, konversi devisa hasil ekspor ke rupiah masih rendah, sekitar 11%. "Jika itu semua ditukar dalam rupiah, kita punya valas cukup." Meski FFR belum diputuskan, kurs rupiah pada perdagangan kemarin ditutup melemah 130 poin atau 0,93% ke level Rp14.123 per US$. Indeks harga saham gabungan juga terkoreksi 0,44% atau 19,33 poin ke level 4.374,19.
Selaras dengan Gubernur BI, Menko Perekonomian Darmin Nasution pun menyatakan pelemahan rupiah tidak akan lama. Pelemahan itu, menurutnya, reaksi wajar dari keluarnya kebijakan penting. "Maka, tentu saja banyak yang ambil kuda-kuda, pasang strategi, dan segala macam." Pada kesempatan terpisah, Kepala Riset Recapital Securities Andrew Argado mengatakan penaikan FFR tidak perlu dikhawatirkan karena sudah diantisipasi pasar. Jika perekonomian tumbuh signifikan, penyerapan anggaran pada 2016 lancar dan cepat, dolar pasti akan kembali.