Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA diharapkan jangan sampai ikut-ikutan Amerika Serikat (AS) yang keluar dari Perjanjian Iklim Paris (Paris Agreement). Sebaliknya, Indonesia tetap harus berada di jalur transisi energi karena itu merupakan perintah UU.
"Langkah Presiden AS Donald Trump tidak perlu ditiru Indonesia. Ada 200 negara yang meratifikasi Paris Agreement, dan negara-negara ini sejauh ini tidak keluar dari kesepakatan tersebut," ujar Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, Kamis (30/1).
Indonesia, sambungnya, justru perlu memperkuat ambisi memitigasi perubahan iklim dan bekerja sama dengan negara-negara kelompok G20 untuk mempercepat transisi energi. Apalagi agenda transisi energi di Indonesia merupakan amanat UU No 59/2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2025-2045, untuk mencapai Indonesia Emas 2045.
"Sudah seharusnya pemerintah lebih patuh menjalankan amanat UU ketimbang mengkuti langkah presiden negara lain," katanya.
Selain itu, Fabby berpandangan transisi energi mesti dilakukan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan daya saing dan mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi.
Senada dengannya, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan (Pushep) Bisman Bachtiar juga berpendapat Indonesia tidak perlu hengkang dari kesepakatan Paris Agreement.
"Langkah AS tersebut tidak perlu diikuti oleh Indonesia, karena Indonesia perlu tetap komitmen untuk mengatasi dampak perubahan iklim," imbuhnya.
Indonesia disebutnya juga memiliki potensi mendapatkan keuntungan besar dalam upaya pengurangan emisi karbon. Karena itu, pemerintah mesti meningkatkan investasi hijau guna menggenjot pendapatan negara.
"Pemerintahan Prabowo Subianto justru bisa memanfaatkan momentum ini untuk memainkan peran diplomasi agar peran Indonesia semakin strategis dan mendapatkan keuntungan dari transisi energi," ujar Bisman.
Kendati demikian, ia mengingatkan keluarnya AS dari Perjanjian Iklim Paris jelas memengaruhi pendanaan kepada negara berkembang dalam proyek energi baru dan terbarukan (EBT). Terlebih, AS menjadi salah satu pemimpin program Kemitraan Transisi Energi yang Adil atau Just Energy Transition Partnership (JETP).
"Keputusan AS jelas akan berpengaruh pada aspek pendanaan karena komitmen pendanaan juga dari AS," tutupnya. (Ins/E-2)
Dua laporan mengungkap emisi bahan bakar fosil mencapai rekor tertinggi, sementara komitmen negara-negara dunia dinilai belum cukup cegah pemanasan global ekstrem hingga 2,6°C.
Pertemuan antara Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, dan Menteri Iklim Inggris, Kerry McCarthy, menegaskan kembali komitmen kedua negara untuk mengatasi perubahan iklim.
SKK Migas mencatat Indonesia memiliki cadangan gas terbukti sebesar 54,76 Trilliun Standard Cubic Feet (TSCF).
Dua studi terbaru menunjukkan dunia kemungkinan besar telah melampaui ambang batas pemanasan global 1,5 derajat Celsius yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia tidak ingin terjebak dengan skenario kesepakatan iklim Perjanjian Paris atau Paris Agreement mengenai transisi energi.
Presiden AS Donald Trump resmi umumkan jadwal kunjungan ke Tiongkok untuk bertemu Xi Jinping. Kunjungan pertama dalam 10 tahun ini sempat tertunda akibat krisis Selat Hormuz.
Penasihat kebijakan luar negeri Trump menyebut AS tidak berkepentingan memperpanjang konflik dengan Iran lebih dari tiga bulan.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan Iran agar segera menerima kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang terus memanas di Timur Tengah.
Donald Trump menyebut negosiator Iran takut dibunuh rakyatnya sendiri jika mengaku berunding dengan AS. Di sisi lain, Iran sebut negosiasi adalah kekalahan.
Iran bantah klaim Donald Trump soal negosiasi damai. Dugaan manipulasi pasar mencuat setelah adanya lonjakan trading mencurigakan sebelum klaim Trump di media sosial.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkap adanya pesan dari AS melalui perantara. Di sisi lain, PBB peringatkan Lebanon jangan jadi 'Gaza kedua'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved