Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Terminal 2 Soetta Berbenah, Modern Tanpa Kehilangan Nostalgia

Insi Nantika Jelita
13/3/2026 20:00
Terminal 2 Soetta Berbenah, Modern Tanpa Kehilangan Nostalgia
Terminal 2 Soekarno-Hatta(Antara )

DI tengah modernisasi besar-besaran Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Terminal 2 hadir dengan wajah yang diperbarui, namun tetap menyimpan rasa lama yang sulit tergantikan. Renovasi yang dilakukan memang membawa sejumlah perubahan, tetapi bagi banyak orang, Terminal 2 bukan sekadar bangunan transit. Ia adalah ruang penuh cerita, tempat perpisahan, kepulangan, dan kenangan yang tumbuh sejak bertahun-tahun lalu. Wajah baru Terminal 2 di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta berhasil menghadirkan tampilan yang lebih modern tanpa kehilangan identitas aslinya.

Wira Nurmansyah, traveler influencer, menyebutkan bahwa suasana bandara dengan konsep saat ini menjadikannya lebih terang, terbuka serta clean.

“Buat saya pribadi, ini upgrade yang signifikan karena Terminal 2 terasa lebih relevan dengan kebutuhan penumpang, baik dari sisi estetika maupun kenyamanan,” sebutnya.

Menurut Benedictus Nathaniel R, seorang aviation geek (AvGeek) atau yang menggemari dan mengikuti perkembangan dunia maskapai, menilai perubahan paling terasa justru bukan pada tampilan fisik secara drastis, melainkan pada kebijakan akses dan tata kelola ruangnya.

“Kalau dulu, akses ke sisi dalam terminal itu tidak sebebas sekarang, karena ada dua lapis security checkpoint: satu di depan pas mau masuk ke checkin, satu di belakang mau masuk boarding gate,” ucap Nathaniel.

Kini, area komersial tidak lagi eksklusif hanya untuk penumpang. Pengantar dan pengunjung bisa ikut menikmati tenant yang ada di dalam. Toko dan F&B mendapat potensi penjualan lebih luas, penumpang tidak merasa terlalu dibatasi, dan pengantar pun punya ruang untuk menunggu dengan nyaman.

Sementara itu, Terminal 2F kini dipusatkan sebagai terminal khusus haji dan umrah. Pengaturan ini membuat arus penumpang lebih tertata, terutama saat musim ramai. Ada kombinasi antara renovasi fisik dan penyesuaian fungsi yang membuat operasional menjadi lebih efisien.

“Otomatis kebijakan dan layout baru ini menguntungkan semua pihak: penumpang enggak ribet, pengantar punya pilihan baru buat jalan-jalan di terminal, dan yang jualan juga terbantu salesnya karena bisa melayani pengantar juga,” sebutnya.

Selain desain dan renovasinya, Wira menyoroti kemudahan alur penumpang saat berada di Terminal 2. Dengan ruangan yang lebih lega, kepadatan pada Terminal 2 dianggap lebih terdistribusi dengan baik. Walaupun begitu ada sedikit catatan untuk signage yang terlalu kecil, sehingga agak membingungkan. Eka Prakasa, avgeek lainnya, menyebut Terminal 2 sebagai terminal yang paling manusiawi di Soekarno-Hatta.

“Jarak dari pesawat ke baggage claim atau dari pintu masuk ke gate keberangkatan relatif singkat, sekitar 5-10 menit berjalan kaki. Tidak melelahkan,” sebutnya.

Di tengah tren bandara global yang semakin besar dan futuristik, Terminal 2 menawarkan pengalaman yang lebih intimate. Tidak terasa intimidating, tidak membuat penumpang harus berjalan terlalu jauh sambil menarik koper berat.

“Secara arsitektur, dia yang paling kerasa Indonesia banget kalau dibandingkan sama T3, rasanya kaya lebih cozy gimana gitu,” ucap Eka.

Secara desain, renovasi memang membuat Terminal 2 terasa lebih modern dan lebih steril dibanding sebelumnya. Namun karena keterbatasan struktur bangunan lama, perubahan arsitekturnya tidak seekstrim terminal generasi baru. Justru di situlah daya tariknya.

Jika dibandingkan dengan Terminal 3 yang megah dan sangat kontemporer, Terminal 2 masih mempertahankan nuansa arsitektur yang terasa lebih Indonesia. Material, bentuk atap, dan atmosfer ruangnya menghadirkan rasa nyaman yang berbeda. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya