Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
EKSPOR listrik hijau Medco Power Indonesia ke Singapura masih tertahan karena izin dari pemerintah Indonesia belum terbit. Direktur Utama Medco Power Indonesia Eka Satria berharap agar pemerintah segera mengeluarkan izin penuh agar ekspor listrik ke Negeri Singa dapat segera berjalan.
Rencana ekspor anak usaha MedcoEnergi itu akan diwujudkan melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Pulau Bulan, Kepulauan Riau. Proyek ini akan memiliki kapasitas 670 megawatt-peak (MWp) pada tahap awal, dan dirancang untuk menghasilkan suplai listrik setara 100 megawatt (MW) nonintermittent bagi pasar Singapura.
“Mudah-mudahan, doakan saja urusan izin ekspor dari Indonesia bisa secepatnya mendapat kejelasannya," ujarnya dalam acara National Media Engagement MedcoEnergi 2025 di Bandung, Sabtu (15/11).
MedcoEnergi sebelumnya telah memperoleh persetujuan dari Energy Market Authority (EMA) Singapura melalui anak usahanya, Pacific Medco Solar Energy (PMSE) pada Oktober 2021. Perusahaan mengantongi izin prinsip untuk pilot project kapasitas 100 MW. Kemudian, pada 8 September 2023, EMA memberikan conditional award untuk ekspor tambahan sebesar 600 MW.
Proyek ini diketahui dikembangkan bersama Konsorsium PacificLight Power Pte Ltd (PLP) dan Gallant Venture Ltd, bagian dari Salim Group. Eka menyampaikan Medco telah berdiskusi dengan sejumlah pembeli potensial di Singapura.
Namun, lanjutnya, proses ekspor listrik masih membutuhkan payung hukum yang lebih jelas. Saat ini pemerintah dan DPR tengah membahas Rancangan Undang-Undang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan sebagai dasar hukum terbaru bagi kegiatan ekspor.
“Untuk ekspor listrik, aturan teknisnya sedang digodok pemerintah agar dapat segera diselesaikan,” terang Eka.
Ia menjelaskan proyek ini dikerjakan bersama Kementerian ESDM. Berbagai masukan juga terus disiapkan agar ekspor listrik hijau nantinya memberikan manfaat maksimal bagi Indonesia, baik dari sisi ekonomi hijau, peningkatan devisa, maupun pengembangan industri nasional.
Eka menambahkan Indonesia memiliki potensi energi hijau mencapai 3.600 gigawatt, namun baru sekitar 0,6% yang dimanfaatkan. “Potensi ini cukup besar untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor sekaligus,” katanya.
Menurut Eka, pasar energi di Singapura memiliki karakteristik sebagai merchant market, tidak ada satu pembeli tunggal dan harga listrik sangat dipengaruhi dinamika pasar energi dan pasar karbon. Kondisi ini membuat harga relatif premium, namun disertai risiko fluktuasi.
"Market di Singapura itu unik dengan merchant market. Jadi, tidak ada one single buyer (pembeli tunggal). Berbeda dengan kita yang one single buyer," ucapnya.
Dalam kesempatan sama, Direktur & Chief Administrative Officer MedcoEnergi Amri Siahaan menegaskan strategi perusahaan dalam mengelola lapangan migas selalu mempertimbangkan keseimbangan keekonomian antara pasar domestik dan ekspor.
Ia mengatakan pembeli premium berada di luar negeri, dan harga yang lebih tinggi membantu mendukung keberlanjutan proyek serta kapasitas kami mengembangkan lapangan migas yang semakin menantang. Sementara, harga energi di dalam negeri relatif lebih murah, sehingga perusahaan harus cermat menyeimbangkan antara penjualan lokal dan ekspor agar proyek tetap ekonomis.
" Kita ingin proyek yang ada itu ekonomis, sehingga bisa dikembangkan," tuturnya.
Ia menjelaskan, tantangan utama saat ini adalah mengembangkan lapangan-lapangan yang semakin sulit dan cadangannya semakin terbatas.
“Dengan ukuran perusahaan, kemampuan, dan pengalaman yang kami miliki, MedcoEnergi masih mampu mengembangkan lapangan-lapangan tersebut,” ujarnya.
Ia mencontohkan lapangan Natuna semula dijadwalkan berhenti beroperasi pada 2023. Berkat eksplorasi tambahan di area sekitar dan efisiensi pengelolaan, umur produksi lapangan tersebut berhasil diperpanjang dan saat ini masih beroperasi.
Selain Blok Natuna yang sepenuhnya untuk ekspor dengan harga jual yang menguntungkan, Amri menekankan di beberapa koridor produksi, perusahaan tetap menjaga kombinasi pasokan domestik dan ekspor. Pendekatan ini, menurutnya, menjaga harga rata-rata sehingga proyek-proyek dapat terus dikembangkan dengan keekonomian yang baik.
“Kami ingin proyek-proyek ini ekonomis agar bisa terus dikembangkan. Caranya adalah menyeimbangkan distribusi antara pasar ekspor dan dalam negeri, karena pembeli premium di luar negeri membayar lebih tinggi, sementara pasokan domestik tetap dapat terbantu,” pungkas Amri. (E-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved