Kamis 29 Desember 2022, 18:17 WIB

Sejak Awal Tahun IHSG Masih Tumbuh 4,09%

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Sejak Awal Tahun IHSG Masih Tumbuh 4,09%

ANTARA FOTO/Reno Esnir
Karyawan mengamati layar pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2020).

 

KEPALA Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi mengatakan di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan global yang berpotensi memberikan dampak pada pasar keuangan domestik, kinerja Pasar Modal Indonesia sepanjang tahun 2022 masih tumbuh positif meski diwarnai gejolak fluktuasi pasar diikuti pelemahan bursa secara global terlebih dalam 1 bulan terakhir.

Namun secara umum kinerja pasar modal secara year to date masih mencatatkan pertumbuhan yang positif. Hingga 28 Desember 2022, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di posisi 6.850,52 poin, tumbuh 4,09%, meski melambat dari pertumbuhan tahun lalu yang mencapai 10%.

Baca juga: Pos Indonesia Rilis Obligasi Senilai Total Rp 500 Miliar

Kinerja IHSG tahun 2022 ini merupakan yang tertinggi kedua setelah Singapura, jika dibandingkan dengan seluruh kinerja pulsa ASEAN.

Sebelumnya IHSG juga pernah berada di tingkat pertama di kawasan ASEAN dan regional serta peringkat ketiga dunia pada November 2022. Tahun 2022, pertumbuhan IHSG pernah menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah yakni di level 7.301 pada 13 September 2022.

Sementara itu nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 9.509 triliun, tumbuh 15,8% (ytd). Pada tanggal 27 Desember 2022 kapitalisasi pasar di BEI mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah yakni sebesar Rp 9.600 triliun.

Sedangkan kinerja reksadana per tercatat masih turun. Penyebabnya karena beberapa faktor, terutama terkait kebijakan shifting unit link instrumen keuangan lain di luar reksadana. Hingga 27 Desember 2022, total NAB reksadana secara year to date minus 12,58% dari Rp 578,44 triliun per 30 Desember 2021, menjadi Rp 505,69 triliun.

Sementara itu, jumlah produk reksa dana per 28 Desember 2022 ikut turun, dari 2.198 produk pada 30 Desember 2021, menjadi 2.143 atau minus 2,5%.

Penurunan reksadana tersebut berdampak pada nilai keseluruhan dari Asset Under Management (AUM Per 27 Desember 2022 nilai tercatat AUM turun 2,49% dari sebelumnya sebesar Rp 850,73 triliun menjadi Rp 829,56 triliun.

"Meski begitu, seiring dengan telah pulih aktivitas ekonomi domestik, aktivitas penghimpunan dana melalui pasar terus meningkat," kata Inarno dalam pertemuan akhir tahun pasar modal Indonesia, Kamis (29/12).

Hingga 28 Desember 2022, OJK telah mengeluarkan surat pernyataan efektif atas pernyataan dalam rangka penawaran umum untuk 224 penawaran yang terdiri dari 57 penawaran umum perdana saham, 44 penawaran umum terbatas, 123 penawaran umum efek bersifat utang/ sukuk, dengan total keseluruhan nilai hasil penawaran umum sebesar Rp266,41 triliun. Dari 224 kegiatan itu, emiten baru yang melantai di Bursa Efek sebanyak 63 emiten.

Di samping itu dalam perkembangan pasar modal syariah, terjadi peningkatan nilai indeks saham syariah, maupun nilai kapitalisasi pasar syariah secara year to date.

Per tanggal 28 Desember 2022 Indeks saham Syariah Indonesia ditutup ada 218,3 poin, naik atau sebesar 15,53% dibandingkan posisi per 30 Desember 2021 sebesar 189,02 poin.

Sementara kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp4.801,27 triliun meningkat sebesar 20,52% (ytd), dibandingkan posisi per 30 Desember 2021 yaitu Rp 3.983,65 triliun.

Selanjutnya, pasca diterbitkannya POJK Nomor 57 tahun 2020 tentang Securities Crowd Funding (SCF), penghimpunan dana securities crowdfunding terus menunjukkan pertumbuhan yang pesat.

Per 28 Desember 2022 jumlah total pengimpunan dana secara nasional melalui SCF telah berhasil dimanfaatkan oleh 334 pelaku UMKM dengan total dana yang dihimpun sebesar Rp713,29 miliar dari 135.778 investor melalui 13 platform penyelenggara SCF.

Pertumbuhan jumlah emiten dan SCF ini diikuti oleh pertumbuhan jumlah investor ritel yang meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan 5 tahun terakhir.

Sejak tahun 2020, pertumbuhan jumlah investor Pasar Modal setiap tahunnya lebih dari 2,5 juta sehingga per 28 Desember 2022 menembus 10,3 juta SID. Pertumbuhan jumlah investor saat ini masih didominasi oleh investor berusia di bawah 30 tahun yang mencapai 58,74%.

"Ini pertanda bagus bagi perekonomian Indonesia dengan sejak usia dini sudah mulai melek investasi," kata Inarno. (OL-6)

Baca Juga

Ist

Lima Cara Meriset Produk Unggulan untuk Tingkatkan Omzet Penjualan

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 09 Februari 2023, 12:24 WIB
Riset produk dapat menjadi cara untuk melihat perkembangan kompetitor sehingga Anda dapat mengembangkan produk dan layanan dengan lebih...
MI/Henri

Swiss Tertarik Kerja Sama Bangun IKN

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Kamis 09 Februari 2023, 12:09 WIB
DUTA Besar Swiss untuk Indonesia Olivier Zehnder menyatakan ketertarikan negaranya untuk kerja sama dengan pemerintah Indonesia dalam...
MI/Ramdani

Menkop UKM: Revisi UU Perkoperasian Agar Tidak Ada Penjahat Keuangan di Koperasi

👤Despian Nurhidayat 🕔Kamis 09 Februari 2023, 11:46 WIB
MENTERI Koperasi dan UKM Teten Masduki menegaskan rencana pemerintah untuk melakukan revisi Undang-Undang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya