Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
MASYARAKAT diharapkan untuk tenang, tidak panik, dan tidak melakukan penimbunan bahan bakar minyak (BBM). Pasalnya, hal itu justru dapat berdampak buruk terhadap perekonomian nasional.
Menurut Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, kondisi BBM saat ini terbilang aman. Dengan cadangan sekitar 20 hari, bukan berarti setelah itu BBM akan habis, karena pemerintah dalam hal ini Pertamina akan terus melakukan stabilisasi stok.
Cadangan sekitar 20 hari yang dimaksud adalah cadangan operasional, semacam inventory. Cadangan tersebut berada dalam penyimpanan atau storage.
”Masyarakat tidak perlu khawatir. Karena yang namanya 20 hari, tidak kemudian 20 hari ke depan habis. Tapi ketika dijual, katakanlah hari ini dijual seribu, Pertamina akan mendatangkan juga seribu, bahkan lebih. Karena mereka berkepentingan, bisnis mereka running terus,” ungkap Komaidi, dalam sebuah talkshow, di Jakarta, Sabtu (7/3).
Sebagai ilustrasi, Komaidi memisalkan toko. Ketika barang terjual, pasti akan membeli lagi untuk mengisi stok. Kondisi seperti itu, jelasnya, sebenarnya juga sudah berlangsung lama dan reguler. Tidak hanya saat ini saja.
Cadangan sekitar 20 hari tersebut, kata Komaidi, bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara lain. Termasuk Laos dan Vietnam. ”Vietnam 15 hari cadangan operasionalnya. Laos hanya 10 hari. Artinya, sebetulnya ini sesuatu yang biasa,” imbuhnya.
Makanya, Komaidi berharap masyarakat tenang, termasuk menjelang Idul Fitri. Pasalnya, Pertamina tentu sudah mempersiapkan pendistribusian dengan baik, termasuk melalui Satgas Ramadhan dan Idulfitri. ”Dan saya kira stok di masing-masing wilayah juga sudah aman,” imbuhnya.
Pada acara sama, anggota Dewan Energi Nasional (DEN) M Kholid Syeirazi juga sependapat. ”Tidak perlu panik. Tidak perlu panik,” kata Kholid.
Kholid mengatakan terdapat tiga jenis cadangan energi. Yaitu cadangan strategis, cadangan penyangga energi, dan cadangan operasional. Yang disebut cadangan 20-23 hari ialah cadangan operasional yang disediakan badan usaha seperti Pertamina.
Untuk cadangan operasional disediakan oleh badan usaha dalam hal ini Pertamina yang sifatnya sirkuler. Jadi kalau misalnya dia terpakai, ya sudah disediakan stok untuk dipasok lagi dari sumber-sumber impor. "Itu sifatnya sirkuler. Jadi kalau misal terpakai, ya sudah disediakan stok untuk dipasok lagi dari sumber-sumber impor,” tutur Kholid.
Sedangkan cadangan penyangga energi, lanjut Kholid, bersifat mandatory dan harus disediakan pemerintah sesuai kemampuan keuangan negara. Ketentuan tersebut diatur melalui Perpres Nomor 96 tahun 2024 tentang Cadangan Penyangga Energi (CPE) yang harus disediakan oleh pemerintah.
Karena itu, Kholid kembali menegaskan kondisi BBM saat ini dipastikan aman.
Termasuk menjelang Idul Fitri. Sebagai contoh, cadangan Pertalite bahkan sampai 28 hari dan Pertamax 29 hari. Begitu pula Avtur, kata Kholid, juga aman.
”Jadi saya mengimbau masyarakat, gak perlu panik. Yang disebut sekitar 20 hari itu stok sirkuler. Jadi keluar masuk. Begitu ada barang keluar, ada barang yang masuk. Itu disampaikan para profesor sejak tahun 70-an,” katanya.
Apalagi, kata dia, sampai saat ini Pertamina juga masih menghasilkan minyak. Yaitu melalui pengeboran yang terus dilakukan. Selain itu juga terus melakukan eksplorasi dan penambahan cadangan. Upaya tersebut, menurut Kholid, terus dilakukan sampai sekarang.
”Jadi gak ada masalah. Kita insya Allah akan bisa mudik dengan riang. Mudah-mudahan konflik selesai dan masyarakat tak perlu panik, termasuk menimbun. Karena itu akan menciptakan moral hazard negatif terhadap perekonomian,” pungkasnya. (Ant/E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved