LISTRIK ialah penggerak ekonomi suatu negara. Melihat peranan strategis ini, pemerintah memang perlu merealisasikan megaproyek pembangunan pembangkit listrik 35 ribu megawatt (Mw). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengakui pentingnya megaproyek tersebut. Menurutnya, bila ekonomi ingin tumbuh antara 4%-5%, energi listrik harus tumbuh 1,5% kali lipat dari target pertumbuhan tersebut. "Kita punya 24 sistem kelistrikan Indonesia dan hanya 50% dari sistem kelistrikan itu yang relatif aman, sisanya dalam kondisi merah," kata Sudirman yang ditemui di Jakarta, Selasa (11/8). Untuk merealisasikan megaproyek 25 ribu Mw ini, untuk tahun pertama Menteri ESDM akan memfokuskan pembagian kerja antara PLN, IPP (independent power producer), dan pemerintah. Selain itu, juga disiapkan berbagai regulasi-regulasi yang ada mulai dari peraturan menteri (permen) hingga peraturan pemerintah (PP). Fokus utama lainnya ialah penyediaan lahan untuk pembangkit, transmisi, maupun gardu listrik. Untuk proyek 10 ribu Mw yang dikerjakan PLN saat ini 70% sudah dalam proses pengadaan dan sisanya masih dalam tahap perencanaan. Pihak swasta yang membangun proyek 25 ribu Mw sudah mencapai 81% proses pengadaan, 18% proses konstruksi, dan hanya 1% yang masih dalam tahap persiapan. "Jadi untuk tahun pertama bekerja saya merasa bahwa progress kita sangat baik, terutama dengan lahan yang sebagian besar sudah diamankan kemudian konstruksi juga sudah jalan bahkan pengadaan sebagian besar sudah dalam proses," papar Sudirman.
Agar elektrifi kasi merata secara nasional, PLN mendapat tugas membangun pembangkit listrik di luar Pulau Jawa atau area remote yang tidak diminati swasta. "Karena tugas negara menjangkau daerah yang sulit yang investor belum mau masuk. Di situ, PLN akan ambil peran," tandas Sudirman. Data dari pemerintah, dalam jangka lima tahun ke depan hingga 2019, PLN memiliki tugas membangun pembangkit 670 Mw di Nusa Tenggara, 260 Mw di Maluku, 2.000 Mw di Sulawesi, dan 220 Mw di Papua. Minat investasi Minat investor asing untuk turut serta dalam proyek kelistrikan di Indonesia sangat besar. Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) selama semester I 2015 telah teridentifikasi dan sedang menindaklanjuti minat investasi di bidang kelistrikan sebesar US$47 miliar. Tiongkok tercatat sebagai peminat terbesar dengan nilai sebesar US$40 miliar. "Bank-bank dalam negeri masih takut untuk membiayai proyek IPP. Hal itu terlepas dari tingkat suku bunga lokal yang masih tinggi," jelas Finance Manager PT Banten Lestari Energi (BLE) Danu Sambodo menanggapi besarnya minat asing masuk ke proyek listrik di Indonesia. Danu menjelaskan seharusnya bank-bank di dalam negeri juga harus mulai bergerak agar tidak tertinggal dengan bank-bank asing yang memang berani untuk membiayai proyek-proyek dari IPP. Menurutnya, saat ini baru Bank Mandiri yang baru mulai gencar memberikan kreditnya untuk proyek IPP. (Jes/X-10