Selasa 08 November 2022, 18:50 WIB

BI Diingatkan Jangan Agresif Naikkan Suku Bunga Acuan

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
BI Diingatkan Jangan Agresif Naikkan Suku Bunga Acuan

MI/Susanto.
Logo Bank Indonesia.

 

BANK Indonesia (BI) selaku otoritas moneter mesti cermat dalam mengambil kebijakan suku bunga acuan. Jangan sampai langkah yang diambil terlalu agresif dan justru berdampak buruk bagi perekonomian.

"Kalau inflasi cenderung tidak tinggi ke depan dengan outlook di bawah 6%, seharusnya dalam menaikkan suku bunga harus moderat, untuk mengimbangi saja," kata Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto dalam rilis pers bertema Waspada Perlambatan Ekonomi Akhir Tahun secara daring, Selasa (8/11). "Kalau agresif, implikasinya ialah pertumbuhan ekonomi kita terhambat dengan cara kita sendiri, dengan disengaja. Jadi kalau pun harus naik, itu harusnya level moderat, apalagi kalau inflasinya tidak naik. Ini karena sektor riil butuh suplai kredit yang cukup untuk memastikan terhindar dari pelambatan ekonomi," tambahnya.

Naiknya suku bunga acuan bank sentral tak dipungkiri bakal mengerek tingkat bunga kredit perbankan. Dikhawatirkan tingginya bunga acuan BI akan memperketat likuiditas perbankan dan menghambat penyaluran pinjaman yang saat ini memiliki tren bertumbuh.

Per September 2022, misalnya, tingkat penyaluran kredit perbankan berada di level 10,8%. Di satu sisi, ini menggambarkan pulihnya perekonomian lantaran aktivitas konsumsi bertumbuh. Namun di saat yang sama tingkat Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami penurunan dari 8,2% di Agustus 2022 menjadi 7,2% di bulan berikutnya.

"Kalau posisi demikian, artinya besar kemungkinan memang akan ada perang bunga (perbankan) untuk menjaga likuiditas, mengupayakan ada lebih di dalam likuiditasnya, sehingga bank menaikkan bunga. Ini sejalan dengan tren global. Ini ke depan tidak bisa dihindari," kata Eko.

Baca juga: Ekonomi Indonesia Diprediksi Melambat pada Triwulan IV

"Kalau bunga (perbankan) naik, otomatis lama kelamaan akan memperlambat permintaan kredit dan berakhir pada perlambatan ekonomi. Jadi kalau ada penyesuaian kebijakan suku bunga (BI), itu harus moderat dengan melihat inflasi," tambahnya.

Menyoal resesi dunia, Indef meyakini Indonesia tak akan mengalami hal serupa. Namun itu bukan berarti Indonesia jemawa lantaran sejumlah tantangan menanti di depan mata.

Perlambatan ekonomi diperkirakan tetap terjadi meski tak akan bermuara pada resesi. Namun kewaspadaan tetap diperlukan agar yang terjadi pada ekonomi global tak merembes ke dalam negeri. (OL-14)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Harga BBM Nonsubsidi Terbaru, Shell dan Vivo Lebih Mahal

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 18:56 WIB
Awal Desember 2022, sejumlah SPBU, termasuk swasta menaikkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis...
Antara/Akbar Nugroho Gumay.

Babak Baru Penyerahan PI 10% Blok Rokan ke Pemda Riau

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 18:12 WIB
Ditargetkan produksi minyak di Blok Rokan bisa mencapai 170 ribu barel per hari (BOPD) pada akhir...
Antara

Di Tengah Ancaman Resesi Global, Indonesia Jadi Magnet Investasi

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 17:01 WIB
Mudrajad mendukung arahan Presiden Joko Widodo, yang meminta jajarannya agar tidak mempersulit...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya