Selasa 17 Januari 2023, 08:30 WIB

Pengertian Obligasi, Jenis, Contoh, dan Perbedaan dengan Saham

Meilani Teniwut | Ekonomi
Pengertian Obligasi, Jenis, Contoh, dan Perbedaan dengan Saham

MI/M IRFAN
Nasabah melakukan pembelian Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI 021 menggunakan super app OCTO Mobile dari CIMB Niaga di Jakarta.

 

INSTRUMEN dan produk investasi semakin banyak jenisnya dari tahun ke tahun. Jenis investasi yang saat ini digemari masyarakat di antaranya adalah saham dan obligasi. 

Pada umumnya, berinvestasi pada saham maupun obligasi memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mendapatkan keuntungan dari modal yang ditanamkan.  Namun, saat ini, masih terdapat banyak investor, khususnya pemula yang belum memahami perbedaan saham dan obligasi. Yuk, sobat MI simak, penjelasan di bawah ini.

Obligasi adalah surat utang jangka menengah maupun jangka panjang yang dapat diperjualbelikan. 

Baca juga: Pahami Investasi Jangka Pendek! Ini Jenis, Kelebihan, dan Kekurangannya

Obligasi diterbitkan oleh pihak berhutang kepada pihak yang berpiutang. Penerbitan obligasi disertai perjanjian untuk membayar kembali pokok utang beserta kupon bunganya pada waktu yang ditentukan.

Setelah memahami pengertian obligasi, kini Anda harus melek tentang jenis obligasi yang ada. Ini bermanfaat agar bisa memilih dengan baik jenis obligasi mana yang ingin Anda beli. Berikut penjelasannya.

Jenis Obligasi Berdasarkan Sisi Penerbit

Setiap badan hukum sebenarnya bisa menerbitkan obligasi. Namun, ada aturan yang mengikat agar tidak merugikan investor yang membeli obligasi dan perusahaan atau lembaga yang menerbitkan obligasi. Ini dia tiga jenis obligasi berdasarkan sisi penerbit:

1. Obligasi Pemerintah

Obligasi pemerintah adalah surat utang yang diterbitkan negara. Surat utang ini sah secara hukum dan dilindungi berbagai peraturan, termasuk undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri keuangan (PMK), dan lainnya.

Ini membuat obligasi pemerintah menjadi salah satu instrumen investasi yang paling diincar investor karena cenderung lebih aman dari risiko gagal bayar. Di Indonesia, obligasi jenis ini biasanya diterbitkan setiap 1 tahun sekali.

Ada beberapa jenis obligasi dalam obligasi pemerintah, yakni Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI), Sukuk Ritel (SukRi), Saving Bond Ritel (SBR), dan Sukuk Negara Tabungan (ST). Surat utang dengan nama depan sukuk berarti surat utang yang berbasis syariah.

2. Obligasi Korporasi

Obligasi korporasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh BUMN atau perusahaan swasta. Biasanya obligasi korporasi ini jatuh tempo dalam waktu yang cenderung pendek, minimal satu tahun.

Risiko obligasi korporasi akan lebih tinggi ketimbang obligasi pemerintah. Namun, ini tergantung kondisi perusahaan penerbit, pasar, hingga kondisi politik negara tempat perusahaan tersebut berdomisili.

3. Obligasi Pemerintah Daerah

Selanjutnya ada obligasi pemerintah daerah. Sesuai namanya, obligasi jenis ini diterbitkan oleh pemerintah daerah. Tujuannya adalah membantu pemerintah daerah dalam melakukan pembangunan.

Jenis Obligasi Berdasarkan Nominal

1. Obligasi Konvensional

Obligasi konvensional adalah surat utang yang mempunyai satuan nominal yang besar, kurang lebih Rp1 miliar per lot.

2. Obligasi Ritel

Sebaliknya, obligasi ritel adalah surat utang yang mempunyai nilai nominal kecil, misalnya Rp1 juta. Obligasi ini biasanya diterbitkan pemerintah, tapi korporasi juga bisa menerbitkannya.

Jenis Obligasi Berdasarkan Imbal Hasil

1. Obligasi Konvensional

Obligasi konvensional dalam jenis obligasi berdasarkan imbal hasil diartikan sebagai surat utang yang diterbitkan pihak tertentu untuk mendapat pinjaman. Nantinya, pinjaman akan digunakan sebagai tambahan modal dengan perjanjian memberikan imbal hasil atau bunga kepada investor dalam jangka waktu tertentu.

2. Obligasi Syariah

Obligasi syariah atau dikenal dengan nama sukuk adalah surat utang yang memberikan imbal hasil berupa uang sewa. Perhitungannya dilakukan berdasarkan prinsip syariah Islam, tanpa mengandung unsur riba. Imbal hasil akan dibayarkan secara berkala dalam periode tertentu. Sementara, peminjam akan melunasi pokok utang pada tanggal jatuh tempo.

Jenis Obligasi Berdasarkan Jaminan

1. Secured Bonds

Secured bonds adalah obligasi yang dijaminkan dengan kekayaan milik penerbit atau bisa juga dijaminkan pihak ketiga. Nantinya, dana penjualan obligasi akan digunakan untuk membeli aset tertentu lalu aset dipinjamkan ke perusahaan. Jenis obligasi ini dibagi menjadi tiga:

  • Mortgage bonds: surat utang dengan jaminan berupa gedung atau bangunan
  • Collateral trust bonds: surat utang yang dijaminkan dengan saham atau obligasi milik penerbit
  • Equipment trust certificate: surat utang yang digunakan untuk mendanai berbagai aset, seperti pesawat, gerbong kereta, atau truk.

2. Unsecured Bonds

Sementara, unsecured bonds adalah jenis obligasi yang tidak dijaminkan menggunakan kekayaan milik penerbit. Obligasi jenis ini dibagi menjadi tiga:

  • Debentures: Surat utang yang hanya diterbitkan perusahaan yang sudah terpercaya.
  • Subordinated debentures: Obligasi ini tidak akan dibayar jika obligasi yang lebih senior dibayarkan.
  • Income bonds: Surat utang diterbitkan yang mana perusahaan membayar bunga ketika memperoleh laba. Obligasi ini biasa untuk mereorganisasi perusahaan yang dianggap kurang berhasil.

Jenis Obligasi Berdasarkan Hak Penukaran

1. Obligasi Konversi

Obligasi konversi adalah surat utang yang memungkinkan pemegang surat utang untuk mengkonversinya menjadi saham perusahaan penerbit obligasi dengan rasio penukaran yang sudah disepakati sebelumnya.

Obligasi ini merupakan obligasi yang biasanya mempunyai tingkat kupon rendah karena investor dianggap telah diberi kemudahan untuk mengubah surat utangnya menjadi surat kepemilikan alias saham.

2. Obligasi Tukar

Obligasi tukar hampir mirip dengan obligasi konversi. Bedanya, dalam obligasi tukar pemegang surat utang bisa mengubah obligasi menjadi saham afiliasi penerbitnya. Misalnya, saham milik anak ataupun induk perusahaan.

3. Obligasi Opsi Beli

Selanjutnya ada obligasi opsi beli. Ini adalah surat utang yang memberikan hak kepada penerbit obligasi untuk membelinya kembali dari tangan investor sesuai harga yang disepakati. Artinya, investor bisa menawarkan harga lebih tinggi dari kupon yang dijanjikan pada saat pembelian obligasi tersebut.

4. Putable bonds

Obligasi ini lebih tegas dalam kewajiban membeli kembali obligasi dari tangan investor. Pada putable bonds, investor punya hak untuk mengharuskan penerbit obligasi untuk membeli kembali surat utangnya.

Jenis Obligasi Berdasarkan Pembayaran Bunga

1. Obligasi Kupon

Obligasi kupon adalah surat utang yang secara berkala memberikan bunga kepada pihak investornya. Kupon di sini berisikan nominal tertentu sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak sebelumnya.

2. Obligasi Tanpa Bunga (Zero Coupon Bonds)

Obligasi tanpa bunga adalah surat utang yang tidak ada bunga atau tidak memberikan kupon secara berkala. Investor yang membeli obligasi ini mendapat keuntungan dari selisih harga jual diskonto dan nilai yang tampak saat surat utang diperdagangkan.

3. Obligasi Kupon Tetap (Fixed Coupon Bonds)

Obligasi kupon tetap adalah surat utang yang menawarkan tingkat suku bunga tetap kepada investornya hingga jatuh tempo surat utang tersebut. Artinya, investor sudah bisa memastikan imbal hasil yang bakal diterima.

4. Obligasi Kupon Mengambang (Floating Coupon Bonds)

Kupon yang ditawarkan oleh jenis obligasi ini bisa berubah nilainya tergantung dengan indeks pasar uang. Pada obligasi ini, terdapat kupon batas minimal di dalamnya yang berarti kupon yang pertama ditetapkan akan menjadi besaran kupon minimal yang berlaku sampai waktu jatuh tempo.

Contoh obligasi

Berikut adalah contoh obligasi yang diterbitkan dan diperdagangkan di pasar modal:

1. Obligasi korporasi

Ini adalah obligasi berupa surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan swasta nasional termasuk BUMN dan BUMD.

2. Surat Utang Negara (SUN)

Surat Utang Negara (SUN) atau surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah sesuai dengan UU No.24/2002.

3. Sukuk Korporasi

Ini merupakan instrumen berpendapatan tetap yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah sesuai ketentuan Bapepam & LK Np. IX.A.13 tentang Efek Syariah.

4. Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)

Ini merupakan surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah berdasarkan syariah Islam sesuai dengan Undang-Undang No.19/2008 Tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

5. Efek Beragun Aset (EBA)

Efek Beragun Aset (EBA) adalah efek bersifat utang yang diterbitkan dengan Underlying Asset sebagai dasar penerbitan.

Keuntungan obligasi

  • Berikut ini beberapa keuntungan yang bakal kamu dapat dari investasi obligasi. Walau potensi untung tidak sebesar saham, obligasi lebih aman. Berikut beberapa keuntungannya.
  • Mendapatkan kupon atau nisbah secara periodik dari efek bersifat utang yang dibeli. Tingkat kupon atau nisbah lebih tinggi dari bunga Bank Indonesia (BI Rate). Jadi, jelas sekali keuntungan surat utang adalah lebih besar ketimbang deposito.
  • Memperoleh capital gain (keuntungan dari penjualan aset modal yang harganya lebih tinggi)
  • Tingkat imbal hasil sudah diperhitungkan pada awal investasi
  • Banyak pilihan seri efek bersifat utang yang bisa dipilih investor di pasar sekunder (efek yang dijual lagi oleh investor di BEI).
  • Jika yang kamu miliki surat utang negara, sudah pasti terjamin sehingga kamu tak perlu khawatir soal keamanannya. Semua tercantum di UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara atau UU Nomor 24 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara. Untuk itu pasti dibayar kembali ditambah dengan return (kupon)
  • Kupon obligasi memiliki nilai yang lebih tinggi daripada keuntungan bunga deposito. Hal ini bisa bikin kamu memilih berinvestasi lewat surat utang karena keuntungannya maksimal.
  • Surat utang bisa kamu jadikan sebagai jaminan dan agunan. Jadi, kamu bisa gunakan untuk mengambil pinjaman ke bank atau beli saham di bursa efek

Perbedaan antara obligasi dan saham

Baik saham maupun obligasi memiliki caranya masing-masing dalam menumbuhkan dana yang investor tanamkan. Perusahaan harus melakukan keseimbangan antara dua jenis pendanaan untuk memastikan struktur modal yang tepat untuk bisnis. Berikut merupakan perbandingan faktor-faktor yang terdapat pada saham dan obligasi.

1. Bentuk Kepemilikan

Perbedaan yang paling mendasar antara saham dan obligasi adalah bentuk kepemilikannya.  Saat investor berinvestasi melalui saham, maka investor akan menjadi bagian pemilik dari perusahaan tersebut.  Sebagai pemegang saham investor dapat mengklaim kepemilikan pada perusahaan tersebut serta dapat hadir ke Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Sementara obligasi adalah bentuk hutang yang dijanjikan oleh entitas penerbit untuk dilunasi dalam periode tertentu. Investor yang berinvestasi pada obligasi tidak memiliki kepemilikan atas perusahaan atau penerbit yang mengeluarkan surat hutang. 

2. Keuntungan

Selanjutnya, perbedaan antara saham dan obligasi adalah bagaimana instrumen tersebut menghasilkan keuntungan. Dalam saham, keuntungan yang bisa kamu dapatkan adalah capital gain yang didapat dari selisih harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga beli. Selain itu, investor juga akan menerima pembagian hasil keuntungan perusahaan yang biasa disebut dengan dividen.

Di sisi lain, keuntungan yang bisa kamu dapatkan dari berinvestasi obligasi adalah kupon. Umumnya kupon obligasi lebih tinggi daripada bunga dari deposito perbankan. Selain itu, pemegang obligasi juga dapat memperjualbelikan yang dimilikinya di pasar sekunder dan akan memperoleh keuntungan berupa capital gain sama seperti saham.

3. Risiko

Meskipun tujuan berinvestasi adalah mendatangkan keuntungan namun investor tetap harus mewaspadai beberapa risiko saat berinvestasi. Investasi saham sebenarnya memiliki tingkat resiko yang lebih tinggi dibandingkan obligasi karena harga saham memiliki tingkat fluktuasi yang sangat tinggi bergantung pada sentimen pasar. Sehingga harga saham terus berubah mengikuti situasi yang terjadi di bursa. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan risiko kerugian atau capital loss yaitu kondisi dimana kamu harus menjual saham dengan harga lebih rendah daripada harga beli.

Sedangkan risiko yang paling sering ditemui dalam obligasi adalah risiko likuiditas. Investor akan mengalami risiko likuiditas jika obligasi sulit untuk dijual kembali dalam waktu singkat. Investasi obligasi dinilai tidak cukup likuid karena dana investasi ditahan dalam rentang waktu tertentu. Jika investor ingin menjual kembali obligasi tersebut sebelum jatuh tempo, maka akan terdapat potensi kerugian oleh investor. (OL-1)

Baca Juga

Antara/Teguh Prihatna

Tahun Ini, Kemenhub Selenggarakan 177 Trayek Angkutan Laut

👤Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 27 Januari 2023, 10:33 WIB
Trayek tersebut terdiri dari 39 trayek kapal barang tol laut, 116 trayek kapal perintis, enam trayek kapal khusus angkutan ternak dan 16...
Dok. BRI

BRI Microfinance Outlook 2023: Peran Strategis BRI Akselerasi Inklusi Keuangan & Praktik ESG di Indonesia

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 27 Januari 2023, 10:00 WIB
Menurutnya, BRI sebagai bank UMKM dengan mayoritas nasabah berada di daerah rural memiliki tangggung jawab besar untuk mewujudkan tujuan...
Dok Antam

Harga Emas Batangan Antam Kembali Turun

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 27 Januari 2023, 09:20 WIB
Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam yang dipantau dari laman logammulia.com pada Jumat pagi, kembali turun...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya