Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Repo BI Buka Jalan Bangkitnya Obligasi Tenor Panjang, SMF: Minat Investor akan Meningkat

 Gana Buana
15/11/2025 09:32
Repo BI Buka Jalan Bangkitnya Obligasi Tenor Panjang, SMF: Minat Investor akan Meningkat
Jajaran direksi SMF usai memberikan pemaparan laporan kinerja perusahaan.(Dok. MI)

PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) menilai kebijakan Bank Indonesia yang menetapkan obligasi SMF sebagai underlying transaksi Repurchase Agreement (repo) akan membuka kembali minat investor terhadap surat utang tenor panjang. Selama ini, surat utang dengan tenor panjang kurang diminati pasar.

Kepala Divisi Riset Ekonomi PT SMF, Martin Daniel Siyaranamual, menjelaskan bahwa pasar obligasi Indonesia cenderung hanya menyukai tenor 1-5 tahun, sementara tenor panjang 10-20 tahun jarang diperdagangkan. Sebab, tenor panjang, dianggap tidak likuid dan sulit diuangkan apabila bank membutuhkan dana cepat. Namun, masuknya obligasi SMF ber-rating idAAA sebagai instrumen repo BI mengubah dinamika tersebut.

“Ketika obligasi tenor panjang bisa direpokan ke BI, bank punya exit yang jelas. Mereka bisa mendapatkan likuiditas dengan cepat, sehingga minat memegang tenor 10-20 tahun akan naik,” kata Kepala Divisi Riset Ekonomi SMF, Martin Daniel Siyaranamual, Jumat (14/11).

Menurut SMF, repo BI menjadi insentif penting bagi perbankan dan investor institusi untuk kembali mempertimbangkan instrumen tenor panjang, yang selama ini dicap kurang fleksibel. Dengan opsi repo, tenor panjang menjadi lebih menarik dan likuid.

SMF menambahkan bahwa meningkatnya permintaan obligasi tenor panjang juga akan membantu pendalaman pasar keuangan nasional. Instrumen tenor panjang diperlukan untuk mendukung pembiayaan proyek jangka panjang, termasuk pembiayaan perumahan.

Masuknya obligasi SMF dalam fasilitas repo BI juga membuat perusahaan dapat menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif. Selama ini spread obligasi SMF terhadap SBN berada di kisaran 100-150 basis poin, namun dengan repo spread tersebut berpotensi turun menjadi sekitar 80 bps.

“Ketika cost of fund kami turun, kapasitas pembiayaan kami meningkat. Dampaknya langsung ke pembiayaan FLPP dan pembiayaan Griya Tunas,” jelas Martin.

Direktur Utama SMF, Ananta Wiyogo, menambahkan bahwa pengakuan BI terhadap obligasi SMF memperkuat stabilitas sistem keuangan sekaligus memperluas akses pembiayaan perumahan.

“Instrumen repo berbasis surat utang SMF memberi perbankan pilihan likuiditas yang lebih luas. Ini pada akhirnya memperkuat pembiayaan sektor perumahan secara sehat dan berkelanjutan,” ujar Ananta.

Hingga September 2025, SMF telah menyalurkan pendanaan Rp14,53 triliun untuk pembiayaan perumahan melalui skema sekuritisasi dan pembiayaan, serta menyalurkan Rp29,92 triliun porsi KPR FLPP sejak 2018, setara 797.120 unit rumah.

SMF menilai kebijakan repo BI akan menjadi katalis penting untuk menghidupkan kembali instrumen tenor panjang, sekaligus memberikan dukungan struktural bagi Program 3 Juta Rumah melalui penyediaan pendanaan jangka panjang yang lebih murah dan stabil. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik