Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Perindustrian (Kemenperin) dan Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) menunggu kebijakan terkait dengan antidumping terigu dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang seharusnya ada sejak dua bulan lalu. Ketua Umum Aptindo Franciscus Welirang mengatakan pihaknya sudah merekomendasikan masalah itu ke Kemenkeu, tapi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) antidumping masih tertunda. "Kita melaporkan ada proses antidumping yang sebetulnya sudah final, tapi sudah dua bulan kita menunggu apakah ada bermacam-macam argumentasi, mungkin ini di BKF (Badan Kebijakan Fiskal), Bappenas, dan Kementerian Keuangan. Saya takut kalau dikeluarkan saat Lebaran, malah harganya naik," ungkapnya di Kemenperin, Jakarta, Rabu (22/6).
Inti dari adanya kebijakan antidumping itu, menurut Franky, ialah terciptanya fair trade bagi industri baru. Bea Masuk Antidumping (BMAD) itu diajukan kepada Turki, Sri Lanka, dan India. Akan tetapi, Direktur Jenderal Industri Argo, Panggah Susanto, menambahkan satu negara lagi, yakni Ukraina. "Terkait dengan penyelidikan antidumping, sudah sangat jelas mengindikasikan adanya dumping dari negara-negara yang kita tengarai melakukan dumping, yakni Turki, Sri Lanka, India, dan Ukraina. Indikasinya sangat jelas, harga terigunya lebih rendah daripada harga gandum," jelas Panggah.
Perbuatan itu, kata Panggah, harus dikenai penalti karena jika tidak ada kebijakan antidumping, berarti pemerintah Indonesia membenarkan perlakuan untrade fair. Panggah mengatakan pemberian penalti sudah diperbolehkan semua negara dan Indonesia yang sudah jelas-jelas mengalami unfair trade semestinya bisa segera memberlakukan BMAD.
Besaran BMAD itu enggan ia kemukakan karena tidak semua perusahaan dikenakan. "Sekarang ini ada sekitar 30 perusahaan skala besar dan kecil. Kalau tidak diberlakukan, yang kecil enggak tahan dan bisa tutup duluan." Berdasarkan data BPS, impor gandum Indonesia pada kuartal I 2016 mencapai 2,923 juta metrik ton, meningkat ketimbang periode yang sama 2015, yakni 1,680 juta metrikton.
Impor dari Turki hingga kuartal I 2016 mencapai 56,4%, Ukraina 17,2%, India 3%, dan Sri Lanka 11,4%. Sementara itu perbedaan, harga gandum dan tepung terigu sampai kuartal I 2016 berdasarkan Komisi Antidumping Indonesia (KADI) berbeda tipis. Harga gandum mencapai US$306,1 per metrik ton, sedangkan harga tepung terigu impor mencapai US$299,5 per metrik ton.
Pabrik beroperasi
Di sisi lain, Aprindo melaporkan kepada Kementerian Perindustrian bahwa ada tiga pabrik baru tepung terigu yang sudah beroperasi pada tahun ini. "Kami bertemu dengan Pak Menteri melaporkan pengembangan industri terigu di Indonesia. Di tahun ini, ada tiga (pabrik tepung terigu) yang jalan, satu di Medan, satu di Banten, satu di Jawa Barat," ungkap Ketua Umum Aptindo Franciscus Welirang.
Lebih detail, tiga pabrik itu ialah PT Nutrindo Bograsa (Mayora Group) di Cilegon, Banten, PT Paramasuka Gupita (Wings Group) di Marunda, Jakarta, dan PT Cerestar FM di Medan, Sumatra Utara. Ketiga pabrik itu memiliki kapasitas produksi hingga 1.500 ton gandum giling per hari. Secara nasional, tiga pabrik itu merupakan bagian dari 30 pabrik tepung terigu yang ada di Indonesia dengan kapasitas giling 11 juta ton gandum giling per tahun. "Lalu kita melaporkan impor gandum di kuartal I hingga Maret mencapai 2,9 juta ton. Di dalamnya 800 ribu ton untuk feed mill dan terigu 2,1 juta ton. Permintaan tumbuh," lanjutnya.
(E-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved