Kamis 12 Januari 2023, 20:55 WIB

IEA: Dunia Masuki Era Baru Manufaktur Energi Bersih

Ferdian Ananda Majni | Ekonomi
IEA: Dunia Masuki Era Baru Manufaktur Energi Bersih

AFP/Ben Stansall.
Panel surya dipotret di Lenham Solar Farm dekat Maidstone, Inggris tenggara, pada 6 Januari 2023.

 

DUNIA berada pada era industri baru manufaktur teknologi energi bersih. Nilainya akan naik tiga kali lipat pada 2030 dan menciptakan jutaan lapangan kerja.

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan, pasar global untuk teknologi utama yang diproduksi secara massal termasuk panel surya, turbin angin, baterai kendaraan listrik, pompa panas, dan elektroliser untuk hidrogen akan bernilai sekitar US$650 miliar per tahun pada akhir dekade ini, sebagaimana prediksi IEA dalam laporan. Angka tersebut lebih dari tiga kali lebih besar dari level saat ini tetapi tergantung pada negara-negara yang sepenuhnya menerapkan janji energi dan iklim mereka.

Pekerjaan terkait dalam manufaktur energi bersih akan meningkat lebih dari dua kali lipat dari enam juta menjadi hampir 14 juta pada 2030. "Dunia energi berada di awal era industri baru, era manufaktur teknologi energi bersih," kata IEA.

Namun organisasi yang berbasis di Paris itu memperingatkan bahwa konsentrasi ekstraksi sumber daya dan manufaktur menimbulkan risiko pada rantai pasokan. Tiga negara menyumbang 70% dari kapasitas manufaktur untuk teknologi surya, angin, baterai, eletrolyser, dan pompa panas, dengan Tiongkok dominan di semuanya.

Republik Demokratik Kongo menghasilkan lebih dari 70% kobalt dunia. Tiga negara yakni Australia, Cile, dan Tiongkok menyumbang lebih dari 90% produksi litium global, sumber utama baterai kendaraan listrik.

Ketegangan rantai pasokan berisiko membuat transisi energi menjadi lebih sulit dan mahal, tambah laporan itu. Pertama, kenaikan harga kobalt, litium, dan nikel pada 2022 menyebabkan kenaikan harga global baterai kendaraan listrik hampir 10%. Biaya membangun turbin angin di luar Tiongkok juga merangkak naik setelah bertahun-tahun mengalami penurunan harga, sementara tren serupa memengaruhi panel surya. 

Direktur eksekutif IEA Fatih Birol mendesak negara-negara untuk mendiversifikasi rantai pasokan, mengutip ketergantungan Eropa pada gas Rusia sebagai contoh utama potensi gangguan yang disebabkan oleh ketergantungan yang berlebihan pada satu sumber perdagangan. "Seperti yang telah kita lihat dengan ketergantungan Eropa pada gas Rusia, ketika Anda terlalu bergantung pada satu perusahaan, satu negara, atau satu rute perdagangan, Anda berisiko membayar mahal jika ada gangguan," katanya. Birol juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional, karena tidak ada negara yang merupakan pulau energi dan transisi energi akan lebih mahal dan lambat jika negara tidak bekerja sama. (AFP/OL-14)

Baca Juga

Dok.SIG

SBI Raih Juara Pertama Investment Award 2023

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 04 Februari 2023, 22:38 WIB
Investasi Pabrik Tuban dinilai perbaiki lingkungan, sosial, dan...
MI/USMAN ISKANDAR

Kondisi Politik akan Menentukan Geliat Ekonomi

👤Ficky Ramadhan 🕔Sabtu 04 Februari 2023, 18:38 WIB
Para pengusaha ataupun investor juga akan melihat dari track record calon Presiden tersebut untuk menjadi pertimbangan bagi para investor...
ANTARA

Kepemimpinan Kuat Erick Thohir Sedot Investor Besar Dari Luar Negeri

👤Widhoroso 🕔Sabtu 04 Februari 2023, 18:23 WIB
BUAH kepemimpinan Erick Thohir tiga tahun menahkodai Kementerian BUMN menuai banyak hasil gemilang. Berkat kebijakan Erick Thohir, sejumlah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya