Headline

Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.

Pengamat: Keberhasilan Hilirisasi Nikel Ditentukan pada Transfer Teknologi

Irvan Sihombing
31/3/2026 10:28
Pengamat: Keberhasilan Hilirisasi Nikel Ditentukan pada Transfer Teknologi
Ilustrasi(Dok. Istimewa)

MENGACU pada USGS 2026, Indonesia saat ini memegang sekitar 44% cadangan nikel dunia dan menjadi pemain utama dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik.

Pengamat industri menilai keberhasilan hilirisasi jangka panjang akan sangat ditentukan oleh seberapa besar transfer teknologi yang benar-benar mengakar di dalam negeri.

"Pentingnya asimilasi teknologi mutakhir agar hilirisasi mampu memicu industrialisasi nasional yang berdampak besar. Tanpa hal tersebut, nilai tambah ekonomi dinilai sulit berkembang secara berkelanjutan," kata Ekonom Energi UGM Fahmy Radhi dalam keterangan pers, Selasa (31/3/2026).

Selama beberapa tahun terakhir, kawasan industri Morowali di Sulawesi Tengah berkembang menjadi salah satu episentrum hilirisasi nikel dunia.

Ini memunculkan kebutuhan besar akan tenaga kerja lokal yang menguasai teknologi proses seperti High Pressure Acid Leach (HPAL), rekayasa material, serta pengolahan logam strategis.

Dalam beberapa tahun terakhir, nilai ekspor produk hasil hilirisasi nikel Indonesia tercatat meningkat tajam, bahkan naik berkali-kali lipat dibanding periode sebelum larangan ekspor bijih mentah. Namun tahap berikutnya adalah memastikan nilai tambah tersebut juga tecermin dalam kualitas SDM nasional.

Salah satu upaya yang mulai terlihat adalah program pengembangan talenta teknik yang melibatkan mahasiswa Indonesia untuk menempuh pendidikan lanjutan di bidang metalurgi, pertambangan, dan material energi baru.

Sebanyak 266 mahasiswa Indonesia telah mengikuti program pendidikan teknik hasil kolaborasi antara pemerintah Indonesia, GEM Co., Ltd, dan Central South University (CSU) di Tiongkok.

Program ini difokuskan pada penguatan keahlian di bidang metalurgi nikel, rekayasa material baterai, teknologi pemrosesan mineral, serta manajemen rantai pasok industri energi baru.

Dalam jangka panjang, program tersebut menargetkan pencetakan 100 doktor teknik, 1.000 magister teknik, dan 10.000 ahli teknis sebagai bagian dari dukungan terhadap agenda industrialisasi nasional.

Karena itu, penguatan kapasitas insinyur lokal menjadi bagian penting agar Indonesia tidak berhenti sebagai basis pengolahan bahan mentah, tetapi mampu naik kelas menuju industri berbasis teknologi dan inovasi.

Sejumlah lulusan program pendidikan tersebut kini telah kembali ke Indonesia dan menempati posisi strategis di kawasan industri Morowali.

Salah satunya Evan Wahyu Kristiyanto, alumni angkatan pertama, yang bekerja sebagai Wakil Manager departemen HPAL skala industri di PT QMB New Energy Materials.

Kisah para lulusan ini memperlihatkan bagaimana hilirisasi mulai memasuki babak baru, bukan hanya pembangunan infrastruktur industri, tetapi juga pembentukan kapasitas SDM nasional. (I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya