Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA saat ini menghadapi defisit minyak cukup besar. Kebutuhan nasional mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri baru berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Kondisi ini membuat Indonesia mengalami defisit sekitar 1 juta barel minyak per hari. Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah menyiapkan tiga strategi utama menggenjot lifting minyak dan gas bumi (migas).
Koordinator Eksploitasi Migas Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Maruf Afandi menjelaskan, strategi pertama adalah melakukan eksplorasi secara masif. Upaya ini dinilai mutlak diperlukan untuk menahan laju penurunan produksi migas yang secara statistik mencapai sekitar 20% per tahun.
"Sementara itu, upaya mempertahankan produksi dari lapangan eksisting hanya mampu menahan penurunan sekitar 5–10%," ujarnya dalam EITS Discussion Series VII 2025: Pemantik Bisnis Sektor ESDM 2026, Dari Hilirisasi Hingga Transis di Jakarta, Senin (15/12).
Strategi kedua, lanjut Maruf, dengan optimalisasi lapangan-lapangan produksi minyak yang sudah ada. Optimalisasi ini dilakukan melalui penerapan teknologi yang secara teknis memungkinkan, meskipun masih menghadapi tantangan.
Salah satunya adalah penerapan multi stage fracturing (MSF) pada sumur horizontal, terutama di reservoir berkualitas rendah. Pada kondisi ini, batuan reservoir memiliki kemampuan alir yang sangat terbatas sehingga perlu dilakukan rekahan agar minyak dan gas dapat mengalir dengan lebih optimal. Pemerintah juga mendorong penerapan enhanced oil recovery (EOR) untuk meningkatkan perolehan minyak dari sumur-sumur tua.
"Meski menantang, EOR memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi, bahkan hingga sekitar 15% dari produksi yang ada," kata Maruf.
Ia menegaskan mengingat pada umumnya cadangan yang terproduksi baru berkisar sepertiga hingga setengah dari total potensi, kombinasi teknologi MSF horizontal dan EOR diharapkan meningkatkan tingkat perolehan minyak hingga 60%–70%. Strategi ketiga adalah pemanfaatan kembali lapangan dan sumur migas yang saat ini berstatus idle atau menggangur.
Pemerintah, katanya, membuka peluang kerja sama dengan penyedia teknologi atau vendor yang tertarik mengoperasikan sumur-sumur tersebut melalui kolaborasi dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Opsi ini terus didorong sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi. Saat ini, khusus di Pertamina terdapat sekitar 4.500 sumur idle.
"Sebagian di antaranya telah ditawarkan untuk diaktifkan kembali, dan diharapkan pada awal tahun depan sekitar 100–150 sumur dapat mulai dioperasikan kembali," imbuhnya.
Pemerintah kemudian menyiapkan berbagai strategi agar Indonesia semakin menarik bagi investor migas. Langkah-langkah tersebut meliputi penyederhanaan perizinan, pemberian insentif, serta penyesuaian syarat dan ketentuan kontrak agar lebih kompetitif.
Pemerintah memberikan fleksibilitas dalam pemilihan skema kontrak, baik cost recovery maupun gross split, disertai dengan pembagian hasil yang lebih menarik bagi investor. Selain itu, insentif juga diberikan kepada kontraktor yang telah beroperasi, termasuk Pertamina, Petronas, BP, dan sejumlah perusahaan lainnya yang mengajukan insentif untuk kegiatan produksi migas.
Pemerintah juga berupaya memberikan keringanan pajak tidak langsung (indirect tax), bekerja sama dengan Kementerian Keuangan.
"Sejumlah kontraktor telah memperoleh pembebasan pajak tidak langsung pada tahap eksplorasi dan eksploitasi, sehingga semakin meningkatkan daya tarik investasi migas di Indonesia," ucapnya.
Dalam kesempatan sama, Tenaga Ahli Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Muhammad Kemal mengungkapkan, investasi eksplorasi migas Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2024, nilai investasi eksplorasi tercatat sebesar US$989 juta.
Tahun ini, angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar US$1,2 miliar atau naik sekitar 20%. Peningkatan investasi tersebut turut berdampak pada capaian sumber daya migas. Sepanjang tahun lalu, temuan contingent resources atau tambahan sumber daya mencapai 1,1 miliar barel setara minyak.
"Angka ini signifikan jika dibandingkan dengan total temuan sumber daya global yang hanya sekitar 5 miliar barel setara minyak, sehingga kontribusi Indonesia mencapai hampir 20% dari total temuan dunia," terang Kemal.
Ia menjelaskan, meskipun sebagian temuan tersebut berasal dari eksplorasi beberapa tahun sebelumnya yang baru dapat dikonfirmasi saat ini, capaian tersebut tetap menunjukkan posisi Indonesia yang kompetitif di tingkat global.
"Untuk tahun depan, SKK Migas masih menargetkan eksplorasi dalam skala besar, dengan nilai pre-drill investment mencapai US$2,6 miliar," tuturnya.
Dari sisi aktivitas pengeboran, Kemal mencatat adanya peningkatan signifikan sejak 2020. Jumlah sumur yang dibor meningkat dari 240 sumur pada 2020 menjadi 940 sumur pada tahun ini. Sementara itu, dari sisi proyek, SKK Migas mencatat percepatan realisasi. Tahun ini, sebanyak 16 proyek berhasil diselesaikan dari target awal 15 proyek.
"Percepatan ini berdampak positif terhadap kinerja produksi nasional," imbuhnya.
Kemal menegaskan, industri migas saat ini berada dalam kondisi yang sangat dinamis dan penuh tantangan, dipengaruhi oleh fluktuasi tren global maupun nasional. Meski demikian, peluang tetap terbuka lebar. Berbagai terobosan kebijakan, deregulasi, serta insentif terus didorong untuk membuka potensi migas nasional. (Ins/E-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved