Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
SOROTAN lembaga pemeringkat dan indeks global seperti MSCI dan Moody’s terhadap Indonesia dinilai bukan semata persoalan angka, melainkan menyangkut kepercayaan pasar. Persepsi terhadap stabilitas kebijakan, kredibilitas institusi, dan konsistensi arah ekonomi menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan investor global.
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) yang juga Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, Haidar Alwi, menyatakan pemulihan kepercayaan tidak cukup dilakukan melalui bantahan atau klarifikasi sesaat.
“Pasar global bekerja berdasarkan ekspektasi. Karena itu, yang dibutuhkan bukan reaksi defensif, tetapi langkah nyata yang menunjukkan Indonesia tetap berada pada jalur kebijakan yang dapat diprediksi,” ujar Haidar Alwi dalam keterangannya, Kamis (12/2).
TUJUH STRATEGI
Menurut dia, terdapat tujuh strategi yang perlu ditempuh pemerintah untuk memulihkan kepercayaan investor global.
Pertama, memperkuat stabilitas kebijakan dan arah fiskal. Investor membutuhkan kepastian mengenai pengelolaan defisit, pembiayaan utang, serta prioritas belanja negara dalam jangka menengah. Roadmap fiskal yang jelas akan menurunkan persepsi risiko terhadap stabilitas makroekonomi. “Ketika arah fiskal jelas dan terukur, biaya risiko yang biasanya dibebankan investor terhadap aset Indonesia dapat ikut mereda,” katanya.
Kedua, konsolidasi narasi ekonomi pemerintah. Haidar menilai perbedaan pernyataan pejabat ekonomi kerap memicu respons negatif pasar. Karena itu, komunikasi harus disampaikan secara teknokratis, berbasis data, dan terukur.
“Investor membaca setiap pernyataan publik sebagai sinyal kebijakan. Pemerintah perlu memastikan komunikasi ekonomi konsisten dan tidak emosional,” ujarnya.
Ketiga, penguatan kredibilitas institusi ekonomi. Ia menekankan pentingnya independensi bank sentral, disiplin fiskal, serta transparansi regulator pasar. Peran teknokrat dalam komunikasi ekonomi dinilai dapat mengalihkan fokus pasar dari dinamika politik jangka pendek ke fundamental ekonomi. “Transparansi data fiskal dan pembiayaan proyek besar penting agar investor bisa menilai risiko secara objektif,” kata Haidar.
Keempat, engagement langsung dengan investor global. Pemerintah dinilai perlu aktif berdialog dengan fund manager internasional dan melakukan pertemuan di pusat keuangan dunia untuk menyampaikan data makro terkini. “Tujuannya bukan sekadar menjelaskan kondisi, tetapi mengembalikan narasi pertumbuhan jangka panjang Indonesia,” ujarnya.
Kelima, percepatan reformasi struktural yang konkret. Penyederhanaan regulasi investasi, kepastian hukum proyek, serta peningkatan efisiensi BUMN akan menjadi sinyal positif bagi pasar. “Reformasi yang konsisten, meski tidak spektakuler, justru lebih dipercaya dibandingkan perubahan besar yang tidak berkelanjutan,” katanya.
Keenam, pengelolaan risiko politik dan persepsi pasar. Haidar menilai pasar sensitif terhadap potensi perbedaan arah di level elite pengambil kebijakan. Stabilitas komunikasi antar pemangku kepentingan diperlukan agar pasar melihat kesatuan arah dalam pengelolaan ekonomi.
“Program sosial berskala besar pun perlu dikomunikasikan dengan transparansi fiskal agar tidak dipersepsikan sebagai sumber tekanan baru terhadap anggaran,” ujarnya.
Ketujuh, strategi komunikasi untuk mengubah momentum negatif. Ia menilai respons rasional dan terbuka terhadap sorotan lembaga internasional akan lebih efektif dibandingkan sikap defensif.
“Mengakui catatan sebagai bagian dari evaluasi dan menunjukkan langkah korektif yang terukur akan memberi sinyal bahwa Indonesia sedang melakukan penyesuaian, bukan berada dalam krisis,” kata Haidar.
Ia menegaskan, kepercayaan investor dibangun oleh kesinambungan kebijakan dan sikap pemerintah dalam jangka panjang. “Ketika arah fiskal jelas, komunikasi stabil, institusi kuat, dan reformasi berjalan, sorotan negatif justru bisa menjadi momentum koreksi yang memperkuat posisi Indonesia di peta investasi global,” pungkasnya. (E-2)
Sejumlah ekonom menilai keberadaan Danantara Indonesia sebagai badan pengelola investasi negara berpotensi menjadi katalis penting bagi pendalaman pasar modal
Investor asing melepas modal dari Indonesia karena melihat fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai kurang baik, sehingga melepas modal dari Indonesia dan IHSG memerah.
Luhut tak sepakat perstiwa ini disebabkan karena tidak adanya kepercayaan dari investor. Sebab, jebloknya IHSG bisa terjadi di semua pasar saham.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved