Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
PROYEK decentralized finance (DeFi) berkembang pesat sejak 2020, yang dikenal sebagai DeFi Summer. Banyak aplikasi DeFi bermunculan, menawarkan layanan keuangan alternatif dari sistem tradisional.
Dikutip dari Pintu Academy, DeFi adalah sistem keuangan terdesentralisasi berbasis teknologi blockchain yang dapat diakses oleh siapa saja tanpa perantara seperti bank.
DeFi menawarkan kesempatan besar untuk membuat aset keuangan bekerja secara produktif dan menghasilkan keuntungan. Cara menggunakannya pun mudah, cukup menghubungkan crypto wallet seperti Metamask dengan aplikasi decentralized (DApps).
Baca juga : Setiap Bulan Investor Kripto di Indonesia Bertambah 400 Ribu
Langkah pertama, pilih jaringan blockchain seperti Ethereum, Binance Smart Chain, atau Polygon, lalu buat crypto wallet. Wallet ini berfungsi sebagai penghubung dengan aplikasi DeFi.
Selanjutnya, beli cryptocurrency yang dibutuhkan untuk membayar biaya transaksi (gas fee) di dalam aplikasi. Misalnya, Ethereum (ETH) digunakan untuk membayar gas fee di jaringan Ethereum. Crypto dapat dibeli di platform seperti Pintu dan dikirimkan ke wallet yang sudah dibuat.
Setelah itu, pilih aplikasi DeFi sesuai kebutuhan. Berbagai layanan seperti pinjam-meminjam aset, staking, farming, atau perdagangan derivatif dapat dimanfaatkan.
Baca juga : Bappebti dan Pintu Kolaborasi Tingkatkan Literasi Aset Kripto
Sebagai contoh, di platform seperti Aave, pengguna dapat menyediakan aset seperti ETH sebagai jaminan untuk meminjam stablecoin seperti USDT. Prosesnya sederhana, cukup hubungkan wallet ke DApps Aave, pilih jumlah yang ingin disetorkan atau dipinjam, dan ikuti langkah-langkah konfirmasi transaksi.
DeFi memungkinkan akses layanan keuangan kapan saja, tanpa pembatasan jam operasi, serta memungkinkan pengelolaan aset secara mandiri tanpa campur tangan lembaga keuangan.
Namun, penting untuk memperhatikan risiko likuidasi dalam meminjam aset crypto, terutama dalam platform yang menggunakan sistem overcollateralized seperti Aave. Selalu pantau kondisi pasar dan kelola portofolio dengan bijak.
Menggunakan Pintu Web3 Wallet adalah salah satu cara mudah untuk berinteraksi dengan DeFi. Wallet ini mendukung berbagai jaringan blockchain dan memungkinkan akses ke berbagai DApps dalam satu wallet. (Z-1)
Integrasi ini memungkinkan pelanggan enterprise tidak hanya melihat ancaman siber, tetapi juga memahami risikonya dan mengambil langkah pencegahan lebih dini.
Bitcoin (BTC) adalah aset digital terdesentralisasi berbasis blockchain. Pelajari cara kerja, cara mendapatkan, serta risiko Bitcoin sebelum berinvestasi.
Dari sisi infrastruktur, prinsip blockchain digunakan untuk mencatat kontribusi setiap individu dalam sebuah proyek film secara transparan.
PERKEMBANGAN teknologi blockchain yang menjadi fondasi aset kripto dinilai berpotensi kuat menjadi medium baru bagi tindak pidana pencucian uang.
GELARAN Indonesia Blockchain Week (IDBW) 2025 resmi ditutup dengan capaian impresif.
Bitcoin (BTC) adalah aset digital dan mata uang kripto yang berjalan di jaringan peer-to-peer tanpa bank sentral, menggunakan blockchain untuk mencatat transaksi.
Volatilitas pasar adalah ukuran statistik yang menilai seberapa banyak dan seberapa cepat harga sebuah aset, seperti forex atau kripto, berubah dalam periode waktu tertentu.
Harga bitcoin (BTC) jatuh ke level US$60.000 pada Februari 2026. Simak analisis penyebab, dampak likuidasi US$1,8 miliar, dan strategi investasi DCA.
Growth Manager OKX Wallet, Ferry, menyatakan bahwa konsistensi perilisan PoR merupakan bukti stabilitas sistem yang mereka bangun di tengah dinamika pasar kripto.
PASAR aset kripto global sedang berada dalam fase volatilitas tinggi setelah bitcoin mengalami koreksi tajam ke kisaran level US$74.000 sebelum akhirnya melakukan rebound ke level US$77.000.
Suntikan modal raksasa ini diproyeksikan untuk mempercepat ekspansi global, khususnya di sektor pembayaran stablecoin dan akuisisi strategis.
OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mencatat sekitar 72 persen pedagang aset keuangan digital (PAKD) di Indonesia masih mengalami kerugian hingga akhir 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved