PERGERAKAN harga emas dunia di pasar spot (XAU/USD) terpantau bergerak menyamping (sideways) pada perdagangan Jumat (30/1/2026) pagi waktu Asia. Logam mulia ini seolah "mengambil napas" di level US$4.815,40 per troy ounce setelah reli panjang akibat ketegangan geopolitik Arktik sepanjang Januari.
Para pelaku pasar global kini menahan aksi agresif (wait and see) menjelang rilis data pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Amerika Serikat nanti malam—data inflasi favorit The Federal Reserve untuk menentukan arah suku bunga Februari mendatang.
Data Perdagangan Spot (Real-time)
Posisi Harga Emas Spot (XAU/USD)
US$ 4.815,40 (-0,12%)
- Pembukaan: US$ 4.821,10
- Tertinggi Harian: US$ 4.835,00
- Terendah Harian: US$ 4.798,50
Sentimen Penggerak Pasar
Analis komoditas senior dari Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyebutkan bahwa koreksi tipis ini wajar terjadi (technical correction). "Pasar sedang mencerna de-eskalasi konflik AS-Greenland. Premi risiko perang sedikit berkurang, namun kekhawatiran fiskal AS tetap menjaga emas di atas lantai US$4.800," ungkapnya dalam catatan pagi.
Jika data PCE nanti malam menunjukkan inflasi AS masih membandel di atas 3%, ada potensi The Fed akan menunda pemangkasan suku bunga. Hal ini bisa memicu aksi jual jangka pendek (short selling) yang menyeret emas menguji level support di US$4.750.
Dampak ke Pasar Domestik
Meski harga dunia sedikit terkoreksi, harga emas di dalam negeri (Antam) masih relatif kokoh di kisaran Rp3,16 juta per gram. Hal ini disebabkan oleh nilai tukar Rupiah yang pagi ini masih tertekan di level Rp16.450 per Dolar AS.
Proyeksi Sore Ini: Emas dunia diprediksi akan bergerak volatil dalam rentang sempit US$4.800 - US$4.840 hingga data ekonomi AS dirilis pada pukul 20.30 WIB nanti.
