Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Pensiun Negara Maju tidak Senikmat Dulu

Irwan Saputra/E-4
04/12/2015 00:00
Pensiun Negara Maju tidak Senikmat Dulu
()
NEGARA maju kini tidak lagi menjadi surga bagi para pensiunan yang ingin menikmati masa senja mereka.

Semakin mahalnya biaya hidup membuat pekerja muda saat ini harus purnakarya pada usia yang lebih tua dan pendapatan yang lebih kecil dari generasi sebelumnya.

Data Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyebutkan beberapa negara maju akan menerapkan batas usia kerja hingga usia 70 tahun.

Pada 2054, beberapa negara, seperti Inggris, Irlandia, Republik Ceko, berencana mempekerjakan karyawan hingga usia maksimal 68 tahun.

Namun, Luksemburg dan Slovenia akan tetap memberlakukan masa pensiun di usia 60 tahun.

"Rata-rata, negara-negara maju bakal memberlakukan usia rata-rata pensiunan 65 tahun," demikian rilis dari OECD seperti dikutip CNN.com, Rabu (2/12).

Selain itu, OECD yang melakukan penelitian di 34 negara anggotanya mendapati, akan terjadi kemerosotan pendapatan bagi para pensiun di negara-negara tersebut.

"Generasi mendatang akan cenderung mendapatkan hak pensiun lebih sedikit daripada hari ini, dan menghadapi risiko serius menjadi pensiunan yang miskin," demikian tertera dalam hasil penelitian itu.

Namun, penurunan pendapatan pensiun malah lebih besar dirasakan pekerja dengan gaji menengah.

Untuk mereka yang bekerja dengan gaji rendah, penurunan pendapatan pesiunan tidak terlalu besar.

Seperti di Inggris, para pensiunan dengan gaji menengah harus rela mendapatkan uang pensiun hanya 38% dari gaji mereka saat bekerja.

Adapun bagi mereka dengan penghasilan rendah, pendapatan pensiun mencapai 69%dari gaji.

Amerika Serikat memberikan gaji pensiunan lebih besar, yakni sekitar 45% dari gaji saat bekerja.

Namun pada 2054, diperkirakan jumlah itu akan merosot ke 35%.

Untuk warga Spanyol, mereka kan mendapatkan uang pensiun 82%, di Luxemburg 77% dan Turki 75% dari pendapatan mereka saat bekerja.

Menurut OECD, penurunan gaji pensiunan pada 2054 tersebut karena naiknya jumlah warga purnakarya di negara-negara maju.

"Jumlah para pekerja muda lebih sedikit untuk terus bekerja dan membayar para pensiunan."

Jumlah para pekerja usia 55-64 tahun di negara-negara maju, saat ini naik 7% dari dekade sebelumnya.

"Banyak pensiunan saat ini, paling tidak pria, bekerja dengan stabil sepanjang karir mereka. Namun, hal tersebut terlihat tidak sesuai dengan para pekerja pemula saat ini," demikian penjelasan rilis itu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya