Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Astra Kantongi Pendapatan Rp323,4 Triliun di 2025, Bisnis Jasa Keuangan Jadi Penopang

Rahmatul Fajri
27/2/2026 22:07
Astra Kantongi Pendapatan Rp323,4 Triliun di 2025, Bisnis Jasa Keuangan Jadi Penopang
Ilustrasi(Dok Istimewa)

PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp323,4 triliun sepanjang tahun 2025. Meski menghadapi tantangan penurunan harga batu bara dan lesunya pasar otomotif nasional, emiten berkode saham ASII ini tetap mampu menjaga stabilitas kinerja keuangan.

Pendapatan tersebut tercatat turun tipis 2 persen secara tahunan (year-on-year) dari angka Rp328,5 triliun pada tahun 2024. Sementara itu, laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp32,8 triliun, terkoreksi 3 persen dibandingkan perolehan tahun sebelumnya yang mencapai Rp33,9 triliun.

Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, menyatakan bahwa diversifikasi portofolio grup menjadi kunci resiliensi perusahaan di tengah tekanan eksternal.

“Laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” ujar Djony dalam keterangan resminya, Jumat (27/2/2026).

Lini bisnis Otomotif & Mobilitas tetap menjadi tulang punggung dengan laba bersih Rp11,4 triliun. Di tengah penurunan pasar mobil nasional sebesar 7 persen, Astra berhasil mempertahankan dominasi pasar sebesar 51 persen. Di sektor roda dua, PT Astra Honda Motor tetap kokoh dengan pangsa pasar 78 persen.

Penyumbang pertumbuhan paling konsisten datang dari divisi Jasa Keuangan yang laba bersihnya melonjak 9 persen menjadi Rp9,0 triliun. Hal ini didorong oleh kenaikan nilai pembiayaan baru yang tumbuh 5 persen menjadi Rp112,3 triliun.

Divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi mengalami penurunan laba 24 persen menjadi Rp9,1 triliun akibat normalisasi harga batu bara. Namun, penurunan ini terkompensasi oleh bisnis emas yang terbantu lonjakan harga jual rata-rata sebesar 40 persen, serta divisi Agribisnis yang labanya melesat 28 persen berkat kenaikan harga CPO.

Lebih lanjut, Astra berencana tetap memanjakan pemegang saham dengan mengusulkan total dividen sebesar Rp390 per saham untuk tahun buku 2025. Jumlah ini mencakup dividen final Rp292 per saham yang akan diputuskan pada RUPS April mendatang, ditambah dividen interim Rp98 per saham yang telah dibagikan sebelumnya.

Selain dividen, perseroan juga baru saja menuntaskan program pembelian kembali (buyback) saham tahap kedua senilai Rp685 miliar pada 25 Februari 2026, menyusul tahap pertama senilai Rp2 triliun yang rampung Januari lalu.

Prospek 2026: Fokus Ekspansi dan Efisiensi

Menatap tahun 2026, Astra tengah melakukan tinjauan strategis komprehensif terhadap portofolio bisnisnya yang ditargetkan selesai pada pertengahan tahun ini. Astra juga aktif melakukan akuisisi strategis di sektor kesehatan (Halodoc dan Hermina), logistik (PT Mega Manunggal Property Tbk), hingga tambang emas guna memperkuat nilai jangka panjang.

"Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan," pungkas Djony. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya